BeritaEkonomi

Kepala TPI Puger: TPI Tidak Berjalan Perlu Payung Hukum

×

Kepala TPI Puger: TPI Tidak Berjalan Perlu Payung Hukum

Sebarkan artikel ini
Suwandi, S,Sos, Msi Kepala UPT. TPI Puger, Foto: Heri.
Suwandi, S,Sos, Msi Kepala UPT. TPI Puger, Foto: Herry.
JEMBER – UPT. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Puger, selama ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hanya namanya saja TPI, kini sudah mulai berbenah untuk menyambut Jember Baru sesuai 22 Program Bupati Jember. Tidak hanya itu, Kepala TPI Puger, Suwandi S.Sos, Msi. Sudah melakukan Studi Banding melihat dari dekat proses lelang ikan  ke TPI. Sendang Biru Malang dan TPI Palang, Tuban. Kita melakukan pembenahan di sana-sini, menyiapkan Tim SDM TPI setelah melihat secara langsung proses lelang ikan meski Cuma 1-2 hari ke Sendang Biru Malang dan Palang Tuban saat ini, kata kepala TPI Puger.
Suwandi sudah menata sarana dan prasarana, untuk melangkah TPI Puger sebagai tempat pelelangan ikan. Pembenahan untuk Proses Lelang, yang pertama  kita tunggu adalah Payung Hukumnya, yaitu Perda dan Perbup, itu saya tunggu, implementasinya nanti  sosialisasi pada nelayan dengan menggandeng semua elemen yang ada di sekitar Puger termasuk, termasuk Muspika, Polair, Kamla, UPT, jelasnya.
Pelabuhan Perikanan Puger,  tidak menutup kemungkinan nelayan yang sudah punya wadah, KUB (Kelompok Usaha Bersama) nanti terlibat di sana juga forum yang ada diatasnya KUB. Setelah Payung hukum, karena ini melibatkan 2 desa,  “Desa Puger Kulon dan Desa Puger Wetan. karena mempunyai Perdes masing-masing, kita akan melangkah kesana mengajak rundingan dengan  kades masing-masing.” Ujar Suwandi, Selasa (1/3/2016) kemairn.
Di Sendang Biru, kata Suwandi, muara berlabuhnya ikan  satu pintu tapi kalau di Puger  ikan berlabuh di sepanjang sungai  Bedaddung, disana Ikan-ikan ditampung langsung di bawa ke gudang, tidak ke TPI. Itu Kelemahannya di sini, hanya ada satu-dua nelayan yang masuk langsung ke TPI, yang lain banyak berlabuh di sungai-sungai, kalau ada TPI ini tidak boleh,  untuk itu tidak menutup kemungkinan kita tutup dengan melibatkan kedua desa dan forum nelayan.
Suwandi juga menyampaikan, alasan kelebihan  sistem lelang, ini  perlu proses demi kesejahteraan nelayan. Keuntungan system lelang, hasil lelang fair, harga ikan bersaing, bisa tinggi, pembayaran kontan ( Cash Money), nelayan pulang membawa uang. Saat ini, nelayan tergatung pada juru penolong yang buka 24 jam, setiap berangkat ke laut datang ke juru penolong pulangnya setor ikan pada juru penolong. Nanti lambat laun mereka akan sadar, karena  nantinya  akan melibatkan mereka sebagai pelelang ikan, yang penting kita sinergikan kita utamakan kepentingan dan kesejahteraan nelayan, pungkasnya sang raja ikan ini. (Herry/Heru)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page