Sampang, radar-x.net – Mardinep warga asal dusun Bunut, desa Sejati, kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, hidup sebatang kara di gubuk yang tidak layak huni.
Pasalnya, Mardinep dalam kesehariannya untuk bertahan hidup hanya menanti belas kasih dari tetangganya, dan tempat tinggalnya di sebuah gubuk yang beralaskan tanah, berdinding anyaman bambu yang kini sudah mulai rusak. Parahnya lagi, atap gubuknya banyak yang bocor.
Ironisnya, Mardinep yang sudah Lanjut Usia (lansia) ini, belum pernah tersentuh oleh bantuan sosial dari pemerintah. Baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), hingga Jaring Pengaman Sosial (JPS).
Menurut Jamal salah satu warga setempat mengatakan, bahwa Mardinep tidak pernah merasakan bantuan sosial apapun sejak ditinggal oleh suaminya.
“Ya betul mas…! Mardinep belum pernah mendapatkan bantuan, ia hanya mendapatkan BLT DD saja,” ucap Jamal pada awak media radar-x. Minggu (27/12/2020).
“Kehidupan sehari-harinya Mardinep sangat menyayat hati para warga dan konglomerat setempat, karena dimasa mudanya mendapatkan bantuan sosial dari pusat dan daerah, namun masih ada yang terselip dari perhatian pemerintah.” Jelas Jamal.
Jamal juga mengungkapkan, bahwa sosok seorang Mardinep sangatlah pantas jika tercover oleh salah satu program bantuan sosial dari pemerintah, karena selama ini Mardinep menggantungkan hidupnya pada warga setempat, dimana warga di sekeliling Merdinep merupakan lingkungan orang-orang yang peduli sesama, sehingga warga setempat bisa membantu melalui penerangan listrik dan kebutuhan ekonomi lainnya.

“Kami berharap semoga pemerintah desa, daerah sampai pusat kiranya bisa membantu nenek sebatang kara ini,” harapnya.
Sementara Mardinep pada media mengatakan, di usianya yang sudah lanjut ini dirinya sering sakit dan untuk berobat masih memikirkan biaya.
Mardinep juga mengungkapkan, saat ini kondisi gubuknya mulai rapuh dan ia merasakan ketakutan ditambah lagi musim penghujan. Ia mengaku saat hujan turun dirinya mengungsi di rumah ponakannya yang tak jauh dari gubuknya.
“Kauleh takok pak! Roma buleh nikah takok robbu, mangkanah kauleh ngampong ke romanah panakan (Saya takut rumah saya ini roboh pak, makanya saya mengungsi ke rumah keponakan),” ucap Mardinep dengan logat madura.
Hingga berita ini dinaikkan, mengingat komponen bangunan yang ditempatinya sudah tidak layak huni, sehingga Mardinep berharap penuh bantuan dari pemerintah. (Tim/MK)














