BANYUWANGI, radar-x.net – Kesalah pahaman yang melibatkan Abdul Wahid selaku ketua rukun tetangga (RT) dengan Kepala dusun Sukopuro Wetan, Imam Syafawi desa Sukonatar Kecamatan Srono, Banyuwangi, akhirnya menemukan titik terang setelah di mediasi oleh beberapa pihak. Selasa (02/06/2020).
Seperti diketahui, Abdul Wahid diberhentikan secara mendadak oleh pemerintahan desa Sukonatar melalui Imam Syafawi, Abdul Wahid merasa tidak terima dengan keputusan tersebut. Karena menurutnya, pemberhentian itu hanya disampaikan melalui lisan oleh Imam Syafawi selaku kepala dusun Sukopuro Wetan ketika Imam Syafawi memberikan insentif jabatan RT/RW di rumahnya.
Berbeda dengan ketua RT/RW lainnya yang ada di wilayah desa Sukonatar. Abdul Wahid mengaku, saat itu dirinya tidak mendapat surat undangan dari pemerintah desa Sukonatar untuk mengambil insentif di kantor desa.
Saat di konfirmasi, Ali Sahroni selaku kepala desa Sukonatar menyatakan bahwa Abdul Wahid sengaja tidak di undang ke kantor desa.
“Iya memang saya tidak mengundang pak Abdul Wahid, dan kepala dusun sudah sepakat,” ujarnya.
Dari pembagian insentif tersebut, diketahui masih menyisakan hak milik Abdul Wahid berupa insentif yang bersumber dari tanah kas desa.
Sementara itu, Komari selaku bendahara desa Sukonatar mengatakan bahwa, “uang itu masih ada pada saya, nanti kalau sudah ada penggantinya bisa dibagi dua,” ungkapnya.
Saat ini, insentif dari tanah kas desa sudah dibagikan, menyisakan hak abdul Wahid sendiri yang belum di salurkan, pemerintah desa Sukonatar berdalih akan ada peremajaan mengingat usia Abdul Wahid sudah menginjak lebih dari 70 tahun dengan melakukan pemilihan suara di lingkungan RT. 001.
H. Sunyoto MS selaku ketua LSM suara bangsa berharap agar permasalahan ini segera diatasi supaya wilayah di desa Sukonatar tetap kondusif.
“Saya berharap masalah kecil ini bisa segara diatasi biar tidak melebar atau meluas,” ungkapnya kepada Ali Sahroni.
Mendapat masukan tersebut, Ali Masroni mengucapkan banyak terima kasih kepada LSM suara bangsa dan tim media yang telah memberikan saran dan masukan.
Tak lupa, sebagai seorang kepala desa, Ali Sahroni juga meminta maaf atas perilaku kepala dusun yang dinilai terlalu arogan. (Dafid F/Tim)














