“Pengorbanan Sang Malaikat Surga”
Judul buku : Simbok
Penulis : Dewi Helsper
Editor : Cicilia Prima
Penerbit : Grasindo
Tahun Terbit : Cetakan pertama, Juli 2016
Tebal buku : 178 halaman
ISBN : 978-602-375-597-4
Harga buku : Rp 52.000,00
Setiap Ibu punya cara tersendiri untuk membahagiakan anak, meskipun terkadang harus berkorban, itulah sifat naluri seorang Ibu yang peka dan perhatian yang tulus terhadap anak, namun terkadang jasa seorang Ibu disepelekan. Malah bersifat durhaka dan acuh tak acuh terhadap Ibu.
Dikisahkan di krompleks real estate kelas menengah atas adalah rumah Dewi seorang wanita yang sudah bersuami, anak orang elit yang cantik dan manja, ia adalah menantu Ibu Tina (simbok) seorang wanita tua yang lugu dan tradisional. Di dapur tampak Ibu Tina yang sedang sibuk membuat kue jajanan ala kampung. Dewi mendekati dan bertanya kepada Ibu Tina apa yang dilakukan di dapur, Ibu Tina hanya menjawab dengan nada polos dan sumringah pada raut wajahnya. Sikap Dewi tampak kesal dan tercengang melihat Ibu Tina membuat kue kampung yang nanti akan dijual di kompleks real estate. Dewi merasa mertuanya memalukan dan membuang tas belanjaan dengan kasar, sontak membuat Ibu Tina kaget dan mengelus dadanya. Sikap Dewi yang kasar dan menasehati Ibu Tina dengan nada keras yang tidak mencerminkan kepatuhan terhadap orang tua.
Usai kejadian itu, Dewi melapor kejadian ini ke suaminya. Ia menelpon dengan nada kesal dan marah-marah, sementara suaminya mendengarkan celotehan Dewi dan menjawab dengan nada lembut agar suasana tidak terlalu tegang. Telepon Dewi dimatikan begitu saja dan membuat Yusuf kebingungan karena sikap Dewi yang manja. Sementara terlihat Ibu Tina tampak kerepotan mengangkat meja kecil dan hanya dibantu oleh Chacha (anak Dewi). Dewi masih bergumam dan malah kesal ketika Chacha juga ikut-ikutan membantu neneknya berjualan kue dan cendol. Tindakan Ibu Tina membuat malu Dewi dan Yusuf, padahal mereka sudah menasehati jangan berjualan lagi, namun keinginan kuat Ibu Tina untuk berjualan masih tetap dipertaruhkan.
Menurut Simbok, “Orang hidup itu jangan tergantung pada penilaian tetangga. Katanya kalian ini orang kota, sudah modern. Lha kok masih bijaksana orang kampung.” Dan Simbok, adalah wanita tangguh yang berani tampil dengan seluruh kesederhanaan (halaman 31). “Namun, hidup ini terlalu kompleks, Mbok. Kami juga punya kebutuhan untuk meraih kebahagiaan hidup. Kebahagiaan sesuai dengan ukuran dan cita rasa kami. Apa pantas anak tunggalnya seorang insinyur, sementara ibunya jualan jajanan dan cendol?! ( halaman 37 ).”
Pola pikir Dewi dan Simbok memang tidak dapat disatukan, “Ibarat minyak tanah dengan air, tidak akan bisa menyatu (halaman 15)”. Permasalahan semakin bertambah ketika Ibu kandung Dewi mendukung dan membela Dewi untuk tidak mengalah kepada keputusan Simbok, namun akhirnya Simbok mengalah demi kecintaan dan keharmonisan rumah tangga anaknya. Ia rela dibawa ke panti jompo agar tidak terjadi permasalahan dalam keluarga kecil Yusuf, namun Yusuf sangat marah ketika ibunya dimasukkan ke dalam panti jompo tanpa sepengetahuan Yusuf. Sungguh tindakan Dewi sangat kejam terhadap mertuanya sendiri, tanpa persetujuan dari Yusuf.
Novel ini berakhir dengan kisah yang pilu dalam bentuk keharuan yang terjadi saat perpisahan Yusuf dengan Ibu Tina, walau ada air mata tertahan. Ada kenangan indah yang tertinggal di benak mata Simbok, dan kelak Simbok bahagia tinggal di panti jompo.
Novel “Simbok” adalah bentuk inspirasi dan pengorbanan seorang Ibu yang tegar menjalani kehidupan. Penulis berhasil mencatatkan kenangan demi kenangan di masa lalu Simbok yang bekerja keras demi Yusuf agar tercapai cita-citanya, mengolahnya ke dalam ranah fiksi dengan gaya bahasa khas, hingga rangkaian cerita tersaji apik di hadapan pembaca. Sejatinya, setiap perjalanan kehidupan itu sangat berharga.
Kisah dalam novel ini sangat menginspirasi dalam menyelami kehidupan di dunia ini, novel ini juga cocok dibaca sekali duduk, terlebih lagi untuk kalangan dewasa. Terdapat kesan positif serta pelajaran yang berguna bagi kehidupan nyata, yaitu Ibu akan berkorban apa saja demi anak, agar anak bisa bahagia. Anda akan diajak berpikir, merenung, terharu, dan bernyanyi di beberapa bagian bab yang mengundang lirik lagu.
Penulis : Sabella Arjana Fasari
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang














