Artikel

Perjalanan Menuju Net Zero Emission (NZE): Apa Arti NZE untuk Sektor Swasta?

300
×

Perjalanan Menuju Net Zero Emission (NZE): Apa Arti NZE untuk Sektor Swasta?

Sebarkan artikel ini

Sebagai bentuk dukungan terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dari sektor swasta, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) berkolaborasi menyelenggaran webinar virtual “Apa Arti NZE untuk Sektor Swasta?”. Selasa (14/12).

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif IBCSD yang lebih besar yang bertajuk “Menuju Net Zero Emission” untuk mendorong kepemimpinan dan aksi kolektif dalam memprakarsai rencana jangka panjang yang konkrit menuju ekonomi rendah karbon dan emisi nol bersih sesuai kebijakan pemerintah.

Pasca Perjanjian Paris yang dibahas kembali pada COP26 lalu, jumlah perusahaan yang menyatakan komitmen mereka terhadap NZE dan mengambil tindakan untuk mengatasi perubahan iklim telah meningkat tiga kali lipat secara global. Setidaknya satu dari lima perusahaan publik terbesar di dunia telah berkomitmen untuk nol emisi bersih pada tahun 2050.

Dalam sambutannya, Presiden IBCSD, Shinta W Kamdani menyampaikan “Seperti telah kita ketahui bersama, Indonesia tengah menargetkan pembangunan ekonomi rendah karbon dengan meningkatkan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sejalan dengan gerakan bisnis global dan target nasional untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal, IBCSD, bersama dengan KADIN, akan ikut berperan dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan sektor swasta tentang pentingnya transisi ke NZE, mempromosikan kepemimpinan bisnis dan tindakan kolektif, serta memperkuat kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan. Adanya diskusi hari ini diharapkan dapat menjadi salah satu milestone yang berkontribusi terhadap pencapaian Net Zero Emission oleh sektor swasta untuk mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan.”

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Laksmi Dhewanti, MA menjelaskan, “Indonesia telah berkomitmen melalui target Nationally Determined Contribution (NDC) secara tegas akan menurunkan emisi GRK sampai dengan 41% dengan syarat adanya dukungan kerjasama internasional.

Tanpa syarat tersebut, maka unconditional target NDC Indonesia sebesar 29% telah didistribusikan ke 5 sektor prioritas yaitu kehutanan dan penggunaan lahan lainnya, energi, limbah, industri proses dan pertanian. Sektor kehutanan dan energi menjadi penyumbang terbesar target NDC. Penyusunan Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) memuat visi kebijakan jangka Panjang sampai 2050.

Dokumen ini menjadi arah dalam menetapkan target pembaruan NDC dan kebijakan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan yang ada. Pada prinsipnya upaya ini tidak hanya milik pemerintah tetapi juga menggaris bawahi peran semua stakeholder. Untuk itu dalam implementasi NDC dan peta jalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, kami mendorong komitmen berbagai macam pemangku kepentingan terutama dalam sektor swasta. Melalui kegiatan ini semakin banyak kolaborasi dan jejaring bersama mencapai target NDC.”

Adapun beberapa langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk strategi dan rencana nasional untuk mencapai emisi nol bersih dipaparkan oleh Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/BAPPENAS, Ir. Medrilzam, M.Prof. Econ, Ph.D “Saat ini sedang dalam upaya transformasi ekonomi hijau dengan prinsip low carbon development. Dilihat dari skenario yang disusun Bappenas, ekonomi hijau diproyeksikan dapat meningkatkan pendapatan per kapita sekitar 6% pada Indonesia Emas 2045. Untuk menuju NZE, Indonesia membutuhkan investasi besar sekitar 3-5% PDB dari tahun berjalan mulai 2022 dan tidak mungkin pemerintah mampu mengcover semua. Oleh karena itu pemerintah memberikan insentif bagi partisipasi ekonomi private sector berupa insentif fiskal pajak dan bea masuk untuk Pengembang Energi Baru Terbarukan (EBT) dan insentif non fiskal berupa deregulasi perizinan dan reward. Namun, tantangan kedepannya tidak hanya itu, masih ada resiko stranded asset, persiapan migrasi ke green jobs dan transfer teknologi dan inovasi. Jika kita tidak serius berinovasi pada teknologi, Indonesia hanya akan menjadi market bagi teknologi negara maju”, ujar Medrilzam.

Pada kesempatan yang sama, Executive Director Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menambahkan, “Ada 4 strategi bisa korporasi lakukan yang pertama menggunakan EBT, mengurangi ketergantungan fossil fuel, elektrifikasi dan penggunaan bahan bakar bersih. Jika kita ingin mencapai Net Zero Emission pada 2030, maka bauran energi terbarukan harus mencapai setidaknya mendekati 50% dari primary energy mix. Untuk itu menyelaraskan capaian target NZE korporasi dengan target Paris Agreement pada 2030, korporasi sebaiknya melakukan inventarisasi kontribusi perusahaan terhadap emisi gas rumah kaca, target yang jelas dan transparansi terukur capaian target kepada publik.”

Melihat hal tersebut, Regional Lead – Commit to Action (CTA) Carbon Disclosure Project (CDP), Amelia Tan mengatakan, “Untuk mencapai NZE, perusahaan yang harus mmemiliki target berbasis sains, naik pendek maupun Panjang dengan melakukan perubahan dalam hal mitigasi dan netralisasi residu emisi yang jelas. Science Based Target Initiative (SBTi) membantu perusahaan Anda menentukan seberapa banyak dan seberapa cepat Anda dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendorong tindakan nyata dalam operasi perusahaan Anda. International Sustainability Standard Board (ISSB) telah menerbitkan standar pengungkapan keberlanjutan dalam pelaporan keuangan yang sudah terintegrasi dengan peraturan negara dan pemangku kepentingan yang mengacu pada SBTi.”

Selain pemerintah, transisi rendah emisi juga perlu dilakukan oleh pihak swasta sebagai pelaku usaha. Ketua Komisi Perubahan Iklim KADIN, Dharsono Hartono menjelaskan “Isu Net Zero Emission bukanlah isu sesaat. Melihat target NZE negara dan perusahaan, KADIN memiliki 7 fokus prioritas dekarbonisasi berbagai sektor swasta untuk mendukung Perpres mengenai Nilai Ekonomi Karbon. Salah satunya dengan berfokus pada kegiatan restorasi dan konservasi menjadi peluang besar bagi Indonesia. Estimasi kami ada 300 MtonCO2 tersimpan di Indonesia yang dapat menjadi titik awal Indonesia dalam berbisnis karbon. Dalam hal ini, KADIN sebagai mitra usaha pemerintah sudah mulai melakukan beberapa kegiatan seperti webinar, melakukan kolaborasi penjualan karbon kredit domestik yang bisa membantu pemerintah untuk mencapai target NDC dan advokasi public-private partnership.”

Bergabung dengan sesi tersebut sebagai penanggap, Azis Armand, Vice President dan Group CEO Indika Energy menjelaskan “Indika sebagai holding company dengan portofolio 80% energi batu bara merasa penurunan carbon footprint dengan dekarbonisasi dari sisi operasional dan portofolionya sangat krusial bagi keberlangsungan perusahaan. Di operasional Indika berfokus konversi energi ke solar panel dan konversi mobile combustion fossil fuel ke electric vehicle. Pada sisi portofolio aset, Indika melakukan difestasi aset high carbon footprint dan investasi low carbon economy. Dengan target penurunan dalam emisi 20% di 2025 dan penggunaan teknologi energi terbarukan 40% di 2030, Indika Energy optimis dapat mencapai Net Zero Emission di 2050.”

Sementara itu Deputy Director Sustainability and Stakeholder Engagement APRIL Group, Dian Novarina berbagi “APRIL Group memiliki ambisi APRIL 2030 transisi menuju NZE dengan 4 pillar. Salah satunya Target Climate Positive dengan Net Zero Emission penggunaan lahan, peningkatan pengguanaan energi terbarukan 50% di fiber operation dan 90% di mill operation serta menurunkan emisi karbon di keseluruhan produk sebanyak 25%. Semua komitmen APRIL 2030 dirancang dengan metrik spesifik dilakukan secara terukur, dapat diaudit dan transparan.”

Moderator Webinar, Desi Anwar menyimpulkan bahwa 2050 Net Zero Emission ini merupakan target bersama yang dimana seluruh pemangku kepentingan harus berkomitmen pada perencanaan transisi energi, kolaborasi dalam inovasi, teknologi dan investasi, serta transpansi dalam pelaporan dan perhitungan emisi. Net Zero Emission bukanlah hanya tugas satu perusahan ataupun satu negara tetapi tanggung jawab bersama seluruh dunia sebagai warga planet bumi.

Tonton kembali diskusinya di sini: Perjalanan Menuju Net Zero Emission: Apa Arti NZE bagi Sektor Swasta?
Untuk video webinar lebih lanjut, silakan akses https://rebrand.ly/VideoNZE2021
Untuk mendownload materinya silahkan melalui https://rebrand.ly/MateriNZE2021

*Jakarta, 15 December 2021
Farah Nabila Luthfiyya
Communication IBCSD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page