BeritaBudayaGaya HidupTerbaru

Tradisi “Maleman” Masih Kental di Pulau Madura

261
×

Tradisi “Maleman” Masih Kental di Pulau Madura

Sebarkan artikel ini

SAMPANG, radar-x.net – Jajanan yang terbuat beras ketan dan dilengkapi dengan bumbu basah yang terbuat dari parutan kelapa dicampuri dengan gula yang biasanya orang madura menyebutkan “kencah” tersebut menjadi tradisi orang madura setiap tahun pada Bulan Puasa, yang disebut dengan tradisi “Maleman”.

Tradisi Maleman yaitu tanggal ganjil kalender mulai dari tanggal 21 (salekoran), 25 (saghemi’an), dan tanggal 27 (pettolekoran). Tradisi tersebut sudah turun menurun seakan menjadi kewajiban bagi masyarakat madura. Biasanya jajanan maleman diantarkan ke rumah-rumah warga setempat atau ke tetangga.

Nafa siswi kelas satu MI, sedang mengantarkan jajan maleman (ter ater,-red) ke rumah salah satu warga desa Sogiyan Omben Sampang Madura Jawa Timur, dan jajan maleman tersebut terbuat dari ketan dan parutan kelapa yang disebut plotan dan kencah (madura,-red), pada Kamis (30/5/2019).

Jajanan khas Madura, (plotan dan kencah).

Dengan pesatnya berkembangan Jaman, “plotan dan kencah” seakan mulai asing sebagai jajan maleman, karena masyarakat mulai menggunakan bermacan jajanan yang modern seperti kue, donat, sarikoyo, krupuk, lumpia, pisang keju dan lainnya. Alasannya karena jajan tersebut lebih disukai oleh masyarakat apalagi bagi anak-anak.

Menurut Luluk warga desa Sogiyan mengatakan, tradisi Maleman memang sudah jadi kebiasaan warga madura dan biasanya maleman itu diisi dengan memberikan jajan ke rumah-rumah tetangga, dan jajan tersebuat biasanya plotan dan kencah (bahasa madura,-red).

” Akhir-akhir ini plotan dan kencah sudah mulai hilang sebagai jajanan maleman, karena warga lebih memilih malemannya diisi dengan memberikan kue dan jajan-jajan yang modern karena lebih diminati oleh warga mas,” ungkap Luluk.

Sementara, Nariyeh selaku pengusaha kue di daerah tersebut mengatakan kepada awak media radar-x, bahwa pada tahun ini ia lebih banyak menerima pesanan kue dari warga, karena warga lebih memilih menggunakan kue dari pada plotan dan kencah.

” Kami lebih banyak menerima pesanan kue dari warga mas, karena warga lebih memilih menggunakan kue dari plotan dan kencah,” terangnya. (MK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page