Oleh: Holili (Ketua Asosiasi Pengusaha Muda Tembakau Madura)
Ada satu hal yang menarik ketika nama Haji Her dan Haji Mukmin muncul dalam narasi pemberitaan mengenai industri tembakau Madura. Keduanya seolah ditempatkan dalam satu lanskap cerita yang sama: industri rokok, perdagangan tembakau, cukai, dan persoalan yang sedang menjadi perhatian publik.
Padahal, dua nama tersebut memiliki konteks, posisi, dan rekam jejak yang tidak serta-merta dapat disederhanakan dalam satu bingkai.
Di sinilah persoalan framing menjadi penting.
Media memang memiliki hak untuk menentukan sudut pandang pemberitaan. Namun ketika sejumlah nama ditempatkan berdekatan dengan kata-kata seperti “rokok ilegal”, “cukai”, “pemain”, dan “KPK”, publik dapat dengan cepat membangun asosiasi tertentu, bahkan sebelum mengetahui secara utuh status hukum dan konteks masing-masing tokoh.
Dalam kasus Haji Her, misalnya, terdapat fakta yang perlu disebut secara terang: ia pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kapasitas sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Fakta tersebut berbeda secara hukum dengan status tersangka atau pihak yang telah dinyatakan bersalah.
Karena itu, ketika nama Haji Her ditempatkan dalam narasi besar mengenai cukai dan rokok ilegal, status tersebut seharusnya tetap menjadi bagian penting dari informasi yang diterima pembaca.
Namun membaca Haji Her hanya dari perkara tersebut juga tidak cukup.
Haji Her merupakan pengusaha sekaligus Ketua Umum Paguyuban Pelopor Pedagang Petani Tembakau se-Madura (P4TM). Posisi itu membuatnya berada dalam ruang yang bersinggungan langsung dengan tata niaga tembakau dan kepentingan petani.
Pada Februari 2026, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Timur bahkan melakukan audiensi dengan Haji Her untuk menyerap aspirasi terkait harmonisasi Raperda Tata Kelola Tembakau Kabupaten Pamekasan.
Artinya, di ruang publik, Haji Her memiliki peran yang lebih kompleks daripada sekadar seorang pengusaha rokok.
Hal serupa perlu dilakukan ketika publik membaca nama Haji Mukmin.
Jangan sampai dua figur yang memiliki latar, posisi, dan relasi berbeda terhadap industri tembakau kemudian dipadatkan menjadi satu karakter hanya karena keduanya berada dalam ekosistem ekonomi yang sama.
Justru di sinilah kerja jurnalistik seharusnya diuji: apakah setiap tokoh dibaca berdasarkan fakta dan konteksnya masing-masing, ataukah seluruhnya disatukan demi membangun sebuah cerita yang lebih dramatis?
Pertanyaan tersebut bukan berarti Tempo tidak boleh menginvestigasi Haji Her maupun Haji Mukmin.
Sebaliknya, keduanya justru sah menjadi objek pemeriksaan jurnalistik sepanjang fakta dan dokumennya tersedia.
Yang perlu dipersoalkan adalah cara sebuah narasi dibangun.
Sebab framing tidak selalu bekerja melalui kebohongan.
Framing dapat bekerja melalui fakta yang benar tetapi dipilih, disusun, dan diletakkan dalam urutan tertentu sehingga menghasilkan kesan tertentu.
Sebuah nama bisa benar-benar diperiksa.
Sebuah perkara bisa benar-benar ada.
Sebuah industri bisa benar-benar memiliki persoalan.
Tetapi ketika semua fakta tersebut dirangkai dalam satu alur tanpa konteks yang cukup, pembaca dapat memperoleh kesimpulan yang lebih jauh daripada fakta sebenarnya.
Inilah yang membuat Haji Her dan Haji Mukmin menarik untuk dibaca secara kritis.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah keduanya pernah bersinggungan dengan dunia tembakau.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: **dalam kapasitas apa mereka berada di dalam ekosistem tersebut?**
Apakah sebagai pengusaha?
Pedagang?
Representasi petani?
Pemilik jaringan usaha?
Atau sebagai pihak yang memiliki informasi mengenai persoalan yang sedang ditelusuri?
Perbedaan itu penting karena Madura bukan sekadar sebuah pasar rokok.
Di belakang industri tembakau terdapat petani yang menanam selama berbulan-bulan, pedagang yang mencari pasar, buruh yang menggantungkan penghasilan, gudang yang menyerap hasil panen, perusahaan rokok, distributor, pemerintah, kebijakan cukai, hingga konsumen.
Jika persoalan tersebut hanya didekati melalui sejumlah nama yang paling dikenal publik, maka ada risiko struktur besarnya justru tidak terlihat.
Karena itu, jika Tempo hendak terus menginvestigasi Madura, pertanyaan yang lebih besar sebenarnya menunggu di depan.
Bagaimana harga tembakau ditentukan?
Siapa yang paling kuat menentukan harga?
Bagaimana posisi petani ketika berhadapan dengan pembeli?
Ke mana nilai ekonomi tembakau bergerak dari sawah hingga produk akhir?
Bagaimana kebijakan cukai memengaruhi industri?
Dan siapa saja yang memperoleh keuntungan terbesar dari rantai panjang tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih besar daripada Haji Her maupun Haji Mukmin.
Keduanya mungkin penting dalam cerita, tetapi tidak seharusnya menjadi keseluruhan cerita.
Di sinilah publik perlu berhati-hati terhadap sebuah kecenderungan dalam pemberitaan: ketika tokoh menjadi lebih besar daripada struktur yang sedang dibicarakan.
Haji Her bukan industri tembakau Madura.
Haji Mukmin juga bukan industri tembakau Madura.
Keduanya adalah bagian dari ekosistem yang jauh lebih besar.
Karena itu, kritik terhadap framing Tempo bukan berarti meminta media berhenti mengungkap persoalan.
Justru sebaliknya.
Investigasi harus dilanjutkan, tetapi dengan kamera yang lebih lebar.
Jika ada dugaan pelanggaran, telusuri.
Jika ada transaksi mencurigakan, bongkar.
Jika ada jaringan distribusi ilegal, ungkap.
Tetapi pada saat yang sama, jangan berhenti pada nama yang paling mudah dikenali.
Telusuri pula struktur yang memungkinkan persoalan tersebut terjadi.
Sebab publik Madura tidak hanya membutuhkan cerita tentang siapa yang salah.
Mereka juga membutuhkan jawaban tentang mengapa sebuah sistem bisa berjalan seperti itu dan siapa yang sebenarnya berada diuntungkan.
Pada akhirnya, Haji Her dan Haji Mukmin boleh menjadi bagian dari sebuah investigasi.
Tetapi jangan biarkan keduanya menjadi pengganti dari persoalan yang jauh lebih besar.
Madura terlalu kompleks untuk diringkas dalam dua nama.
Dan jika sebuah media ingin benar-benar memahami Madura, tantangannya bukan hanya menemukan siapa yang berada di dalam bingkai.
Tantangan yang lebih penting adalah mencari tahu **siapa yang menentukan bingkai itu, siapa yang berada di luar bingkai, dan mengapa mereka tidak terlihat.














