Eksepsi Kuasa Hukum Terdakwa Demo Simbol Palu Arit Ditolak JPU

- Penulis Berita

Rabu, 27 September 2017 - 13:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Eksepsi Kuasa Hukum Terdakwa Demo Simbol Palu Arit Ditolak JPU
Foto : Budi Heriawan alias Budi Pego saat sidang di PN Banyuwangi. 



BANYUWANGI, radar-x.net – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Budi Cahyono, SH, MH., dengan tegas menolak eksepsi Penasihat Hukum (PH) terdakwa kasus demo berlogo palu arit Pesanggaran, Hari Budiawan alias Budi Pego. Karena menurutnya, jeratan pasal 107 huruf a UU Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara, sudah tepat.

“Sudah sesuai dengan pernyataan terdakwa dalam berkas perkara pemeriksaan,” katanya dalam sidang agenda tanggapan JPU atas eksepsi PH terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (27/9/2017).

Disamping itu, ia juga meminta pengacara untuk melakukan pembuktian pokok perkara, jika keputusan JPU dianggap kurang tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Atas tanggapan JPU, Ketua Majelis Hakim, Putu Endru Sonata, SH., meminta waktu untuk membuat putusan dan membacakan putusan sela terhadap kasus ini pada 3 Oktober 2017 mendatang.

Menanggapi hal ini, PH terdakwa, Ahmad Rifai, SH., menyebutkan bahwa pasal yang didakwakan JPU tidak masuk akal. Meskipun dalam berbagai foto dan video yang beredar, demo 4 April 2017, massa Budi Pego jelas memampang gambar mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Lebih dari satu buah dan diarak dijalanan Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Baca Juga:  Peringati HBP ke 54, Lapas Banyuwangi Gelar Donor Darah

“Unsur mengajarkannya tidak jelas,” ucap pengacara anggota tim konsorsium advokat Walhi, LBH Surabaya, Kontras dan For Banyuwangi ini.

Sementara itu, seperti sidang sebelumnya, puluhan massa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pemuda Pancasila (PP), Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI) dan Forum Suara Blambangan (Forsuba) terus mengawal proses peradilan ini. Sepanjang persidangan, mereka bergerombol untuk memberi dukungan moral pada majelis hakim. Guna memastikan sidang berjalan lancar dan aman, Polres Banyuwangi menurunkan puluhan anggota dilokasi.

Ormas Islam dan nasionalis Bumi Blambangan tersebut mendesak segala hal yang terindikasi berkaitan dengan PKI harus dihukum berat. Terlebih tentang bahaya laten komunis, Banyuwangi, memang punya sejarah kelam.

Sebanyak 62 orang kader GP Ansor setempat telah menjadi korban kekejaman PKI pada 18 Oktober 1965 di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring.

Secara terpisah, ketua Pemuda Pancasila (PP) Banyuwangi, Eko Suryono, S.Sos, mengajak seluruh masyarakat Bumi Blambangan, termasuk jajaran tim konsorsium advokat Walhi, LBH Surabaya, Kontras dan For Banyuwangi, untuk berfikir jernih, serta tidak mudah terprovokasi isu pihak tak bertanggung jawab yang menyebut bahwa pengadilan terhadap terdakwa Budi Pego, adalah kriminalisasi.

Baca Juga:  FKPPI, Gelar Sosialisasi Narkoba kepada Siswa SMA/SMK Jember

“Sidang ini tidak ada kaitannya dengan demo tolak tambang yang mereka lakukan, karena kita semua paham bahwa demo menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara. Namun sidang kali ini adalah murni tentang pengibaran logo palu arit yang mirip dengan lambang PKI, yakni organisasi terlarang musuh negara, musuh seluruh warga Indonesia. Dan sejarah mencatat, PKI pernah membantai dengan keji putra-putra Banyuwangi,” tegasnya.

Sedangkan terkait sosok Budi Pego, penelusuran PP Banyuwangi, telah menemukan informasi bahwa dia bukanlah seorang aktivis lingkungan. Bahkan, rekam jejak terdakwa justru menunjukkan bahwa ia dulu merupakan mitra dari PT Indo Multi Niaga (IMN), perusahaan tambang emas besar yang pernah beroperasi di Banyuwangi.

“Disini kita hanya mengingatkan kepada masyarakat luas, jangan sampai salah memberikan dukungan,” ungkap Eko.

Untuk itu, ia berharap para aktivis, LSM dan pegiat lingkungan mau sedikit membuka mata serta mencoba mencari tahu fakta sebenarnya di Tumpang Pitu. Bukan justru membabi buta dalam melakukan pembelaan. Karena, jejak perjalanan hidup Budi Pego yang merupakan mantan mitra perusahaan pertambangan, dinilai menyimpan rahasia tentang apa motif tujuan aksinya.

Baca Juga:  Nelayan Tradisional Jaring Timbul Beri Santunan Anak Yatim

“Kenapa dia tidak dari dulu saja menolak pertambangan saat masa IMN, kenapa baru sekarang.” Tandas Eko. (Dafid Firmansyah)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

DPRD H Barlin, Ucap Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H 2024
DPC PDI Perjuangan Bagikan 100 San Lebih Bungkus Daging Kurban Kepada Warga Mura
Momen Idul Adha 1445 H, Ponpes Al Ishlah Bondowoso Bagikan 30 Ribu Daging Kurban
Heriyus Salurkan Tiga Ekor Hewan Kurban Kepanitia
Waket II Rahmanto Mura Kunker ke Desa Muara Untu, Banyak Menerima Aspirasi Warga
Dewan Murung Raya Dorong Orangtua Kenalkan Budaya Daerah Pada Anak
Membangun Daerah Diperlukan Komitmen Bersama dan Masyarakat
Pelatihan STRATEGI PENCEGAHAN dan TEKNIK INVESTIGASI KEJAHATAN DALAM PERUSAHAAN
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Juni 2024 - 23:24 WIB

DPRD H Barlin, Ucap Selamat Hari Raya Idul Adha 1445 H 2024

Selasa, 18 Juni 2024 - 16:47 WIB

DPC PDI Perjuangan Bagikan 100 San Lebih Bungkus Daging Kurban Kepada Warga Mura

Selasa, 18 Juni 2024 - 10:11 WIB

Momen Idul Adha 1445 H, Ponpes Al Ishlah Bondowoso Bagikan 30 Ribu Daging Kurban

Minggu, 16 Juni 2024 - 20:10 WIB

Heriyus Salurkan Tiga Ekor Hewan Kurban Kepanitia

Minggu, 16 Juni 2024 - 01:05 WIB

Dewan Murung Raya Dorong Orangtua Kenalkan Budaya Daerah Pada Anak

Jumat, 14 Juni 2024 - 00:33 WIB

Membangun Daerah Diperlukan Komitmen Bersama dan Masyarakat

Kamis, 13 Juni 2024 - 09:33 WIB

Pelatihan STRATEGI PENCEGAHAN dan TEKNIK INVESTIGASI KEJAHATAN DALAM PERUSAHAAN

Kamis, 13 Juni 2024 - 01:51 WIB

Imanudin Sambut Baik Bantuan Hewan Qurban dari Pemrov Kalteng

Berita Terbaru

Berita

Heriyus Salurkan Tiga Ekor Hewan Kurban Kepanitia

Minggu, 16 Jun 2024 - 20:10 WIB