Jember, RADAR-X.net – Kerjasama antara Pak Fathurrohman, dengan Gudang Sadana Sampoerna di wilayah Pakusari yang telah berlangsung selama kurang lebih 14 tahun, menghadapi tantangan setelah terjadi penolakan terhadap sejumlah tembakau.
Sekitar 1,2 ton tembakau yang sebagian berasal dari Jember dan Situbondo tidak diterima oleh pihak gudang, meskipun sebelumnya telah disetujui oleh kepala grader untuk diterima dan diproses, Minggu (27/10/24).
Penolakan tersebut mengejutkan Fathurrahman selaku pihak mitra, terutama mengingat bahwa tembakau yang ditolak telah melewati prosedur standar, termasuk proses pengecekan dan persetujuan awal dari kepala grader pada 15 Oktober lalu untuk pengiriman sebanyak 7,5 ton dan sudah di terima oleh gudang. Pak Fathurrohman sempat mempertanyakan alasan di balik penolakan itu, mengingat kualitas tembakau yang dikirim sama dengan pengiriman sebelumnya.
Pak Fathurrohman juga mengaku bahwa ia telah diberi izin oleh pihak grader untuk membeli tembakau dari daerah Situbondo dengan grade yang telah disepakati, yang dianggap lebih ekonomis dan sesuai standar.
“Dengan adanya penolakan ini, kami mengalami kerugian sekitar Rp60 juta,” ungkap Pak Fathurrohman.
Ia berharap agar kepala grader bisa menjalankan tugasnya dengan lebih profesional, dan tidak mengingkari apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama, demi kelancaran kemitraan antara gudang dan para petani atau mitra pengirim tembakau.
Upaya wartawan untuk mengkonfirmasi hal ini kepada kepala grader tidak mendapatkan hasil. Pihak keamanan gudang menyatakan bahwa kepala grader sedang sibuk bekerja dan tidak bisa diganggu.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, kepala grader pun menolak memberikan tanggapan, dengan alasan hal tersebut merupakan masalah internal.
“Maaf pak ini Masalah internal gudang,” singkatnya
Salah satu satpam yang ditemui di lokasi hanya menyatakan bahwa memang ada sedikit permasalahan terkait penolakan tembakau, namun enggan memberikan keterangan lebih lanjut. Sikap tertutup ini menimbulkan tanda tanya di kalangan mitra dan petani yang selama ini telah mendukung operasional gudang melalui pasokan tembakau.
Kejadian ini menambah sorotan pentingnya komunikasi yang transparan dan profesionalisme dari setiap pihak dalam menjaga hubungan kemitraan, terutama di sektor industri tembakau yang sangat bergantung pada kepercayaan antara gudang, grader, dan petani pengirim.












