Keinginan hidup mandiri, yakni berdiri di atas kaki sendiri menjadi alasan kuat bagi Mahasiswi membuka usaha lontong Sayur pada tahun 2020. Setelah usahanya berjalan lancar, akhirnya ia mengembangkan promosi usahanya via online.
“Waktu itu mikirnya gak akan selamanya meminta uang jajan dari orang tua terlebih lagi di masa pandemi perekonomian terpuruk, jadi mau tak mau harus mandiri dan membantu beliau. Saya pikir juga tidak ada salahnya yang penting halal,” papar Mahasiswi.
Ditengah perjalanan usahanya, wanita kelahiran Sijunjung 23 Desember ini memiliki ide untuk menjual Lontong sayur dan mempromosikannya via sosial media yang masih sangat jarang.
“Alhamdulillah respons pelanggan sangat baik, ada yang dari mulut ke mulut,ada juga yang tahu dengan lontong sayur kita via instagram dan facebook. Dan ramai pelanggan pada jam 7-9 pagi,” ujar mahasiwi bangga.
Namun siapa yang tahu jika pasca baru merintis usahanya berjalan, usaha yang diberi nama Lontong sarapan skuy ini terpuruk lantaran terkendala modal.
“Nah baru-baru ini kami kembali membuka usaha secara online dengan marketing melalui media sosial, dan kami juga ada warung di pasar sijunjung,” ujar pemilik akun IG: @sarapan.skuyyy.
“Harga cukup terjangkau sekitar Rp.6 ribu untuk per porsi, Lontong sayur jadi tentu saja ramah di kantong,” ujarnya.
Mahasiswi tersebut mengatakan berbagai lontong sayur yang dijualnya ia menggunakan bahan-bahan berkualitas sehingga menghasilkan cita rasa khas tersendiri. “Kalau orang makan pasti bisa mengenali itu produk kita,” ucapnya.
Meski mengandalkan pesanan melalui media sosial dan marketing dari mulut ke mulut, namun ia memiliki pelanggan yang cukup loyal. Bagi yang tertarik mencicipi lontong sayur tersebut bisa DM langsung ke instagram @sarapan.skuyyy
Ia pun berharap dapat mengembangkan usahanya lebih besar, yang belum bisa dilakukannya saat ini karena terbatasnya modal. Ia meyakini jika usahanya memiliki keunikan dan cita rasa khas yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Dari pengalamannya memulai usaha dari seorang mahasiswi mengatakan, jika perlu juga membagi waktu antara berbisnis dan kuliah tetapi jika sungguh-sungguh tidak akan menjadi masalah cukup bulatkan tekad dan langsung action saat akan memulai usaha.
“Jangan pakai nanti-nanti atau nunggu modal banyak dulu. Karena kita belum tahu kondisi kalau kita belum memulainya. Yang penting kita selalu optimis dan semangat,” tutupnya.
*(Revi Putri Nabila,Dosen Pembimbing : Riandy Mardhika Adif, SE, MM)














