Optimis Kelola Industri Tembakau, Pemkab Pamekasan Lakukan Studi Pengelolan KIHT Ke Soppeng Sulawesi

0
4

PAMEKASAN, RADAR-X.net – Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Madura, terus berupaya untuk meingkatkan perekonimian di sektor industri tembakau dengan cara melakukan studi untuk belajar pengelolaan Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Kabupaten Soppeng, sebenarnya bukan daerah pengahsil tembakau, namun meski demikian di wilayah tersebut ada 10 Pabrik rokok yang sudah beroprasi sehingga hal yang wajar jika Pemkab Pamekasan melakukan studi pengelolan Industri tembakau tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Achmad Syaifuddin mengatakan, pengelolaan KIHT di Kabupaten Soppeng dapat dijadikan contoh. Padahal kabupaten tersebut bukan daerah penghasil tembakau. Uniknya disana bahan baku perusahaan rokok ada yang berasal dari tembakau Madura.

“Walaupun Soppeng jauh dari Makassar, ternyata operasional KIHT disana jalan. Sekitar 10 pabrik rokok yang sudah beroperasi. Di sana itu bukan penghasil tembakau, hanya sumber bahan bakunya ada yang mengambil dari Madura. Suatu yang ironi ketika Pamekasan penghasil tembakau tetapi tidak bisa meniru sistemnya,” kata Achmad Syaifuddin.

Sejumlah pengusaha rokok binaan KIHT Soppeng, kata dia, pemkab setempat mengapresiasi dan telah memberi ruang kepada mereka. Sementara hasilnya cukup menguntungkan. Karena itu mereka mengaku tenang menjalani bisnis usaha rokok, sebab mereka juga mendapat fasilitas dari pemerintah.

Baca Juga:  Mengantisipasi Kecurangan, Bacalon Kades Kelir Buka Posko Pengaduan

“Dari KIHT Soppeng kita tiru sistem pengelolaannya, manajemen termasuk fisik. Disana pabrik rokok tidak terlalu luas. Kalau kami di sini kan ada kawasan sendiri, sehingga nanti bisa menjadi semacam inspirasi di dalam penyusunan rencana pembangunan,“ ucap Achmad Syaifuddin.

Alasan Pemkab Pamekasan hingga ke Kabupaten Soppeng, karena menjadikan Sopeng sebagai tujuan studi tiru untuk progresifitas pembangunan KIHT di Pamekasan. Di Indonesia KIHT itu ada dua yakni Kudus dan Soppeng. Pamekasan belajar pada keduanya.

“Jangan sampai nanti sudah bangun secara fisik tetapi tidak bisa melakukan operasional. Nah itu yang menjadikan kita untuk belajar ke daerah yang sudah berpengalaman mengelola KIHT,” ungkap Achmad Syaifuddin.

Menurutnya, ada yang berbeda pengelolaan KIHT di Kudus dan Soppeng, di Kudus pengelolaan operasionalnya oleh Dinas Koperasi, akan tetapi kalau di Soppeng oleh Perusahaan Umum daerah dan asosiasi para pengusaha rokok.

“Buat kami bagaimana KIHT di Pamekasan segara terwujud, kemarin juga sudah dihubungi dengan Kanwil Bea Cukai Provinsi Jatim, untuk disegerakan. Temen-teman pabrik rokok juga segera, biar tidak ada simpang siur terhadap KIHT, kayak model apa, segala keuntungan keunggulan mungkin plus minusnya,” kata Achmad Syaifuddin.

Baca Juga:  Jalan Rusak Parah Pemkab Terkesan Tutup Mata, Warga Perbaiki Secara Swadaya

Yang penting, kata Achmad, semua pihak punya komitmen yang kuat bagaimana Pamekasan bisa maju, berusaha di bidang rokok yang legal. Kalau illegal hanya bermain di kelas bawah. Kalau legal minimal kelas menengah.

“Disamping itu nanti akan memberikan trigger effect ekonomi kepada kawasan sekitar KIHT, artinya disitu akan tumbuh berbagai unit usaha yang bisa mensupport kegiatan ekonomi di kawasan KIHT itu. Segala kekurangan mari kita rembuk bersama demi Pamekasan,” pungkas Achmad. (Hol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.