BONDOWOSO, Radar-X.net – Melahirkan pedet berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan pejantan unggul. Kualitas indukan sapi hingga lingkungan tempat pedet dibesarkan turut menjadi mata rantai penting dalam menentukan pertumbuhan dan performa ternak.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bondowoso, Hendri Widotono, mengungkapkan bahwa pemilihan indukan menjadi bagian penting dalam program pembibitan sapi, (22/9/2026).
Menurutnya, penggunaan pejantan unggul dengan semen beku atau straw dapat menjadi kombinasi yang baik apabila dipadukan dengan indukan yang memiliki kualitas fenotipe bagus.
“Pejantan unggul yang spermanya dibekukan dalam bentuk straw akan menjadi kombinasi yang bagus dengan indukan yang secara fenotipe juga bagus,” ungkap Hendri.
Ia menjelaskan, kualitas genotipe tidak dapat diketahui hanya dengan melihat tampilan fisik ternak. Karena itu, pemilihan indukan secara fenotipe menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses pembibitan.
“Pejantan unggul dan indukan super akan melahirkan pedet berkualitas,” tegasnya.
Namun, menurut Hendri, kualitas genetik saja belum cukup. Setelah faktor genotipe dan fenotipe terpenuhi, faktor lingkungan justru menjadi bagian penting yang menentukan apakah potensi genetik tersebut dapat berkembang secara optimal.
“Secara genotipe dan fenotipe kalau sudah bagus, faktor lingkungan juga menjadi pengaruh penting,” jelasnya.
Ia menyebut sejumlah aspek yang kerap dianggap sederhana justru memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan pedet. Mulai dari ventilasi kandang, tempat pakan dan minum, alas kandang, hingga cara handler atau peternak dalam melakukan pemeliharaan.
Kondisi kandang yang baik, kata dia, akan mendukung ternak tumbuh lebih nyaman dan sehat. Begitu pula dengan ketersediaan pakan dan minum serta pola penanganan ternak yang tepat.
Dengan demikian, mencetak pedet berkualitas bukan sekadar perkara memilih pejantan unggul. Ada rangkaian proses yang harus diperhatikan sejak pemilihan indukan, perkawinan, kelahiran, hingga bagaimana pedet dirawat setelah lahir.
Genetik memberi potensi, tetapi lingkungan dan pola pemeliharaan menentukan seberapa jauh potensi itu berkembang.














