BONDOWOSO, Radar-X.net – Di tengah geliat pembangunan, kondisi Dusun Petung, Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok, justru menyisakan cerita berbeda.
Akses jalan menuju dusun tersebut masih memprihatinkan, bahkan disebut belum tersentuh pembangunan secara optimal.
Yang membuat kondisi ini semakin miris, akses tersebut merupakan jalur menuju SD Kretek 3. Para guru disebut harus berjalan kaki untuk mencapai sekolah lantaran kendaraan roda empat belum bisa menjangkau wilayah tersebut.
Kepala Desa Kretek, Kusno, mengungkapkan bahwa persoalan akses jalan menjadi salah satu keluhan utama masyarakat Dusun Petung, (29/9/2026).
“Desa dan dusun kami sangat memprihatinkan, utamanya akses jalan. Selama ini Dusun Petung belum tersentuh pembangunan,” kata Kusno.
Menurutnya, keterbatasan akses bukan hanya menyulitkan aktivitas warga, tetapi juga berdampak terhadap akses pendidikan. Kondisi jalan membuat mobilitas menuju SD Kretek 3 tidak mudah.
“Lebih mirisnya, para guru terpaksa berjalan kaki untuk menempuh perjalanan menuju SD Kretek 3 di Dusun Petung,” ungkapnya.
Kusno berharap kondisi tersebut tidak luput dari perhatian pemerintah. Ia meminta adanya kepedulian dan langkah nyata agar masyarakat Dusun Petung juga merasakan pembangunan infrastruktur yang layak.
“Saya berharap masih ada kepedulian dari pemerintah melihat akses jalan di desa kami yang sangat memprihatinkan,” harapnya.
Ahmadi: Jangan Cuma Difoto, Lalu Berhenti di Meja Investigasi
Sorotan lebih keras datang dari Sekretaris PPP Bondowoso, Ahmadi. Ia meminta persoalan Dusun Petung tidak berhenti pada tahap investigasi atau sekadar dicatat dalam laporan.
Menurut Ahmadi, kondisi tersebut harus dilihat langsung di lapangan dan dilanjutkan dengan langkah konkret.
“Persoalan ini harus benar-benar dilihat langsung di lapangan. Kami sendiri sudah pernah turun. Kondisinya memang memprihatinkan,” tegasnya.
Ahmadi menyebut akses menuju Dusun Petung masih sangat terbatas. Kendaraan roda empat disebut belum dapat melintas dengan mudah, sementara masyarakat dalam aktivitas sehari-hari masih mengandalkan kendaraan roda dua hingga kuda.
Bagi Ahmadi, kondisi tersebut bukan semata persoalan jalan rusak atau belum terbangun. Ketika akses terbatas, mobilitas masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan hingga menjalankan aktivitas ekonomi juga ikut terdampak.
“Coba bayangkan, di zaman sekarang masih ada dusun yang akses jalannya seperti itu. Masyarakat di sana juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pembangunan,” ujarnya.
Ia pun meminta pemerintah tidak berhenti pada kalimat “akan diinvestigasi”. Menurutnya, investigasi harus menjadi pintu masuk menuju solusi, bukan menjadi akhir dari persoalan.
“Harapan kami, pihak terkait benar-benar turun ke sana. Lihat kondisinya, identifikasi persoalannya, kemudian cari solusi. Jangan sampai masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil terus menunggu tanpa kepastian,” pungkas Ahmadi.
Dusun Petung kini menunggu bukan sekadar kunjungan, tetapi tindak lanjut. Sebab, ketika guru saja harus berjalan kaki untuk menuju sekolah, persoalannya bukan lagi sekadar jalan melainkan soal bagaimana pembangunan benar-benar hadir hingga ke pelosok.














