Politik

KH Hasan Sentil Politik Tanpa Pengabdian: PPP Bukan Sekadar Kursi Kekuasaan!

×

KH Hasan Sentil Politik Tanpa Pengabdian: PPP Bukan Sekadar Kursi Kekuasaan!

Sebarkan artikel ini
KH Hasan Sentil Politik Tanpa Pengabdian: PPP Bukan Sekadar Kursi Kekuasaan!
KH. Moh. Hasan, S.H., M.H., dalam pidatonya menegaskan bahwa politik harus memiliki arah perjuangan yang jelas

BONDOWOSO, Radar-X.net – Politik bukan sekadar berburu jabatan, mengejar kekuasaan, atau memperebutkan pengaruh. Lebih dari itu, politik harus menjadi jalan perjuangan untuk membela kepentingan umat dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Hari Santri Nasional yang digelar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bondowoso, Selasa (20/10/2026).

KH. Moh. Hasan, S.H., M.H., dalam pidatonya menegaskan bahwa politik harus memiliki arah perjuangan yang jelas. Bagi umat Islam, keterlibatan dalam politik semestinya menjadi ikhtiar untuk memperjuangkan nilai-nilai keagamaan, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Menurutnya, perjuangan keagamaan tidak cukup berhenti pada ceramah, pengajian, maupun aktivitas sosial. Umat juga perlu mengambil peran dalam proses pengambilan kebijakan agar aspirasi dan kepentingannya dapat diperjuangkan secara nyata.

“Kenapa kita harus berpolitik? Karena kita tidak bisa menguasai kebijakan dan pemerintahan tanpa melalui politik. Di sinilah pentingnya kita menjadi bagian dari partai, agar dapat memperjuangkan amar ma’ruf nahi mungkar,” demikian inti pesan yang disampaikan KH. Hasan.

Ia mengingatkan, jabatan politik seharusnya tidak menjadi tujuan akhir perjuangan. Sebaliknya, posisi dan kewenangan harus dimanfaatkan sebagai sarana pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Insentif Guru Ngaji Jadi Contoh, Politik Harus Punya Bukti

Untuk memperkuat pandangannya, KH. Hasan menyinggung pengalaman PPP di Bondowoso, khususnya pada masa pemerintahan Bupati KH. Salwa Arifin.

Ia mengangkat perjuangan peningkatan insentif guru ngaji sebagai salah satu contoh bagaimana aspirasi masyarakat dapat diperjuangkan melalui jalur politik dan diterjemahkan menjadi kebijakan pemerintah.

Selain itu, ia juga menyinggung bantuan kendaraan operasional bagi sejumlah pondok pesantren pada masa pemerintahan tersebut.

Bagi KH. Hasan, pengalaman itu menunjukkan bahwa politik dapat menjadi instrumen perjuangan ketika dijalankan dengan tujuan yang jelas dan keberpihakan kepada kepentingan umat.

Pesannya tegas: kader partai tidak boleh hanya sibuk membangun posisi, tetapi harus mampu menunjukkan manfaat nyata dari perjuangannya.

Politik, dalam pandangannya, harus menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat, nilai-nilai keagamaan, dan keputusan pemerintah.

Konsolidasi Kader, Menata Kembali Kekuatan PPP

Di hadapan para kader dan pengurus PPP, KH. Hasan juga menyinggung pentingnya memperkuat organisasi untuk membangun kembali kekuatan partai di Bondowoso.

Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, sekitar satu minggu. Semula, acara direncanakan berlangsung pada bulan Maulid sebelumnya, tetapi harus menyesuaikan jadwal kiai yang diundang.

Meski persiapannya terbilang mendadak, ia berharap kegiatan itu tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat konsolidasi, dan membangkitkan semangat perjuangan kader.

Ia juga memberikan apresiasi kepada KH. Muhammad Idror Maimoen Zubair atas perannya dalam menggerakkan organisasi dan memperkuat konsolidasi partai.

KH Idror: Cinta Rasul Jangan Berhenti di Seremoni

Sementara itu, KH. Muhammad Idror Maimoen Zubair mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk kembali mendalami sejarah, perjuangan, dan keteladanan Rasulullah.

Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup diwujudkan melalui perayaan Maulid semata. Kecintaan tersebut harus tercermin dalam kesungguhan mempelajari sunnah, memahami perjalanan hidup Rasulullah, serta menerapkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus membaca Maulid, mempelajari sirah nabawiyah, dan memperbanyak kajian keislaman agar generasi mendatang semakin mengenal perjuangan Nabi Muhammad SAW.

KH. Idror menekankan bahwa Rasulullah merupakan teladan dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, umat Islam perlu kembali menjadikan ajaran dan akhlak beliau sebagai pedoman ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Hari Santri, Momentum Membuktikan Perjuangan

Peringatan Maulid Nabi dan Hari Santri Nasional tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan semangat keagamaan dengan perjuangan politik.

Bagi PPP Bondowoso, tantangannya bukan sekadar menjaga identitas sebagai partai berbasis nilai-nilai Islam, melainkan membuktikan bahwa nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat, pendidikan keagamaan, nasib guru ngaji, serta pengawalan kebijakan publik menjadi bagian dari ruang perjuangan yang perlu terus diperkuat.

Pada akhirnya, ukuran perjuangan politik bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Maulid mengajarkan keteladanan, Hari Santri menghidupkan semangat perjuangan, dan politik seharusnya menjadi jalan pengabdian. Bagi PPP Bondowoso, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membesarkan partai harus berjalan seiring dengan memperjuangkan kepentingan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page