Jember, RADAR-X.net – Pekerjaan pembangunan dinding penahan jalan di Dusun Jatisari, RT 001/RW 016, Desa Trisnogambar, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, menuai sorotan tajam dari warga. Selasa (11/11/2025)
Proyek yang digarap Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUPR BMSDA) Jember dengan nilai kontrak mencapai Rp.157 juta ini dinilai abai terhadap keselamatan masyarakat sekitar.
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Salah satu pengendara motor, (wali) dilaporkan menjadi korban kecelakaan, pada Senin (10/11/2025 ) yakni warga setempat, dusun Jatisari, tresnogambar, kab. Jember, setelah terpeleset akibat material proyek yang berserakan di badan jalan. Korban mengalami luka-luka dan nyaris tertabrak kendaraan lain.


“Bekas material dibiarkan berserakan, tidak segera dibersihkan. Sekarang musim hujan, jalan jadi makin licin,” ujar korban kepada Nono, aktivis Anti Korupsi Koordinator Wilayah Kabupaten Jember.
“Kalau begini, jelas tidak ada tanggung jawab. Sudah ada yang jatuh, bahkan mobil sempat terguling. Orang kerja proyek jangan cuma kejar hasil, tapi pikir juga keselamatan warga. Siapa yang mau tanggung jawab kalau ada korban?” keluhnya.
Aktivis Anti Korupsi, Nono, mengecam lemahnya pengawasan Dinas Bina Marga terhadap proyek-proyek di lapangan.
Menurutnya, setiap pekerjaan fisik, sekecil apa pun, wajib mengutamakan aspek keselamatan kerja dan keselamatan publik, sebagaimana diatur dalam perda (peraturan daerah), dan undang-undang.
“Ini bukan masalah kecil. Setiap proyek pemerintah harus punya tanggung jawab sosial dan lingkungan. Kalau sampai ada korban, berarti pengawasan lemah. Kami akan menindaklanjuti hal ini dan segera menemui Kepala Dinas Bina Marga Jember,” tegas Nono kepada wartawan.
Nono juga berencana memanfaatkan program ‘Wadul Guse’ — kanal aspirasi masyarakat yang digagas Bupati Jember Muhammad Fawait, S.E., M.Sc atau yang akrab disapa Gus Bupati — untuk memastikan apakah aduan masyarakat seperti ini benar-benar ditanggapi serius.
“Kita ingin tahu, apakah ‘Wadul Guse’ ini benar-benar berjalan. Karena kasus seperti ini sudah masuk kategori kelalaian yang merugikan warga,” tambahnya.
Kasus di Trisno gambar ini menambah daftar panjang keluhan warga terhadap proyek-proyek infrastruktur pemerintah daerah yang dianggap minim pengawasan dan tidak transparan. Warga berharap Dinas Bina Marga segera turun langsung ke lokasi, mengevaluasi kontraktor pelaksana, dan bertanggung jawab atas insiden yang sudah menimbulkan korban.
“Kalau begini terus, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan. Proyek pemerintah seharusnya membawa manfaat, bukan malah jadi ancaman bagi keselamatan warga,” ujar Rawi Salem, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kasus ini memperlihatkan masih lemahnya budaya pengawasan proyek di daerah. Dengan nilai anggaran mencapai ratusan juta rupiah, seharusnya standar keselamatan dan pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama. Pemerintah Kabupaten Jember perlu memastikan agar setiap rupiah uang rakyat benar-benar digunakan untuk pembangunan yang amanah, berkualitas, dan ber tanggung jawab.
(N&N)














