foto : Baju adat Madura
Pamekasan, Radar x. net – Wali Siswa Merasa Terpaksa Membeli Seragam Marlena Dan Sakera untuk anaknya ,walaupun tidak mampu karena kalau anak saya tidak dibelikan maka seakan-akan dia dikesampingkan, tidak diperhatikan, dan anak saya malu terhadap teman-temannya.
Ansori salah satu orang tua ssiswa SDN di Kabupaten Pamekasan, dirinya merasa terbebani oleh adanya surat edaran yang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan untuk membeli seragam marlena – sakera.
“Walaupun hanya surat anjuran untuk memakai pakaian adat, namun bagi orang siswa yang mampu dan bagi yang tidak mampu menggunakan pakaian batik biasa namun kenyataannya seakan menjadi wajib bagi orang tua karena sudah ditekan oleh anak-anaknya, dan tidak boleh tidak kami selaku orang tua harus membeli sesuai permintaan anak.” ucap Ansori
Senada disampaikan Dodi, drinya keluhkan dan merasa terbebani sehingga mengeluh kepada teman-teman media yang tergabung dalam KJJT Pamekasan,
“Saya selaku orang tua harus juga melihat mental dari anak saya, kalau misalnya tidak dibelikan seragam marlena ataupun sakera.” Tutur Dodi
“Dengan keadaan terpaksa saya juga harus membeli walaupun menguras kantong, karena harganya cukup mahal dan selain itu barangnya juga sulit didapat di pasar-pasar tradisional,” lanjutnya
“Kenapa harus memakai seragam marlena atau sakera, kan masih banyak baju-baju tradisional yang lain. Ini kan hanya menyambut hari jadi Kabupaten Pamekasan yang ke 493 di tahun 2023.” Cetus Dodi
Ia juga mengungkapkan bahwa Peringatan hari jadi Kabupaten Pamekasan Hebat pada tahun 2023 sangat tidak meriah, dan kalau seperti ini dimana sekarang hebatnya Kabupaten Pamekasan.
“Hebatnya Kabupaten Pamekasan sudah hilang, ketika Bupati Batrut Tamam hengkang dari jabatannya, dan hanya bagi sekolah-sekolah saja yang akan nampak begitu meriah dalam memperingati Harjad Kabupaten Pamekasan ke 493 ini,” tutupnya
(HR/Korwil Madura)














