Ponpes Ditengah Minoritas Muslim, Dihadiri Pentolan 57 Negara
Sebarkan artikel ini
Saat Rombongan Dari Kemenlu Mendatangi Ponpes Bali Bina Insani (Foto: Sayadi)
BALI – Pondok Pesantren Bali Bina Insani, yang ada di tenggah-tengah non Muslim, terletak di atas tanah seluas kurang lebih satu hettar di desa Meliling Karambitan, Tabanan Bali, mempunyai data tarik yang sanggat kuat, karena yang di ajarkan salah satunya bertoleransi atas kesadaran bermasyarakat, beragama dan berbangsa.
Terbukti acara raksasa yaitu (BDF) Bali Democracy Forum IX 2016 di tempatkan di Pondok Pesantren tersebut, yang di hadiri 57 Negara, Jumat (09/12/2016).
Menurut Derektur Ponpes Bali Bina Insani, dalam pembukaan acara megutip dalam Alquran bahwa penciptaan manusia untuk saling menyayanggi dan memberi, dalam Hadist menjelaskan, perbedaan Agama, Bangsa, dan Negara sebuah karunia yang sanggat besar bagi kita, “kami di sini antara Islam dan Hindu sudah biasa, betapa indahnya , buah yang indah karena bermacam-macam tanamannya, sebuah pelangi karna waran warni, pluranisme dan kebenikaan adalah sebuah keniscayaan, dan di sini para penggajar bukan hanya dari agama islam melainkan, 50% Islam 50% Hindu,” ujarnya.
Direktur Ponpes Dan Para Undangan Saat Foto Bersama
Kabupaten Tabanan merupakan salah satu tempat bagi TRI HITA KARANA, hubunggan harmonis antara manusia dengan sang pencipta, saya sangat bangga karena masyarakat tabanan bisa menjaga keharmonisan antar Agama, Bangsa, Dan Negara di wilayah kami bekerja, “saya menggucapkan sanggat berterima kasih kepada panitia BDF, karna Tabanan di percaya sebagai contoh aktifitas,” ungkap Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti.
Sementara itu, Kementrian Luar Negeri menambahkan, ada salah satu Ponpes yang berdiri kokoh di menoritas Muslim, dan merasa nyaman, aman, tentram, dan bisa berinteraksi tanpa adanya gangguan dari masyarakat sekitarnya, karna Pesantren mengajarkan ke anak didiknya berinteraksi yang baik. “Mari jadikan salah satu contoh Pondok Pesantren, Bali Bina Insani, karna di zaman sekarang sangatlah penting berinteraksi yang baik,” tutupnya, Kemenlu, Retno Marsudi. (Sayadi Hasan)