*Singa Yang Terjerat Luka*
Bagaimana cara untuk menyublimasi rasa kepekaan seorang mahasiswa dengan sejuta ketergantungan di era yang mencekam ideologi dan pemikiran, resah berjuta gelisah menjadi keterpurukan pada saat ini, yang dulu mahasiswa berani mengobrak ngabrikkan ketidak adilan. Namun saat ini tidur terlebih dengan kenyamanan, apa yang harus saya lakukan…?
Berbagai cara sudah di lewati, demikian upaya telah di lakukan untuk membangunkan singa yang mati suri!!!…
Melewati literasi dan tulisan, menasehati bahkan mengupas sejarah mahasiswa dan para pejuang sumpah pemuda seakan dikalahkan oleh dilema globalisasi yang melahirkan benih keterlenaan semata. Namun tidak sadar dengan problem dalam ruang lingkup lingkungan sekitar!!!
Apa yang harus kita lakukan……?
Sejuta impian hanya menjadi angan-angan yang telah di terapkan melalui meja kopi dan diskusi sudah tertelan oleh bahasa STATUS, dan kelanjutan aplikatif dari warung kopi semua terhipnotis oleh gadged yang mereka genggam, sayapun terhelak bahkan tertegun dengan identitas MAHASISWA yang mudah di ucapkan, bahkan menjadi ludah sehari-hari.
Sesungguhnya tugas mereka sangatlah berat dengan julukan tersebut.
Dengan cara apa…..?
Apakah hari ini masih ada mahasiswa yang berani mati demi keadilan…? Jikalau memang ada, kemanakah mereka…?
Akankah diikat dengan rantai ketakutan atau dibungkam dengan selembar kertas merah dan biru?? Atau malah takut dengan realita yang ada…!!!
Kebingungan ini telah menjadi tanda-tanya besar di benak akal dunia, sepertinya kehidupan mahasiswa sudah punah sebagai ‘HAYAWANUN NATIQ‘, telah dikubur dan dikungkung dalam-dalam tanah dan dihimpit bebatuan kelemahan.
Jika persepsi ini apa adanya maka sudahilah kata dan ucapan MAHASISWA lalu rubahlah jadi BUDAKSISWA, kalau yang membaca tulisan ini merasa tepat dengan apa yang diatas maka tidurlah. Namun jika TIDAK abaikan tulisan ini dan buktikan adanya kalian memang ada MAHASISWA.
Tuntutannya bersuaralah yang seharusnya menyuarakan keadilan sehingga kalian dapat menjadi pemimpin memanusiakan MANUSIA. (*)
Rakyat Jelata
* Penulis: Budi














