![]() ![]() |
| Foto: Rullah, |
JEMBER – Temu seniman dan budayawan kab. Jember, Jawa Timur, dalam rangka pengembangan dan pelestarian seni budaya pendhalungan digelar pada Rabu(27/04/2016). Temu Seniman ini bertempat di Kantor Camat Bangsal Sari yang dihadiri oleh 7 Kecamatan Balung, Semboro, Panti, Gumuk Mas, Sumber Baru dan Bangsal Sari yang sebelumnya juga diadakan di Kec. Mayang yang juga dihadiri oleh 7 kecamatan dan Sumber Sari 8 kecamatan. Seperti yang diketahui Acara ini adalah program dari Dinas Pariwisata dari tanggal 25-28 April di seluruh kecamatan di Kab, Jember.
Camat Bangsal, Drs.E Sukardi, dalam sambutannya mengatakan, bahwasannya bersyukur dengan kegiatan ini dan mengacu kepada sikap yang diucapkan oleh bupati tentang 22 janji Bupati yaitu salah satunya mengembangkan pariwisata, kesenian di Jember agar nantinya akan sejahtera di tingkat masyarakat maupun pekerja seni itu sendiri. Kegiatan yang direncanakan camat Bangsal yaitu Manasik Haji yang merupakan salah satu rencana yang nantinya bisa mengangkat pariwisata, terutama di daerah Bangsal, salah satu bukti nyata kesenian yang berada di Bangsal Sari adalah musik patrol anak jalanan “ROMO GROUP” yang kemaren pernah tampil di Indosiar mendampingi Intan, salah satu finalis yang gugur dalam acara D’Academi 2.
Dikesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata, Sandy, menjelaskan banyak seniman yang ada di Jember, seni kuda lumping, hadrah, bela diri, patrol, dan masih banyak lagi kesenian yang ada di Jember. Tahun 2015 pernah diajukan dana ke pemda untuk diberi suntikan dana sepuluh jutaan yang rata kepada seratus lebih kesenian yang sudah dicantumkan namanya di dinas pariwisata namun dicoret semua oleh Bupati. Tugas dari dinas pariwisata adalah mengembangkan dan melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Jember, katanya.
![]() ![]() |
| Foto: Basofi |
Sementara itu, Joko Suprianto, komunitas pandhalungan mengatakan, ingin membangun sinergi yang sama, membangun kreatifitas, menghargai seni, saling mendukung dan saling membangun komunikasi. Penyebab utamanya meredupnya komunitas pandhalungan adalah kurangnya informasi kepada masyarakat karena kurangnya media untuk menyampaikan aspirasinya. Jadi dengan adanya pertemuan ini nantinya komunitas seni tradisional maupun pandhalungan dalam arti luas pecinta seni bisa lebih dikenal lagi, agar sanggar atau komunitas pecinta seni memiliki wadah dengan adanya sinergi dengan pihak Dinas Pariwisata, tandas pria seniman ini.
Hal senada, ditambahkan oleh Agus, “Mengembangkan kesenian yang ada di daerah agar kesenian yang berada di daerah tidak redup,” pungkasnya. (rullah/basofi)















