INDRAMAYU, radar-x.net – Permasalahan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang terjadi di Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat, menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Indramayu, melalui Dinas Kesehatan kabupaten Indramayu. UPTD Puskesmas Kecamatan Bongas Sosialisasi Kespro Calon Pengantin (Catin).
Sosialisasi Kespro Catin yang dilaksanakan di Kantor UPTD Puskesmas Kecamatan Bongas Selasa (22/10/2019) hadir Camat Bongas Iing Kuswara, S.STP. M.Si. Kepala UPTD DPPKB, Tati Nurhayati. Kepala KUA. Unit Kesehatan Sekolah (UKS) Sukenda, S.Kep.Nes. Kuwu se Kecamatan Bongas. Tokoh Agama dan tokoh masyarakat di wilayah Kecamatan Bongas.
Dalam penyampaianya Camat Bongas Iing Kuswara, S.STP. M.Si mengatakan, Pertemuan dalam rangka upaya pematangan mensosialisasikan Calon Pengantin (Catin) yang dilaksanakan ini merupakan tindak lanjut yang sudah menjadi kesepakatan yaitu, Kemenkes, Kemenag dan Kemendagri yang ditindak lanjuti oleh pemda Indramayu.


“Hal tersebut dilakukan karena selama ini banyak masyarakat yang beranggapan Tabu ketika membicarakan masalah Reproduksi kepada Calon Pengantin (Catin) karena menurut sebagian masyarakat alat Reproduksi ini hanya dapat di bicarakan oleh orang tua, padahal sudah semestinya orang tua ikut andil memberikan pemahaman kepada anak yang akan menikah, supaya tidak terjadi pelanggaran didalam hubungan intim. Disamping itu, juga tiap pasangan harus memiliki komitmen terlebih dahulu, serta harus memahami hidup berumah tangga,” terangnya.
Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan Bongas, DR. dr. H. Rosadi menjelaskan, Kabupaten Indramayu saat ini masih mempunyai banyak permasalahan dan tantangan dalam upaya pelayanan kesehatan reproduksi dan pemenuhan hak-hak reproduksi.
“Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) karena masih rendahnya status kesehatan perempuan
Upaya untuk meningkatkan status kesehatan perempuan harus dilaksanakan bukan hanya setelah terjadi kehamilan, tetapi juga harus dilaksanakan lebih ke hulu lagi. Yaitu, sejak masa remaja, dewasa muda/calon pengantin dan Wanita Usia Subur (WUS) salah satu intervensi yang telah dilakukan yaitu, Pelaksanaan KIE Kesehatan Reproduksi bagi Calon Pengantin (Catin) yang akan melangsungkan pernikahaan, sehingga diharapkan Catin akan siap menjalani masa kehamilan, Persalinan, nifas dan menyusui secara sehat serta melahirkan generasi penerus yang berkualitas.” Terangnya.
DR. dr. H. Rosadi, menambahkan, Pertemuan dalam rangka pematangan Sosialisasi Kesehatan Catin bagi tenaga kesehatan dan Penyuluh Pernikahan di UPTD Puskesmas sangat penting sekali, karena upaya yang akan dilakukan untuk menekan resiko angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan.
“Sosialisasi pemeriksaan kesehatan kepada Catin pra nikah akan terus dilakukan bersama KUA, PKK dan Kader Pos Yandu,” ujarnya.
H. Rosadi, menjelaskan, berbagai upaya pemda Indramayu melalui Dinas Keshetan guna menekan angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)sudah dilakukan melalui progran Emas.
“Program Jampersal dan Program si Bayu yang selama ini sudah berjalan masih belum menghasilkan dampak positif terhadap penekanan angka kematian ibu dan bayi, oleh sebab itu mudah-mudahan dengan adanya Program Kesehatan bagi Catin ini, bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat khususnya orang tua agar tidak menikahkan Anaknya yang masih di bawah umur/belum siap dinikahkan,” jelasnya.
“Kami akan menerbitkan surat pengantin sudah layak menikah setelah catin sudah melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas.” Pungkas Rosadi. (Nas)














