BeritaPendidikan

Wartawan Harus Memiliki Karya Jurnalistik, FWLM Gelar Diskusi dan Pelatihan

×

Wartawan Harus Memiliki Karya Jurnalistik, FWLM Gelar Diskusi dan Pelatihan

Sebarkan artikel ini
Wartawan Harus Memiliki Karya Jurnalistik, FWLM Gelar Diskusi dan Pelatihan
Foto: Absa,

Jember, Radar-X.Net – Untuk menunjang dan menciptakan wartawan yang bermutu dalam karya Jurnalistiknya, Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember terus melakukan pendidikan dan pelatihan terhadap anggotanya yang terdiri dari berbagai media, Sabtu (19/3/2016), bertempat di Aula Pemkab Jember, puluhan wartawan dari berbagai media mengikuti pelatihan yang dihadiri oleh Hadianto fotografer Kantor berita Antara Jakarta.

Ihya Ulumudin, selaku ketua FWLM mengatakan, bahwa tujuan diadakan pelatihan ini untuk meningkatkan mutu wartawan yang tergabung sebagai anggota forum, terlebih hampir 90% anggota forum adalah wartawan dari media mingguan yang selama ini ‘termarginalkan’.

“Tujuan diadakan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan anggota FWLM dalam berkarya dibidang Jurnalistik, disamping itu, kegiatan ini juga untuk memfilter keberadaan wartawan yang selama ini banyak dikeluhkan oleh pejabat pemerintah sebagai wartawan abal-abal,” ujar wartawan Memo X ini, dalam sambutannya.

Udik panggilan akrab Ihya Ulumudin menjelaskan, bahwa tidak sedikit dari wartawan mingguan yang ada di Jember keluar dari kodratnya sebagai jurnalis, dan menciderai profesi wartawan, “Saya pernah mendengar ada wartawan mendatangi salah satu pejabat di Jember pagi hari, ketika ditanya tujuannya ternyata hanya untuk ‘silaturrahmi’ dan ini sudah tidak dibenarkan, dan forum dibentuk juga untuk memfilter keberadaan mereka,” tambah udik.

Gangsar Widodo, yang juga pimred Tabloid Sorot, serta Basoka Shonata mengapresiasi kegiatan ini, bahkan dirinya juga ikut terlibat dalam pelatihan ini, menurut Gangsar, bahwa tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk memutuskan menjadi wartawan, karena wartawan adalah profesi, tapi untuk menjadi wartawan yang profesional perlu adanya filter dan kualifikasi. Dirinya melihat FWLM bisa dikatakan sebagai candra dimukanya wartawan.
“Kita tidak bisa melarang orang untuk menjadi wartawan, apalagi profesi wartawan merupakan profesi yang terhormat, namun sejak era reformasi, banyak oknum yang menyalah gunakan profesi ini untuk melakukan pemerasan maupun menakut-nakuti pejabat, dan ketika ada forum seperti ini, teman-teman wartawan bisa di latih dulu sebelum benar-benar menjadi wartawan yang profesional dan ini tanggung jawabnya ada di forum,” tegas Gangsar.

Gangsar menambahkan, bahwa sejak era reformasi jumlah wartawan dan media lokal di jember terus bermunculan, dan tidak ada yang bisa melarang kegiatan mereka, tapi untuk menciptakan wartawan yang profesional dan melatih mereka, itu tanggung jawab bersama, terlebih bagi mereka yang sudah dianggap senior. Gangsar juga mengutip UU no 40 tahun 1999 tentang pers pasal 1 ayat 4, bahwa yang dinamakan wartawan adalah mereka yang secara teratur melakukan kerja jurnalistiknya, sedangkan dari sekian ratus wartawan yang ada di jember, yang bisa menunjukkan karyanya sebagai jurnalis bisa dihitung jari, “Kalau dilihat dari setiap hari orang yang mengaku wartawan dilingkungan pemkab ada puluhan bahkan kalau menjelang lebaran ada ratusan, tapi ketika ada kegiatan seperti ini hanya puluhan, dan saya melihat yang hadir inilah yang serius ingin menjadi wartawan,” tambah Gangsar.

Hadianto, sendiri dalam kegiatan ini lebih banyak memberikan pemahaman tentang tugas dan profesi jurnalis, menurut pria asli jember ini, seorang wartawan harus bisa melihat, membaca apa yang dilihat, serta menulis apa yang dibaca dan dilihat, untuk disampaikan kepada orang lain, “Tugas wartawan adalah menyampaikan apa yang dilihat kepada khalayak, serta setiap karya tulisnya harus mengandung visi dan misi, visinya mengajak pembaca untuk larut dan seperti melihat sendiri dengan membaca tulisan kita, misinya mereka tersentuh dan memahami apa yang sudah dibaca,” ujar wartawan yang pernah bertugas di Istana Negara sejak orde baru hingga era reformasi ini.

Hadianto juga menyoroti karya jurnalis era reformasi, dalam era reformasi, karya jurnalis sudah banyak yang kebablasan dalam menuangkan tulisan, berbeda jika dibandingkan dengan era orde baru, pada era orde seorang wartawan dalam menulis dilarang menulis secara vulgar pada sebuah peristiwa yang mengakibatkan traumatik pada orang yang menjadi objek berita.

“Saat ini penulisan wartawan di era reformasi sangat vulgar dan sudah kebablasan, seperti contoh ketika ada kasus perkosaan atau kecelakaan, saat ini wartawan bisa menulis dan menceritakan secara vulgar bagaiman korban diperkosa dan bagaimana korban kecelakaan meninggal secara terinci, dan hal ini dampaknya juga tidak baik untuk korban dan akan menimbulkan trumatik, tapi di era orde baru wartawan hanya boleh menulis korban diperkosa tanpa harus menceritakan secara detail kronologi kejadiannya,” ujar Totok panggilan akrab Hadianto.

Hadianto berharap, dengan adanya pelatihan seperti ini, mutu dan kualitas wartawan di Jember juga terus baik serta berkualitas, sehingga ketika mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) mereka benar-benar siap dan bisa lulus memuaskan, “Kalau wartawan yang baru dididik dan terus dilatih, niscaya kualitasnya juga akan baik,” tambah Totok.

Totok juga berharap kepada instansi untuk tidak menolak menemui wartawan yang belum ber-UKW, sebab menurutnya UKW memang diperlukan dan wartawan yang sudah ber-UKW itu menunjukkan kualitasnya, sedangkan mereka yang belum ber-UKW sedang dalam proses untuk menjadi wartawan berkualitas.
“Saya kira kalau ada pejabat yang menolak menemui wartawan yang tidak ber-UKW itu salah, wartawan yang sudah memiliki sertifikat UKW adalah mereka yang berkualitas, sedangkan yang tidak ber-UKW belum tentu juga tidak berkualitas, tapi mereka belum mendapat kesempatan, dan saya melihat dari sekian yang hadir disini serius ingin menjadi wartawan yang berkualitas,” beber Totok. (ali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page