![]() ![]() |
| Foto: Zulkarnain |
LOMBOK TENGAH – Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia sungguh melimpah ruah,baik yang berada dilautan maupun didaratan.Tidak salah bila bangsa lain menyebut Indonesia sebagai sorga dari timur karena kekayaan alamnya.
SDA yang kaya dipergunakan semaksimal mungkin sebagai sumber mata pencahariaan oleh bangsa Indonesia.Sebut saja salah satunya adalah pohon bambu. Bambu,disamping menghasilkan rebung sebagai bahan sayur-sayuran juga dapat menghasilkan berbagai jenis anyam-anyaman dan hasil karya lainnya oleh tangan-tangan terampil bangsa ini dari Sabang sampai Merauke.
Begitupun yang dilakukan oleh sebagian besar warga masyarakat Desa Bujak, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah – NTB. Dari puluhan tahun yang lalu, masyarakat di Desa Bujak turun temurun telah memanfaatkan bambu sebagai bahan mata pencahariaan, dari tangan-tangan terampil mereka dapat menghasilkan berbagai karya seperti belaq atau berugaq dalam bahasa sasak, berbagai jenis sangkar yang indah, pagar, sapu lantai, dan hasil karya lainnya,kata Kaur Keuangan Kantor Desa Bujak, Masrihin Halidi, SH, menyampaikan kepada RADAR-X saat meninjau pusat kerajinan bambu di Dusun Bujak Selasa,(3/01/2017).
Lebih jauh Masrihin menambahkan, dari bambu mereka bisa menyambung hidup, bambu tidak bisa terpisahkan dari masyarakat Desa Bujak. “Kerajinan bambu merupakan warisan dan pusaka nenek moyang warga masyarakat dusun Bujak yang diturunkan turun temurun,” tandas Masrihin yang juga menjabat sebagai Pimpinan BLK-Luar Negeri PT.Citra Catur Utama Karya NTB ini.
Ditengah eksistensinya, para pengrajin bambu bukan berarti tidak memiliki permasalahan atau kendala yang dihadapinya. Masalah kronis yang dihadapi adalah masalah permodalan dan pemasaran.Yang dibutuhkan oleh pengrajin bambu Desa Bujak adalah sentuhan dari berbagai pihak untuk membantu dalam permodalan dan pemasaran baik lintas Kabupaten maupun Provinsi, seperti campur tangan Pemerintah Desa, Kabupaten yaitu Dinas terkait ataupun pihak ketiga sebagai orang tua asuh atau Pembina, karena berbagai hasil kerajinan warga masyarakat dari bambu ini masih berjalan sendiri-sendiri.
Pemasaran ataupun penjualan mereka lakukan oleh masing-masing pengrajin,sehingga angka penjualan tergolong masih kurang lancar, itupun bila ada pemesanan dengan nominal harga yang cukup tinggi baru kami kerjakan, kata salah satu pengrajin yang enggan disebutkan namanya.
“Intinya,kami dari para pengrajin membutuhkan supplier dari hasil kerajinan bambu kami ini, sehingga kegiatan produksi kami tidak tersendat,”tandasnya.
Masrihin sependapat dengan masukan tersebut dan akan menyampaikan hal ini kepada pihak Pemdes, dan semoga nanti dari pihak Pemdes Bujak bisa membantu mencarikan solusi terhadap permasalahan atau kendala dalam melakukan pemasaran ataupun permodalan yang dihadapi pengrajin.
Bagi kami dari pihak Pemdes saat ini adalah hasil karya buah tangan warga dari bambu terus eksis dan bagi para peminat dan pencinta hasil kerajinan dari bahan bambu seperti yang telah kami sebutkan diatas, “silahkan mendatangi tempat kami, pusat kerajinan bambu Desa Bujak dengan hasil kwalitas yg tidak diragukan lagi,”kata Masrihin. (Zulkarnain/Buhari).














