Resensi

Setitik Cahaya Untuk Salju

×

Setitik Cahaya Untuk Salju

Sebarkan artikel ini
Setitik Cahaya Untuk Salju
” SETITIK CAHAYA UNTUK SALJU “
 
Judul Buku      : Aku Melihatmu
Pengarang       : Muhammad Ardi Ansha El-Zhemary
Penerbit          : PING
Tahun Terbit    : 2016
Tebal Buku      : 256 Halaman, 13×19 cm
ISBN               : 978-602-391-163-9
Harga              : Rp. 45.000
Muhammad Ardi Ansha adalah nama asli dari penulis. Sedangkan El Zhemary diambil dari nama ayahnya, yaitu Sumari. Penulis dilahirkan di Pulau Borneo, tepatnya Kalimantan Barat yaitu kota Bengkayang pada 4 September 1992.
Pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah SMA Darussalam, Blokagung. Saat ini sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Jurusan Pendidikan Matematika sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Jawa Timur.
Hobi penulis lumayan banyak, mulai dari melukis, menyanyi, hafalan, menulis cerpen, membaca, dan membuat puisi. Karya-karya lain penulis juga sudah banyak dimuat di koran lokal maupun majalah di pesantren. Sedangkan karya penulis yang berbentuk buku antara lain; “Air Mata Nayla (2012), Dreamed Angel (2012)”.
Dalam kehidupan seorang manusia, tentu ia tidak akan terlepas dari lima huruf yang akan mampu mengubah segalanya yaitu cinta. Cinta yang hadir dengan berbagai warna, berbeda untuk setiap jiwa, setiap rasa, dan setiap napas yang tersisa. Dalam catatan cerita sederhana ini, penulis ingin mengisahkan tentang sebuah cerita cinta sederhana yang terkadang kita sendiri tak mengerti sejak kapan cinta itu hadir, kisah ini terus terangkai kalimat demi kalimatnya, mengalir dari paragraf satu ke paragraf selanjutnya untuk menemukan kisah cinta seorang salju.
Aku melihatmu, sebuah novel fiksi yang menceritakan kisah seorang bidadari desa dan muadzin masjid. Keyla Rahma adalah seorang gadis cantik berparas sempurna dan elok dengan kulit putih seputih salju, banyak yang mengatakan kecantikannya bagaikan seorang putri salju, maka tak heran jika semua warga desa Sumber Arsi memangilnya dengan sebutan Salju. Sejak lahir Salju tidak bisa melihat bahkan siapa orang tua aslinya pun dia tidak mengetahuinya. Sejak kecil Salju dirawat dan dibesarkan oleh Bu Nurlita. Dan kini Salju tumbuh dewasa di desa Sumber Asri dengan dua sahabatnya yaitu Vano, Reza dan Faza Elysa. Meskipun Salju hidup bahagia dikelilingi banyak orang yang menyayanginya, Salju merasa ada satu kesedihan yang sangat mendalam. Dia rindu, merindukan satu titik cahaya, salju ingin sekali bisa melihat indahnya pelangi, deburan ombak pantai, dan juga bunga sakura di Negeri Jepang. Hingga pada suatu hari Salju dan bu Nurlita harus pindah ke kota yang membuat Vano dan Faza sangat sedih karena tidak ingin berpisah dengan Salju.
Disisi lain ada seorang anak jalanan yang bernama Zahiy, penampilannya sangat kumal dan tak terawat, Dengan suara indah yang dimilikinya setiap hari Zahiy mengamen dengan sahabatnya Rahmat untuk biaya makan sehari-hari. Sejak usia 10th Zahiy hidup dijalanan, dia hilang ingatan dan tidak bisa mengingat apa-apa bahkan namanya saja dia tidak tahu. Rahmat lah yang merawat Zahiy dari kecil dan menganggap Zahiy sebagai adiknya sendiri. Zahiy merindu, merindu sesuatu yang tidak bisa diingat dalam pikiranya lagi. Dulu waktu kecil Zahiy juga perah bercerita kepada Rahmat bahwa dia ingin menjadi seorang malaikat. Dan kini jalan hidup mereka berubah ketika mereka bertemu dengan Ustad Roland, Ustad Roland menawarkan Zahiy dan Rahmat menjadi takmir Masjid Darussholah, awalnya Zahiy ragu akan tetapi setelah mempertimbangkan akhirnya dia setuju untuk menjadi pengurus Masjid Darussholah.
     Semenjak Zahiy menjadi Muadzin Masjid Darusssholah, banyak jama’ah yang berbondong-bondong datang ke Masjid untuk beribadah sekaligus mendengar suara merdu sang Muadzin. Tak hanya warga, Salju pun merasa tenang saat mendengarkan suara indah milik Zahiy, Salju jatuh cinta pada suaranya meski dia tak bisa melihat siapa sang pemilik suara indah tersebut. Hingga suatu hari Salju dan Zahiy bertemu tanpa disengaja, Zahiy terpesona oleh bidadari tanpa sayap dihadapanya tersebut, sedangkan Salju tak mengetahui bahwa Zahiy adalah sang Muazin bersuara merdu yang dia cintai selama ini. Mereka berdua hanya saling menyimpan rasa cinta mereka sendiri tanpa mengetahui bahwa ternyata mereka saling mencintai satu sama lain.
Suatu hari, Zahiy jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, banyak yang merindukan suara Muadzin Masjid Darussholah terutama Salju, dia sangat merindukan Muadzin tersebut yang baru Salju ketahui bernama Zahiy. Kini Zahiy dan Salju saling merindu, merindukan tanpa mengetahui bahwa seseorang yang dirindukan juga merindukan mereka kembali. Selang beberapa bulan penyakit Zahiy semakin parah dan dia divonis tidak tertolong, kemudian disaat saat terakhir Zahiy berpesan kepada Ustad Roland agar matanya didonorkan untuk Salju, Zahiy ingin menjadi malaikat bagi Salju menjadi setitik cahaya bagi bidadari yang dia cintai. Hingga tiba waktunya Salju bisa melihat indah nya pelangi, deburan ombak, dan juga bunga sakura di Jepang meski tanpa Zahiy, sosok yang Salju rindukan saat ini, sosok yang Salju cintai dalam kegelapan selama ini hingga nanti. Salju akan selalu mengingat bait demi bait surat terakhir Zahiy untuknya “Dari sosok yang selalu melihat bersamamu, serta selalu mencintaimu.” (Zahiy).
Kelebihan yang dimiliki novel tersebut. Novel ini menyajikan sebuah kisah cinta yang dapat meluluhkan para pembacanya. Secara keseluruhan gaya bahasa dikemas secara menarik, ringan dan tidak berbelit atau menuangkan banyak istilah asing. Pastinya mudah dimengerti, dipahami, dan dinikmati oleh semua kalangan usia. Tak lupa terdapat ayat-ayat surat Al Qur’an yang memperjelas suatu makna cerita didalam novel tersebut. Di samping kelebihan itu, jelas masih terdapat beberapa kekurangan. Seperti ada beberapa cerita yang sumbang, dan alur pada bagian tertentu kurang diperjelas hingga membuat pembaca sedikit bingung dengan alur ceritanya.
Lewat catatan sederhana tentang cinta ini, penulis mencoba memberi garisan cinta yang lebih indah untuk kita, garisan takdir cinta yang membuat kita akan tersenyum dalam kehidupan sekarang maupun esok di akhiat nanti. Kehidupan dengan cerita cinta yang tak lagi mampu terlepas, namun apa pun yang akan terjadi dengan kisah cinta di hari esok, kita hanya mampu berserah dengan Dzat yang memberi kita anugerah cinta, memberi kita serpihan rindu walau terkadang semua itu membuat air mata tak segan meleleh.
      Novel ini sangat cocok untuk para remaja untuk memberikan gambaran garisan cinta yang membuat kita tersenyum dalam kehidupan sekarang maupun esok di akhirat nanti.
Penulis : Indah Safitri 
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Instansi :Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page