BeritaPendidikan

Gedung Sekolah Ambruk, Dinas Terkait Diduga Tutup Mata

×

Gedung Sekolah Ambruk, Dinas Terkait Diduga Tutup Mata

Sebarkan artikel ini
Gedung Sekolah Ambruk, Dinas Terkait Diduga Tutup Mata
Kondisi Atap SDN 02 Sumbersari (Foto: Hs)

JEMBER – Bukan hal yang aneh lagi, kasus gedung sekolah ambruk terjadi di Jember. Kali ini, satu ruang kelas SDN Jambesari dua(2), Kecamatan Sumberbaru, ambruk dan mengakibatkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terganggu.Beruntung, ambruknya atap gedung sekolah itu terjadi saat sedang liburan, sehingga tidak sampai menimbulkan korban.

Menurut Adi Mulyono, guru kelas 4, gedung yang ambruk itu selama ini digunakan siswa kelas 1 dan kelas 2. “Jadi ruang kelas itu digabung antara kelas 1 dan kelas 2. Kita pasang sekat di tengah,” ujar Adi.

Menurutnya, ruangan itu ambruk karena kondisi tembok yang retak. Diperparah lagi kayu bangunan sudah banyak yang lapuk.
Sebelum ruang kelas itu ambruk, diawali bagian teras yang lebih terlebih dulu ambruk pada tanggal 15 Desember lalu. “Kemudian tanggal 26 Desember (2016) satu ruang kelas itu ikut ambruk,” jelas Adi.

Adi menjelaskan sebelum ruang kelas ambruk, Rosida guru yang mengajar kelas 1, sempat mendengar suara “kretek…kretek”.
Mendengar suara itu, Rosida langsung keluar dan melihat bagian atas wuwung sudah melengkung. Selanjutnya, Rosida menyampaikan kondisi itu kepada Atmo, selaku kepala sekolah SD tersebut. “Sejak saat itu, pihak sekolah mengajukan perbaikan ke Dinas Pendidikan Jember. Tapi sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.

Bahkan, pengajuan itu sebenarnya dilakukan sejak dua kepala sekolah sebelumnya. Karena kondisi gedung sekolah itu sangat memprihatinkan. “Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang guru dan ruang kepala sekolah. Dari tiga ruang kelas itu masing-masing ruang kelas disekat menjadi dua ruang kelas,” kata Adi.
Kata dia, pengajuan rehab gedung dilakukan sejak tahun 2012 lalu. Meski sempat ada utusan dari Dinas Pendidikan Jember untuk melakukan survey, namun nyatanya hingga kini gedung itu belum diperbaiki, malah sampai ambruk. “Padahal jumlah siswa di sekolah ini cukup banyak, ada 164 siswa,” tambah Adi.

Sejak ruang itu ambruk, praktis KBM dilakukan di teras depan ruang kelas. Karena ruang kelas terbatas, maka untuk siswa kelas 3 terpaksa menempati ruang kelas yang berdempetan dengan ruang kelas yang ambruk. “Selain itu separuh ruang kelas itu menjadi tempat penimbunan bangku dan meja ruang kelas yang ambruk,” jelas Adi.

Bahkan, akibat ambruknya ruang kelas 1 itu, banyak siswa yang tidak masuk sekolah. Terlebih saat hujan deras. Sejumlah orang tua siswa khawatir ruang lain yang ditempati siswa itu ikut ambruk. “Jadi para orang tua itu kalau pas hujan melarang anaknya masuk sekolah. Karena ya itu tadi, khawatir ruangannya ambruk lagi,” sambung Adi.

Larangan orang tua siswa ini cukup beralasan. Karena ruang kelas yang ditempati kelas 3 sudah tidak layak. Bagian Kuda-kuda (blandar, red) dibagian atas sudah mulai miring setelah terkena imbas ambruknya ruang kelas 1. “Sehingga kalau hujan deras, ruangannya bocor,” katanya.

Atas kondisi itu, pihaknya berharap agar Dinas Pendidikan Jember segera mengambil langkah-langkah utamanya perbaikan, agar gedung itu tidak ambruk lagi dan menimbulkan korban.

Pantauan wartawan di lapangan, bagian atap ruang kelas sudah mulai melengkung dan genteng mulai banyak yang jatuh. Demikian juga di masing-masing kusen pintu dan daun jendela sudah keropos. Selain itu, eternit di seluruh ruangan sudah banyak yang jatuh karena pelafonnya kropos. (Hs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page