BONDOWOSO, Radar-X.net – Keamanan pangan dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi tak boleh dianggap sepele. Bahan pangan asal hewan yang diolah menjadi menu makanan harus dipastikan aman, sehat, dan memenuhi standar higiene serta sanitasi.
Untuk memastikan hal tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bondowoso melaksanakan pengawasan kualitas sekaligus pembinaan penanganan bahan baku asal hewan dan kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet) di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Kecamatan Pakem dan Binakal.
Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahan pangan hewani yang digunakan dalam penyediaan makanan memenuhi prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH), sekaligus meminimalkan risiko penyebaran penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Kepala Disnakkan Bondowoso, Hendri Widotono, menjelaskan bahwa pengawasan bahan baku asal hewan dan Kesmavet merupakan rangkaian kegiatan untuk menjamin keamanan, mutu, serta kesehatan produk hewan yang beredar di masyarakat.
Menurutnya, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan saat bahan pangan tiba di dapur SPPG. Keamanan produk hewan harus diperhatikan sepanjang rantai distribusi, mulai dari peternakan, unit pengolahan, hingga tahap pemasaran.
“Pengawasan ini bertujuan memastikan produk hewan yang digunakan memenuhi persyaratan ASUH melalui penerapan standar higiene dan sanitasi,” jelas Hendri.
Selain melakukan pengawasan, Disnakkan Bondowoso juga memberikan pembinaan kepada pelaku usaha, khususnya UMKM yang menjadi pemasok bahan pangan asal hewan bagi SPPG.
Salah satu perhatian utama adalah mendorong pelaku usaha yang belum memiliki sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) agar segera mengurus sertifikasi tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Sertifikat NKV menjadi salah satu bentuk jaminan bahwa unit usaha produk hewan telah memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi, (9/10/2026).
Dengan demikian, aspek keamanan pangan diharapkan semakin terjaga, mulai dari sumber bahan baku hingga produk diterima oleh penyelenggara layanan pemenuhan gizi.
Langkah pengawasan dan pembinaan ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan pemeriksaan rutin, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk secara konsisten.
Sebab, di balik setiap menu makanan yang disajikan melalui SPPG, terdapat tanggung jawab besar untuk memastikan bahan pangan yang digunakan benar-benar aman dan layak dikonsumsi.
Melalui pengawasan berkelanjutan, Disnakkan Bondowoso berupaya memperkuat keamanan pangan asal hewan sekaligus mendorong UMKM pemasok SPPG agar semakin tertib memenuhi standar kesehatan veteriner dan sanitasi.














