Opini

Amanat Guru yang Tak Pernah Pudar

×

Amanat Guru yang Tak Pernah Pudar

Sebarkan artikel ini

Baru saja saya menerima pesan dari Mas DGT, Pemimpin Yakuza Maneges Pusat Kediri. Dengan tegas beliau berpesan: “Saya amanatkan ke kamu untuk menjadi pers yang amar ma’ruf nahi munkar.” Kata-kata itu langsung menyentuh relung hati yang paling dalam. Tak lama kemudian, ingatan saya melayang pada dawuh almarhum KHR Fawaid As’ad dari PP Salafiah Syafi’iah Sukorejo Situbondo. Beliau pernah berpesan dengan nada yang khas: “Kamu jadi pers, jangan gampang masuk angin.”

Dua amanat dari dua guru besar yang berbeda zaman dan latar, namun sama-sama menusuk kesadaran. Satu menuntut keberanian moral, satunya lagi menuntut keteguhan sikap. Amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar slogan agama. Bagi seorang jurnalis, itu berarti tugas suci untuk selalu menyuarakan kebenaran, membela yang lemah, mengkritik kezaliman, dan menolak segala bentuk kemungkaran—termasuk kemungkaran yang dibungkus narasi “modern” atau “netral”. Sementara “jangan gampang masuk angin” adalah peringatan keras agar tidak terombang-ambing oleh tren sesaat, tidak terbawa arus opini publik yang sering kali dangkal, atau tergoda oleh kepentingan yang menggiurkan.

Saya mengakui, saat ini saya sedang galau. Galau yang sejati. Di satu sisi, ada tuntutan zaman yang serba cepat: klik, viral, trending, engagement. Di sisi lain, ada suara hati dan amanat para guru yang tak bisa ditawar. Menjadi pers yang amar ma’ruf berarti harus siap kehilangan pembaca, kehilangan iklan, bahkan kehilangan “teman”. Menjadi pers yang tidak mudah masuk angin berarti harus tahan banting menghadapi hinaan, tuduhan, dan tekanan dari berbagai pihak yang merasa terusik.

Kadang saya bertanya-tanya dalam hati: mampukah saya menjalankan kedua amanat ini sekaligus? Dunia pers saat ini seperti lautan yang penuh badai. Banyak media yang akhirnya memilih diam atau bahkan ikut meniup angin yang sama demi bertahan hidup. Sementara itu, suara yang benar sering kali terdengar sumbang di telinga mayoritas. Tapi justru di situlah letak ujiannya. Jika pers hanya mengikuti selera pasar, lalu siapa yang akan menjadi suara nurani bangsa?

Saya lahir dan besar di lingkungan pesantren. Nilai-nilai amar ma’ruf nahi munkar bukan barang baru. Namun menerapkannya dalam dunia jurnalistik digital yang penuh godaan adalah perjuangan yang berbeda. Setiap tulisan, setiap liputan, setiap opini harus diukur: apakah ini ma’ruf atau justru membantu munkar? Apakah ini sekadar ikut angin atau memang berlandaskan keyakinan dan fakta?

Galau ini bukan berarti keraguan untuk mundur. Justru sebaliknya. Galau ini adalah proses pendewasaan. Setiap kali teringat wajah almarhum KHR Fawaid As’ad dan pesan Mas DGT, saya merasa ada kekuatan baru yang mengalir. Doa para guru, restu para kyai, dan amanat luhur itu menjadi energi yang tak terlihat namun sangat nyata.

Saya yakin, pers yang baik bukan yang paling populer, melainkan yang paling konsisten dengan nuraninya. Pers yang tidak mudah terbeli, tidak mudah terintimidasi, dan tidak mudah terpengaruh. Pers yang berani mengatakan “ya” untuk kebenaran dan “tidak” untuk kemungkaran, meski hanya seorang diri.

Terima kasih kepada para guru yang tak pernah lelah mengingatkan. Semoga doa dan amanat Bapak-Ibu terus mengalir, menjadi benteng dan cahaya di tengah kegelapan zaman. Saya akan terus berjuang. Walau pelan, walau kecil, walau sering goyah—insya Allah tidak akan patah.

Karena pers yang sesungguhnya lahir bukan dari ambisi, melainkan dari amanat.

Rick Tumanggor
Anggota FAA PPMI, alumnus TEMPO Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Seedbacklink affiliate

You cannot copy content of this page