BeritaSport

KONI Sampang Dikritik Keras, Dana Miliaran Tak Berbanding Lurus dengan Fasilitas Atlet

494
×

KONI Sampang Dikritik Keras, Dana Miliaran Tak Berbanding Lurus dengan Fasilitas Atlet

Sebarkan artikel ini

SAMPANG, RADAR-X.Net – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sampang kembali menjadi sorotan tajam dalam gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 di Malang Raya.

Bukannya menjadi motor penggerak prestasi, KONI justru menuai kritik karena buruknya fasilitas dan tidak transparannya pengelolaan anggaran bagi para atlet.

Pasalnya, KONI Sampang diketahui menerima dana hibah sebesar Rp 1,750 miliar dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) pada tahun 2025.

Ironisnya, anggaran besar itu dinilai tidak tercermin dalam pelayanan dan dukungan nyata terhadap para atlet yang tengah berjuang membawa nama daerah.

Salah satu pemerhati olahraga di Sampang mengungkapkan bahwa penginapan untuk cabang olahraga (cabor) Persatuan Lawan Tenis Indonesia (Pelti) sangat memprihatinkan.

Para atlet disebut hanya mendapat tempat seadanya, dengan tiga kasur tipis dan satu kamar mandi yang harus dipakai bersama oleh lebih dari sepuluh orang.

“Lokasinya jauh dari venue pertandingan. Akhirnya pihak Pelti harus memindahkan atlet ke penginapan yang layak dengan biaya sendiri,” ujar sumber tersebut, Sabtu (28/6/2025).

Masalah serupa juga dialami oleh cabor lain, seperti Perbakin. Beberapa atlet bahkan terpaksa mencari penginapan alternatif karena fasilitas yang disediakan KONI dianggap jauh dari layak.

Seorang atlet yang enggan disebutkan namanya turut mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut penginapan yang diberikan tak ubahnya seperti kos-kosan biasa, dengan kondisi tidak nyaman untuk istirahat usai bertanding.

“Kasur kosongan, tanpa fasilitas yang memadai. Buat istirahat saja tidak enak. Sementara uang saku kami hanya Rp 350 ribu. Jelas itu tidak cukup untuk kebutuhan di luar kota,” keluhnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebut soal ketidakjelasan pemberian reward kepada atlet berprestasi.

“Katanya reward Rp 10 juta untuk peraih medali, tapi kenyataannya banyak potongan dan tidak jelas ke mana dananya. Kasihan teman-teman yang sudah capek-capek berjuang,” tambahnya.

Kepala Disporabudpar Sampang, Marnilem, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa dana hibah untuk KONI tahun ini mencapai Rp 1,750 miliar. Namun ia menegaskan bahwa pihaknya hanya sebagai penyalur dana, sementara perincian penggunaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab KONI.

“Detail penggunaan anggaran itu ada di KONI, bukan di kami,” ujarnya dikutip dari Pilar Pos.

Sementara itu, Ketua KONI Sampang, Abdul Wasik, memilih untuk tidak memberikan penjelasan rinci. Saat ditanya terkait alokasi anggaran untuk Porprov, ia hanya menjawab singkat.

“Saya dan tim masih fokus pemenangan atlet. Maaf,” singkat Wasik.

Kritik juga datang dari Rofi, Aktivis Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur bahwa minimnya fasilitas, rendahnya uang saku, hingga kaburnya transparansi dana, menjadi cerminan buruknya tata kelola organisasi olahraga di Kabupaten Sampang. Ia menilai bahwa kondisi ini adalah bentuk nyata kelalaian KONI Sampang dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pembina olahraga daerah.

Rofi juga menegaskan bahwa para atlet yang seharusnya menjadi prioritas, justru terabaikan. Ke depan, perlu ada audit dan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja KONI, agar tidak lagi ada atlet yang menjadi korban dari buruknya manajemen dan pengelolaan anggaran olahraga di daerah ini.

(Faris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page