SAMPANG, RADAR-X.Net – Pasukan Brigade Mobil (Brimob) Polisi Republik Indonesia diusir oleh massa aksi saat demo tuntut Pilkades segera dilaksanakan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Brimob Polri yang menenteng senjata laras panjang melakukan pengamanan saat aksi demo berlangsung di depan Kantor Kecamatan Banyuates. Namun para Brimob akhirnya masuk ke dalam kantor Kecamatan saat diteriaki Brimob masuk Brimbo masuk.
Hanafi korlap aksi juga berteriak lewat microfonnya. Bahwa mereka bukan Teroris Brimob harus masuk ke dalam kantor Kecamatan.
“Kepada Kapolres Sampang, AKBP Hartono kami datang ke sini bukan Teroris. Jangan takut-takuti kami dengan Brimob yang membawa senjata laras panjang, dalam SOP demo ini salah,” teriak Hanafi.
Hanafi berteriak kembali bahwa dia bukan Teroris dan bukan perampok.
“Kami datang bukan Teroris dan juga perampok kalau memang Kepolisian mau bekerjasama dengan baik, pihak Kepolisian datang ke sini untuk mengamankan agar kondusif jangan takut-takuti kami pak. Pokoknya sebelum Brimob masuk kami tidak akan menyampaikan orasi,” terang Hanafi disambut massa aksi dengan teriakan Brimob masuk Brimob masuk Brimob masuk.
Tidak lama kemudian Kapolres Sampang, AKBP Hartono bertepuk tangan dan memerintahkan Brimob untuk masuk ke dalam kantor Kecamatan Banyuates.
Setelah itu Korlap Aksi menyampaikan orasinya bahwa di Sampang telah terjadi jual beli jabatan Pj Kades dengan harga Rp 200 juta hingga terjadilah perencaan penundaan Pilkades di 143 desa, yang awalnya dijadwalkan tahun 2025 akan digelar tahun 2028. Dengan alasan diserentakkan dengan 37 desa yang mendapatkan perpanjangan jabatan.
Perlu diketahui juga bahwa H Slamet Junaidi selaku Bupati Sampang pada tahun 2021 telah mengeluarkan SK yang penuh kontroversi menunda Pilkades hingga tahun 2025.
Sementara itu dikutip dari laman Liputan6.com berdasarkan Kabag Ops Brimob Polri Kombes Waris Agono menyampaikan, pada dasarnya Brimob Polri baru diturunkan jika situasi kuning berubah menjadi merah.
“Dilaksanakan dari situasi tidak tertib menjadi melanggar hukum atau dari kuning ke merah. Tidak tertib ini apabila massa sudah tidak mengindahkan imbauan petugas atau melakukan pelemparan sehingga berpotensi melukai petugas. Negosiasi pun tidak berhasil,” tutur Waris di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. (Faris)














