PURUK CAHU, Radar-x.net – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah pada Agustus 2026 mulai berdampak terhadap kenyamanan masyarakat. Kondisi udara yang berkabut dan panas juga dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Murung Raya.
Menanggapi kondisi kabut asap tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Nisha Anggraeni, mendorong Pemerintah Kabupaten Murung Raya melalui Dinas Kesehatan dan rumah sakit untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Menurutnya, kesiapan tidak hanya dilakukan pada fasilitas kesehatan dan tenaga medis di tingkat kabupaten, tetapi juga harus diperkuat hingga kecamatan dan desa, terutama wilayah pedalaman.
“Ancaman kabut asap karhutla ini kita mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesiagaan tenaga medis dan kelengkapan sarana, mulai dari obat-obatan, oksigen, hingga alat penunjang lainnya. Baik di tingkat kabupaten, kecamatan maupun desa-desa pedalaman harus dipastikan tersedia,” kata Nisha, Selasa (1/9/2026).
Nisha menilai penanganan dampak kabut asap tidak boleh hanya terpusat di ibu kota kabupaten. Puskesmas pembantu maupun pos kesehatan desa perlu mendapat dukungan fasilitas dan stok obat-obatan yang memadai, termasuk oksigen, untuk mengantisipasi meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Jangan sampai masyarakat di pedalaman kesulitan mendapatkan pertolongan ketika mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Karena itu, fasilitas kesehatan di desa harus benar-benar siap,” tegasnya.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Nisha Anggraeni juga menekankan pentingnya kesiapan sarana pendukung di tingkat desa, termasuk ketersediaan air bersih dan mesin pompa air.
Menurutnya, sarana tersebut tidak hanya berperan dalam menjaga kebersihan dan memenuhi kebutuhan air masyarakat, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan awal apabila ditemukan titik api kecil di lingkungan sekitar.
“Penyediaan sarana itu penting untuk menjaga kebersihan, ketersediaan air bersih, dan membantu memadamkan titik api kecil sebelum meluas,” ujarnya.
Di sektor pendidikan, Nisha meminta Pemerintah Kabupaten Murung Raya melalui Dinas Pendidikan mempertimbangkan penerapan pembelajaran secara daring dari rumah apabila kondisi kualitas udara semakin memburuk.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi langkah antisipatif untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap, khususnya bagi anak-anak sekolah yang termasuk kelompok rentan.
“Bagi anak-anak sekolah hendaknya dilakukan secara daring dari rumah. Bagi yang tidak memiliki HP, bisa dibuatkan kelompok agar semua tetap dapat mengikuti pembelajaran secara daring, untuk mengantisipasi berbagai penyakit yang dapat terjadi akibat kabut asap,” tuturnya.
Ia menegaskan, penerapan pembelajaran daring bukan berarti menghentikan proses pendidikan, melainkan bentuk penyesuaian untuk melindungi kesehatan peserta didik apabila kondisi udara tidak memungkinkan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara normal.
Nisha berharap penanganan dampak kabut asap dilakukan secara cepat, terukur, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal, fasilitas kesehatan hingga pelosok siap melayani masyarakat, serta satuan pendidikan mampu beradaptasi dengan kondisi kualitas udara.
“Masyarakat juga harus bersama-sama menjaga kesehatan dan lingkungan serta tidak melakukan pembakaran lahan. Pencegahan harus dilakukan bersama agar dampak kabut asap tidak semakin meluas,” pungkasnya. (hbr).
Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan, DPRD Murung Raya Dorong Kesiapan Layanan Medis hingga Desa















