ABSTRAK
Permasalahan dalam penelitian ini adalah tingkat kemiskinan yang berfluktuasi dan cenderung naik, pengangguran berfluktuasi di Provinsi Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh tingkat kemiskinan dan pengangguran terhadap potensi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Barat tahun 2010-2022.
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat. Sampel penelitian ini terdiri dari 19 wilayah di Provinsi Sumatera Barat dengan periode penelitian dimulai pada tahun 2010 sampai 2022 atau dengan kata lain sebanyak 12 tahun terakhir.
Data tersebut diolah menggunakan metode regresi data panel dengan model common effect dengan bantuan aplikasi Eviews. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan tingkat pengangguran tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat.
Kata kunci : Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Kemiskinan, dan Pengangguran
INTRODUCTION
Pembangunan merupakan suatu proses multidimensi terhadap perbaikan atau kemajuan dengan melakukan berbagai upaya ke arah perubahan yang lebih baik. Perubahan yang dimaksud adalah mencakup seluruh sistem yang ada dalam suatu wilayah atau negara seperti sistem politik, ekonomi, infrastruktur, pendidikan, teknologi, peningkatan kesejahteraan, keamanan, keadilan serta kualitas sumber daya termasuk sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Sumber daya manusia pada hakikatnya digunakan untuk mencapai tujuan suatu bangsa dan merupakan salah satu indikator untuk menilai keberhasilan suatu negara.
Sumber daya manusia memiliki peran penting terciptanya sebuah pembangunan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan, sumber daya manusia harus dapat berkembang dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki (Maharany, 2012).
Penyebab terjadinya pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang berfluktuasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut ahli ekonomi Todaro (2012) ada tiga penyebab utama yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam suatu daerah, tiga penyebab tersebut diantaranya akulasi modal, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan penduduk. Faktor tersebut seharusnya dapat memperlihatkan pengaruh positif dalam perkembangan pembangunan setiap tahun di Provinsi Sumatera Barat, karena dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatan akan mempengaruhi perekonomian provinsi Sumatera Barat. Pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari PDRB daerah tersebut.
Potensi pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan dari kondisi PDRB di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat, yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Sumber: www.sumbar.bps.go.id
Dari grafik yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Barat cukup bervariasi. Laju pertumbuhan PDRB berkisar antara -1.62 hingga 6.34. jadi bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mengalami fluktuasi atau keadaan naik turun sejak tahun 2010-2021. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 6.34, dan pada tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat signifikan sebesar -1.62. Dan di tahun lainnya berkisar di antara rata-rata 5%. Hal ini dikarenakan melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap akumulasi modal. PDRB yang selalu menurun menyebabkan ketidakpastian bagi pembangunan di daerah dan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan di daerah akan menurun jika PDRB selalu menurun tiap tahunnya. Bukan hanya itu, kegiatan perekonomian juga akan menurun dan mengakibatkan pendapatan nasional mengalami kemunduran serta pengangguran yang semakin bertambah serta semakin merajanya tingkat kemiskinan.
Salah satu indikator utama keberhasilan sasaran dari pembangunan adalah laju penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang sering kali dihadapi oleh negara berkembang termasuk Indonesia. Efektivitas dalam menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi dan instrumen pembangunan.
Sumber: www.sumbar.bps.go.id
Dapat dilihat jumlah penduduk miskin Provinsi Sumatera Barat dari tahun 2010-2021 cenderung mengalami penurunan di mana pada tahun 2010 jumlah kemiskinan sebanyak 458,2 ribu jiwa dan tahun selanjutnya menurun sebanyak 441,8 ribu jiwa. Di tahun 2012 mengalami penurunan sebanyak 401,5 ribu jiwa. Di tahun 2013 masih mengalami penurunan sebanyak 384,1. Dan di tahun 2014 masih tetap mengalami penurunan sebanyak 354,74 ribu jiwa. Tetapi pada tahun 2015 kembali naik sebanyak 379,6 ribu jiwa, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pertanian dan perkebunan. Banyaknya bencana alam yang menggoyahkan sektor tersebut. Selain itu, urbanisasi dan kenaikan harga bahan bakar juga menjadi faktor meningkatnya jumlah penduduk miskin. Selanjutnya setelah tahun 2015 sampai tahun 2021 jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat kembali menurun lagi, akan tetapi pada tahun 2021 jumlah penduduk miskin meningkat yaitu sebesar 370,67 ribu jiwa. Naiknya jumlah penduduk miskin diakibatkan oleh pandemi yang berdampak pada ekonomi masyarakat umumnya pada Provinsi Sumatera Barat. Selain pandemi Covid-19 yang menekan aktivitas ekonomi, terdapat tiga faktor lain yang turut menyumbang kemiskinan. Yakni pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mengalami perlambatan, terpuruknya sektor pariwisata, serta harga eceran komoditas pokok yang naik.
Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan dalam ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Penyebab kemiskinan bermuara pada teori lingkaran kemiskinan (vicious circle of poverty), yang dimaksud lingkaran kemiskinan adalah satu rangkaian kekuatan yang saling mempengaruhi suatu keadaan di mana suatu daerah akan tetap miskin dan akan banyak mengalami kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih baik dan berproduktif. Rendahnya produktivitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang diterima (yang tercermin oleh rendahnya PDRB per kapita). Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada rendahnya akumulasi modal sehingga proses penciptaan lapangan kerja rendah (tercermin oleh tingkat kemiskinan). Rendahnya akumulasi modal disebabkan oleh keterbelakangan dan seterusnya (Kuncoro, 2007 h.120).
Berdasarkan tingkat pengangguran dapat dilihat kondisi suatu Negara atau daerah apakah perekonomiannya berkembang atau lambat dan atau bahkan mengalami kemunduran. Selain itu dengan tingkat pengangguran, dapat dilihat pula ketimpangan atau kesenjangan terhadap distribusi pendapatan yang diterima atau didapatkan suatu masyarakat negara atau daerah tersebut.
Sumber: www.sumbar.bps.go.id
Dari grafik tersebut dapat dilihat tingkat pengangguran yang ada di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Barat mengalami fluktuasi atau keadaan naik turun dari tahun 2010-2021. Pengangguran dapat terjadi sebagai akibat daripada tingginya tingkat perubahan angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan adanya lapangan pekerjaan yang cukup luas serta penyerapan tenaga kerja yang cenderung kecil persentasenya. Hal ini disebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan penciptaan lapangan kerja untuk menampung tenaga kerja yang siap bekerja.
Dengan melihat fakta dan kondisi yang ada tentu ini menjadi masalah yang harus diatasi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam upaya meningkatkan kuantitas masyarakat untuk bekerja agar jumlah pengangguran dapat ditanggulangi (Amelia, 2018). Serta pemerataan pembangunan yang masih belum merata di setiap kabupaten/kota di Sumatera Barat dan hal ini disebabkan oleh masalah pengangguran, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Kondisi kependudukan daerah menunjukkan bahwa jumlah penduduk di tiap kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat bervariasi antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Dari kondisi tersebut kemudian perlu dianalisis tentang pengaruh pengangguran dan kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Barat.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kemiskinan dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2010-2021.
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena tujuan penelitiannya yang terstruktur dan mengkuantifikasikan data untuk dapat digeneralisasikan yang memiliki kecenderungan dapat dianalisis dengan cara atau teknik statistik dan penelitian ini menggunakan data sekunder dari tahun 2010-2021 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu penunjang membuat kebijakan dalam pembangunan ekonomi serta memberikan gambaran terhadap fenomena yang terjadi terkait upaya pengentasan kemiskinan dan naiknya tingkat pengangguran yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat.
LITERATURE REVIEW
Paradigma pembangunan yang sedang berkembang saat ini adalah pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan pembangunan manusia. Pembangunan merupakan suatu proses perbaikan atau kemajuan dengan melakukan berbagai upaya ke arah perubahan yang lebih baik. Menurut teori Solow, pertumbuhan ekonomi tergantung pada ketersediaan faktor produksi seperti penduduk, tenaga kerja, akumulasi modal, dan kemajuan teknologi. Output nasional akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan faktor produksi. Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas.
Penelitian tentang pertumbuhan ekonomi telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu terkait dengan penelitian yang sedang diteliti sekarang. Farathika Putri Utami, (2020) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Kemiskinan, Dan Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Aceh”. Teknik pengumpulan data yang diteliti oleh Farathika yaitu menggunakan teknik dokumentasi dan sumber data berupa data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Penelitian yang dilakukan menggunakan variabel IPM sebagai variabel independen.
Hasil penelitian yang menggunakan uji hipotesis mengatakan bahwa secara parsial IPM, pengangguran, dan kemiskinan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh. Sedangkan pengujian secara simultan diketahui bahwa semua variabel independen yaitu IPM, Pengangguran, dan kemiskinan berpengaruh secara bersama terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini diketahui dari nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 (0,000013<0,05) yang artinya H0 ditolak. Pada penggunaan koefisien determinasinya (R2) yang menghasilkan bahwa terdapat hubungan korelasi yang kuat antara IPM, kemiskinan, dan pengangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh.Yarlina Yacoub, (2019) meneliti tentang “Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat”. Penelitian ini berbasis penelitian deskriptif dan ekslanatory yang menggunakan data sekunder yang berasal dari BPS. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Data empiris menunjukkan pola hubungan yang tidak selalu searah antara tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan. Dilihat dari total pengangguran terbuka di Provinsi Kalimantan Barat yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, sebanyak 47,86% adalah pengangguran terbuka dengan tingkat pendidikan Tamat SLTA ke atas (pengangguran terdidik) dan tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat yaitu sekitar 43,51% dari jumlah tenaga kerja yang bekerja.Moh. Arif Novriansyah, (2018) meneliti tentang “Pengaruh Pengangguran dan Kemiskinan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Gorontalo”. Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji R Square atau Determinasi yang menunjukkan bahwa terdapat kontribusi pengangguran dan kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo sebesar 15,9%. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pengangguran dan kemiskinan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo dilihat dari hasil uji regresi sederhana di mana tingkat signifikansi seluruh koefisien korelasi di ukur dari probabilitas menghasilkan angka 0,019. Karena probabilitasnya lebih kecil dari 0,05, maka korelasi antara variabel pengangguran dan kemiskinan (variabel X1 dan X2) dan pertumbuhan ekonomi (variabel Y) adalah signifikan. Hal ini menunjukkan secara simultan pengangguran dan kemiskinan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo.Setiawan et. al, (2014) meneliti tentang “Pengaruh Tingkat Pengangguran Dan Tingkat Upah Minimum Provinsi Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Riau.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Uji regresi individu menunjukkan bahwa jumlah pengangguran terbuka tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Provinsi Riau, namun upah minimum provinsi berpengaruh signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Provinsi Riau.Keterkaitan Pembangunan Ekonomi Dan Kemiskinan
Permasalahan pengangguran memang sangat kompleks untuk dibahas dan merupakan isu penting, karena dapat dikaitkan dengan beberapa indikator-indikator. Indikator-indikator ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengangguran antara lain pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan, tingkat inflasi, kemiskinan, serta besaran upah yang berlaku. Apabila di suatu negara pertumbuhan ekonominya mengalami kenaikan, diharapkan akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran, hal ini diikuti dengan tingkat upah. Jika tingkat upah naik akan berpengaruh pada penurunan jumlah pengangguran pula. Pada akhirnya penurunan tingkat pengangguran diharapkan akan dapat mengurangi tingkat kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan memiliki korelasi yang sangat kuat dengan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi pada tahap awal menyebabkan tingkat kemiskinan cenderung meningkat namun pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah penduduk miskin berangsur-angsur berkurang.
Keterkaitan Pembangunan Ekonomi Dan Pengangguran
Pengangguran berhubungan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, ketersediaan lapangan kerja berhubungan dengan investasi, sedangkan investasi diperoleh dari akumulasi tabungan, tabungan merupakan sisa dari pendapatan yang tidak dikonsumsi. Semakin tinggi pendapatan nasional, maka semakin tinggi harapan untuk membuka kapasitas produksi yang tentu saja akan menyerap tenaga kerja. (Aziz Septiatin, 2016)
METODE PENELITIAN
Kerangka Konseptual
Hipotesis
Ha1 : tingkat kemiskinan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Barat.
H01 : tingkat kemiskinan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat.
Ha2 : pengangguran berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat.
H02 : pengangguran tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/ Kota Provinsi Sumatera Barat.
Ha3 : tingkat kemiskinan dan pengangguran berpengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat.
H03 : tingkat kemiskinan dan pengangguran tidak berpengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat.
Definisi Operasional Variabel
Pertumbuhan Ekonomi (Y) adalah suatu kondisi di mana terjadinya perkembangan GDP yang mencerminkan adanya pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup masyarakat yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat pada kurun waktu 2010-2022, yang dihitung setiap tahunnya dalam persen.
Tingkat Kemiskinan (X1) adalah proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan yang diukur dalam jumlah persen di Sumatera Barat pada kurun waktu 2010-2022.
Pengangguran (X2) di Sumatera Barat diukur melalui tingkat pengangguran Provinsi Sumatera Barat. Tingkat pengangguran dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah orang yang menganggur dan jumlah angkatan kerja, yang dihitung setiap tahunnya dalam persen.
Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan yaitu dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang berupa berbagai jenis data dalam bentuk angka-angka atau penyajian dan penyusunan data ke dalam tabel-tabel untuk dianalisis. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang telah ada objek penelitian atau data hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, di mana data tersebut bersumber dari dokumen organisasi atau institusi lainnya yang dianggap berkaitan atau relevan dengan masalah yang dibahas. Data yang didapatkan dari penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik.
Teknis Analisis Data
Berdasarkan kerangka konseptual yang telah ditampilkan sebelumnya, data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data tingkat kemiskinan, pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010-2022 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Teknis analisis data yang digunakan yaitu pengolahan data regresi data panel. Regresi data panel merupakan metode regresi yang digunakan pada data penelitian yang bersifat panel. Dari segi jenis data, regresi data panel memiliki karakteristik data yang bersifat cross section dan time series. Terdapat tiga teknik dalam regresi data panel yaitu Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemilihan Model Regresi Data Panel
Regresi data panel merupakan pengembangan dari regresi linier dengan metode Ordinary Least Square (OLS) yang memiliki kekhususan dari segi jenis data dan tujuan analisis datanya. Data panel bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik antar setiap individu dalam beberapa periode pada objek penelitian. Regresi data panel dapat dilakukan dengan tiga model yaitu Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Pemilihan model tergantung pada asumsi yang dipakai peneliti dan pemenuhan syarat-syarat pengolahan data statistik yang benar, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara statistik. Oleh karena itu Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memiliki model data panel yang paling tepat dari ketiga model untuk diinterpretasikan.
CEM
Dependent Variable: Y
Method: Panel Least Squares
Date: 11/01/22
Time: 20:14
Sample: 2010 2021
Periods included: 11
Cross-sections included: 19
Total panel (unbalanced) observations: 83
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
28.85884
49.31169
0.585233
0.5600
LOG(X1)
-4.890752
15.87811
-0.308018
0.7589
X2
-3.996950
4.757170
-0.840195
0.4033
R-squared
0.012144
Mean dependent var
-7.401928
Adjusted R-squared
-0.012553
S.D. dependent var
115.4032
S.E. of regression
116.1252
Akaike info criterion
12.38269
Sum squared resid
1078806.
Schwarz criterion
12.47012
Log likelihood
-510.8817
Hannan-Quinn criter.
12.41781
F-statistic
0.491724
Durbin-Watson stat
0.002647
Prob(F-statistic)
0.613407
FEM
Dependent Variable: Y
Method: Panel Least Squares
Date: 11/01/22
Time: 20:18
Sample: 2010 2021
Periods included: 11
Cross-sections included: 19
Total panel (unbalanced) observations: 83
Variable
Coeffi
Oleh: Elsa Mutiara
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
mutiaelsa04@gmail.com














