ArtikelBerita

Implementasi Kurikulum Paud 2013 Berbasis “Multiple Intelegences”

×

Implementasi Kurikulum Paud 2013 Berbasis “Multiple Intelegences”

Sebarkan artikel ini
Implementasi Kurikulum Paud 2013 Berbasis "Multiple Intelegences"
“IMPLEMENTASI INOVATIF KURIKULUM PAUD 2013 BERBASIS MULTIPLE INTELEGENCES”

Oleh : Cindy Geofany Okta Putry (201610080311159)/1C
Program studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang
     Pesatnya pertumbuhan PAUD di Indonesia tidak disertai perhatian yang serius, bahkan terkait kebijakan publik di bidang pendidikan sekalipun. Perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum 2013 seolah-olah hanya menjadi persoalan yang genting dan penting untuk pendidikan dasar dan menengah, bukan untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD). Dalam realitanya, multiple intelegences banyak disalahpahami sebagai kurikulum. Disisi lain, multiple intelegences yang semua berupa teori ketika masih di dunia psikologi harus berubah menjadi strategi ketika memasuki dunia edukasi menjadi persoalan tersendiri bagi guru. akibatnya, paradigma besar tersebut tidak berimplikasi bagi meningkatnya kualitas pembelajaran, kecuali sebatas menambah wawasan guru, bukan anak didik.
Multiple intelegences saat ini telah menjadi paradigma besar semua lembaga pendidikan diseluruh dunia, tidak terkecuali semua PAUD di Indonesia. Multiple intelegences telah mendobrak paradigma kecerdasan lama berwajah tunggal yang memandang anak cerdas hanya diukur dari skor IQ yang tinggi. Multiple intelegences menyatakan bahwa kecerdasan tidak hanya satu, tetapi berwajah banyak. Oleh karena itu, Multiple intelegences memandang bahwa semua anak memiliki kecerdasan masing-masing. Dengan menggunakan strategi multiple intelegences diharapkan praktik kurikulum 2013 pada PAUD dapat mengembangkan kecerdasan yang beragam dikalangan anak didik sehingga semua potensi dapat digali melalui kegiatan pembelajaran secara terprogram.
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang memiliki peran strategis karena seluruh kegiatan pendidikan berpusat pada kurikulum. Kurikulum memegang kunci dalam pendidikan, serta berkitan dengan penentuan arah, isi, dan proses pendidikan yang menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam kegiatan pendidikan maka dalam penyusunannya memerlukan landasan yang kuat melalui pemikiran dan penelitian yang mendalam. 
Pada dasarnya kurikulum berfungi sebagai pedoman dalam melaksanakn proses pembelajaran. Kurikulum dipersiapkan untuk siswa dalam rangka memberi pengalaman baru yang dapat dikembangkan anak seiring dengan perkembangan mereka sebagai bekal kehidupannya.
Bagi guru, kurikulum digunakan sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasi pengalaman belajar bagi anak didik, mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan, dan mengatur kegiatan dan pengajaran.
Bagi kepala sekolah, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam memperbaiki situasi belajar sehingga lebih kondusif, memberikan bantuan kepada pendidik dalam memperbaiki situasi belajar, dan mengadakan evaluasi kemajuan kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum bagi orangtua dapat dijadikan sebagai acuan untuk berpartisipasi dalam membimbing anak-anaknya sehingga pengalaman belajar yang diberikan oleh orang tua sesuai dengan pengalaman belajar yang diterima anak di sekolah.
Kurikulum bagi masyarakat dapat dijadikan sarana penghubung antara sekolah dengan lingkungan setempat. Dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kurikulum sekolah, akan sangat bermanfat bagi sekolah karena masyarakat dapat ikut memberikan kritik dan saran yang membantu dalam rangka menyempurnakan program pendidikan di sekolah.
Semua kecerdasan berbeda-beda, tetapi semuanya sederajat semua kecerdasan dimiliki setiap orang dalam kadar yang sama, memiliki indikator kecerdasan dalam tiap-tiap kecedasan, semua kecerdasan yang berbeda akan saling bekerja sama dalam mewujudkan aktivitas manusia.
Ciri-Ciri Kecerdasan
Majemuk pertama,  Kecerdasan linguistik, seorang anak yang memunyai kecerdasan linguistik memiliki kepribadian yaitu peka terhadap bahasa, dapat berbicara dengan teratur dan sistematis, memiliki penalaran yang tinggi. 
Kedua Kecerdasan logis-matematis, Anak yang memunyai kecerdasan logis matematis memiliki ciri-ciri kepribadian yaitu anak suka berpikir abstrak dan suka akan keakuratan, menikmati tugas hitung-menghitung. 
Ketiga Kecerdasan visual dan spasial, Ciri kepribadian yang menonjol dalam diri anak yang memiliki kemampuan visual-spasial adalah anak dapat berpikir dengan menciptakan sketsa atau gambar, mudah sekali membaca peta dan diagram, mudah ingat bila melihat gambar, memiliki cita warna tinggi dan mampu menggunakan semua panca indra untuk melukiskan sesuatu. 
Keempat kecerdasan musik, beberapa sifat yang nampak dalam diri seorang anak yang memiliki kecerdasan musik adalah anak peka terhadap nada, irama dan warna suara. Peka terhadap nuansa emosi suatu musik dan peka terhadap gubahan musik yang bervariasi dan biasanya sangat spiritual.
Kelima kecerdasan interpersonal, Sifat-sifat yang menonjol dalam diri orang anak yang memiliki kecerdasan interpersonal adalah anak ahli dalam berunding, pintar bergaul dan mampu membaca niat orang lain serta menikmati saat-saat bersama orang lain. 
Keenam Kecerdasan intrapersonal, Sifat-sifat yang dimiliki oleh anak yang memunyai kecerdasan intrapersonal adalah anak peka terhadap nilai-nilai yang dimiliki, sangat memahami diri, sadar betul emosi dirinya, peka terhadap tujuan hidupnya, mampu mengembangkan kepribadiannya, bisa memotivasi diri sendiri, sangat sadar akan kekuatan dan kelemahanannya. 
Ketujuh Kecerdasan kinestetik, ciri-ciri kepribadian anak dengan kecerdasan kinestetik adalah anak dapat  bersikap rileks, suka olah raga fisik dan suka menyentuh. Anak ahli bermain peran, belajar dengan bergerak-gerak dan berperan serta dalam proses belajar. 
Kedelapan Kecerdasan naturalis, sifat-sifat yang dimiliki anak dengan kecerdasan naturalis adalah anak suka dengan alam sekitar, lebih senang berada di alam terbuka dari pada di ruangan dan suka berpetualang menjelajah hutan. 
Kesembilan Kecerdasan Eksistensial, sifat-sifat yang dimiliki seorang anak dengan kecerdasan Eksistensial  adalah anak suka bertanya soal kebenaran dan inti persoalan, kritis, suka merenung dan melakukan refleksi diri serta senang berdiskusi mengenai hakekat hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page