Gaya Hidup

Deki dan Hariono: Dari Pengawas Pemilu ke Pertanian Hijau Masa Depan

×

Deki dan Hariono: Dari Pengawas Pemilu ke Pertanian Hijau Masa Depan

Sebarkan artikel ini

Jember – Bab 1: Persimpangan Jalan
Deki, seorang mantan aktivis PMII Fakultas Hukum Universitas Jember angkatan 2014, sedang sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai Panwascam di Kecamatan Patrang saat pemilu 2024 berlangsung. Meski disibukkan dengan dinamika pengawasan pemilu, ia tak pernah lupa masa-masa kuliahnya, terutama saat ia belajar banyak dari seniornya di PMII, Cak Yono—panggilan akrab Hariono.

Hariono, atau yang lebih akrab disebut Cak Yono oleh juniornya, adalah seorang senior yang karismatik dan dihormati di kalangan aktivis PMII UIN Jember angkatan 2011. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, takdir mempertemukan mereka kembali di pemilu 2024. Deki di Patrang dan Cak Yono di Kencong, meski berbeda wilayah, sering bertukar cerita melalui telepon tentang tugas-tugas berat mereka sebagai pengawas pemilu.

*Bab 2: Kehidupan Setelah Pemilu*
Setelah pemilu selesai, Deki mulai merasa bahwa ia membutuhkan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Sebagai anak muda yang tumbuh di desa, Deki menyadari potensi besar dalam dunia pertanian, khususnya budidaya pohon balsa. Ia memutuskan untuk memanfaatkan lahan keluarga di Patrang dan mulai menanam pohon balsa.

Di tengah kesibukannya mempelajari teknik-teknik bertani, pikiran Deki sering melayang pada sosok Cak Yono. Ia tahu betul seniornya itu adalah seseorang yang memiliki kemampuan besar untuk belajar hal-hal baru. Deki merasa, jika Cak Yono ikut terjun ke dunia pertanian, mereka bisa bersama-sama membangun sesuatu yang besar.

*Bab 3: “Cak Yono, Sampeyan Harus Coba Ini!”*
Pada suatu pagi yang cerah, Deki menghubungi Hariono.
“Assalamualaikum, Cak Yono. Piye kabare?” sapanya hangat.
“Waalaikumsalam, Dek. Alhamdulillah, apik. Sampeyan piye, Dek? Masih sibuk di Patrang?” jawab Hariono dengan nada khasnya yang ramah.
Deki pun menjelaskan kegiatannya sekarang. “Cak, aku lagi sibuk bertani pohon balsa ini. Aku kepikiran sampeyan. Kalau sampeyan tertarik, aku yakin ini bisa jadi peluang besar buat kita berdua.”

Awalnya, Cak Yono hanya tertawa kecil mendengar ajakan Deki. “Lho, aku ki ora ngerti opo-opo soal tani, Dek,” jawabnya. Namun, antusiasme Deki saat menjelaskan potensi ekonomi dan manfaat lingkungan dari budidaya balsa akhirnya membuat Hariono penasaran.

*Bab 4: Dari Kencong ke Patrang*
Beberapa hari kemudian, Hariono memenuhi undangan Deki untuk melihat langsung lahan balsanya di Patrang. Saat tiba di sana, Cak Yono terkejut melihat betapa rapi dan terorganisirnya kebun Deki.
“Luar biasa, Dek. Aku nggak nyangka pohon ini punya nilai ekonomi tinggi,” kata Hariono sambil mengamati barisan pohon balsa yang menjulang.

Deki menjelaskan bahwa balsa memiliki banyak manfaat, dari industri pesawat ringan hingga bahan bangunan ramah lingkungan. Ia bahkan sudah mulai menjual hasil panen pertamanya ke perusahaan eksportir.
“Cak, sampeyan bisa mulai di Kencong. Tanah di sana cocok banget. Aku siap bantu sampeyan dari nol,” kata Deki dengan penuh semangat.

*Bab 5: Langkah Baru Cak Yono*
Cak Yono akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak Deki. Ia membuka lahan di Kencong, dan dengan bimbingan Deki, ia mulai menanam pohon balsa. Meskipun awalnya penuh tantangan, pengalaman Cak Yono sebagai seorang aktivis yang terbiasa menghadapi situasi sulit membantunya beradaptasi.

Kini, kedua sahabat itu bekerja sama mengembangkan pertanian balsa di Patrang dan Kencong. Mereka tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar untuk memanfaatkan potensi alam dengan cara yang berkelanjutan.

*Epilog: Masa Depan Hijau*
Deki dan Cak Yono sering berbincang di bawah rindangnya pohon balsa di Patrang.
“Cak, sopo sangka yo, kita sing dulu jadi pengawas pemilu sekarang malah jadi petani,” kata Deki sambil tertawa.
“Sampeyan benar, Dek. Ternyata bertani ini sama pentingnya seperti perjuangan kita dulu di PMII. Kita masih berjuang, tapi sekarang untuk lingkungan dan masa depan,” jawab Cak Yono sambil menatap kebunnya.

Kisah Deki dan Cak Yono adalah bukti bahwa perubahan adalah bagian dari perjalanan hidup. Dari aktivis kampus, pengawas pemilu, hingga petani sukses, mereka terus melangkah, memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page