ArtikelPendidikanSejarah Budaya

Riwayat Hidup KH. Umar Sumberwringin, Jember: Dari Pesantren ke Medan Juang

1465
×

Riwayat Hidup KH. Umar Sumberwringin, Jember: Dari Pesantren ke Medan Juang

Sebarkan artikel ini
KH. Umar – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Sumber Wringin, Sukowono, Jember. Sosok ulama kharismatik yang istiqomah membimbing santri dalam ilmu dan akhlak. 📍 Sumber Wringin, Sukowono – Jember 📷 Sumber foto: Akun TikTok Titik Ilmu

Daftar Isi
1. Kelahiran
2. Wafat
3. Keluarga
4. Pendidikan
5. Menjadi Pengasuh Pesantren
6. Peranan di Nahdlatul Ulama
7. Melawan Penjajah
8. Aktif di Politik

Kelahiran

KH. Umar, yang memiliki nama asli KH. Mushowwir, lahir pada tahun 1904 Masehi di Desa Suko, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Beliau adalah putra sulung dari empat bersaudara, buah hati dari pasangan Kiai Ahmad Ikram dan Nyai Aminah. Sejak kecil, cahaya keulamaan dan semangat perjuangan sudah terpancar dalam diri sang kiai.

Wafat

Setelah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, kesehatan KH. Umar mulai menurun. Beliau kemudian wafat pada tahun 1982, meninggalkan jejak pengabdian panjang untuk umat, bangsa, dan agama.

Keluarga

KH. Umar menikahi Nyai Shofiah, satu-satunya putri dari KH. M. Syukri, pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai lima orang anak, yang kelak juga banyak berkiprah dalam dunia dakwah dan pesantren, yaitu:
• Nyai Hj. Masturoh Umar
• KH. Khotib Umar
• KH. Muzammil Umar
• KH. Misbah Umar
• KH. Lutfi Umar

Pendidikan

Perjalanan ilmu KH. Umar dimulai sejak usia dini. Ia belajar langsung kepada ayahnya sendiri. Seiring bertambahnya usia, ia dikirim menimba ilmu ke Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Madura, yang diasuh oleh KH. Abdul Hamid.
Di sana, KH. Umar dikenal sebagai santri yang sangat mengabdi kepada gurunya, bahkan setiap hari ia rela menimbakan air untuk mandi sang guru. Di antara sahabat seperjuangannya saat itu adalah tokoh-tokoh besar seperti:
• KH. As’ad Syamsul Arifin (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo)
• KH. Zaini Mun’im (Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo)
• KH. Junaidi Asmuni (Pesantren Bustanul Makmur, Banyuwangi)
Setelah sekian lama nyantri, KH. Umar kembali ke Jember. Namun haus ilmunya tak pernah padam. Ia melanjutkan pencarian ilmunya ke berbagai pesantren lain, di antaranya:
• Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin (di bawah asuhan KH. M. Syukri, paman sekaligus mertuanya)
• Pesantren Al-Wafa, Tempurejo
• Pesantren Ya’kub Hamdani, Siwalan Panji, Sidoarjo
Akhirnya, karena kondisi Pesantren Raudlatul Ulum membutuhkan kepemimpinan dan tenaga penggerak, serta KH. M. Syukri sudah uzur, KH. Umar memutuskan pulang dan menetap di Sumberwringin.

Menjadi Pengasuh Pesantren

Setelah wafatnya KH. M. Syukri, KH. Umar ditahbiskan menjadi pengasuh utama Pesantren Raudlatul Ulum. Tak lama setelah itu, beliau menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air dengan nama baru: KH. Muhammad Umar. Sejak saat itu, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama KH. Umar.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Umar dikenal sebagai tokoh pejuang NU yang tangguh meskipun namanya tidak terlalu populer secara nasional. Ia adalah ayah dari KH. Khotib Umar, tokoh NU yang sangat dikenal di Jawa Timur dan dekat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, dalam setiap kunjungan ke Jember, Gus Dur hampir selalu menyempatkan diri singgah ke Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin.

Melawan Penjajah
Perjuangan KH. Umar tak hanya di ranah pendidikan dan dakwah, tapi juga dalam kancah perjuangan melawan penjajahan. Pada masa kolonial Belanda, Pesantren Raudlatul Ulum dijadikan markas perjuangan di bawah komando langsung KH. Umar. Tak kurang dari 250 pejuang menjadikan pesantren ini sebagai basis perlawanan. Mereka mengaji di siang hari dan bergerilya di malam hari.

Saat penjajahan Jepang pun, beliau tetap teguh. Ia menolak melakukan Saikerei, ritual penghormatan kepada Kaisar Jepang, yang mewajibkan membungkukkan badan 90 derajat. Sikap tegas ini membuatnya menjadi target penjajah Jepang.

Penutup

KH. Umar adalah sosok ulama pejuang, pendidik, dan penggerak masyarakat. Jejak perjuangannya tidak hanya terekam dalam sejarah pesantren dan NU, tetapi juga dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia. Keteguhan, kesetiaan, dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu serta membela agama dan bangsa patut dijadikan teladan generasi penerus.

Sumber: Artikel ini dikutip dan disusun ulang dari akun TikTok Titik Ilmu, dengan tambahan penyusunan dan penulisan naratif oleh redaksi.

(Zen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page