Aceh Tenggara, Radar-x.net – E-Sports Indonesia selaku organisasi resmi perkumpulan olahraga yang menggunakan game elektronik, menanggapi polemik perdebatan larangan game online di Aceh.
Ketua E-Sports Indonesia (ESI) Cabang Aceh Tenggara, Idhamni, S.T, HSE saat di konfirmasi Senin, (04/07/2022) melalui telepon seluler mengatakan, “Saya berharap kepada Pemerintah, Akademisi dan MPU untuk menjadi penengah dan memberi masukan positif serta mencari solusi bersama terkait masa depan para atlet E-Sports di Aceh. Sekarang ini bukan saatnya kita memperdebatkan E-Sports yang sudah diakui dunia termaksud di Indonesia, Esports sudah diakui sebagai olahraga dan terdaftar di Kemenpora.”
Idham selain ketua ESI ia juga salah satu Tokoh Pemuda di Aceh Tenggara, menanggapi opini di salah satu media online, Teuku Farhan yang menjabat Direktur Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) Foundation, menyebutkan “ Praktisi IT Aceh itu menyinggung tentang turnamen E-Sports PUBG Mobile Piala Kasad yang diselenggarakan oleh Kodam IM.”
Menurut Farhan, selain mengandung banyak konten kekerasan, adegan yang mirip seperti perilaku teroris, game online ini rentan akan kecanduan game yang masuk dalam klasifikasi gangguan mental World Health Organization.
Untuk menjadi “atlet profesional” game online ini harus berlatih lebih dari 10 jam sehari dan hal ini sangat merusak produktifitas generasi muda ke depan, terang Farhan
Terkait hal tersebut, Idham menjelaskan, atlet E-Sports PUBG memiliki jam latihan yang terkontrol dan dibatasi, Jam latihan untuk atlet E-Sports dibatasi layaknya Cabang Olahraga (Cabor) profesional lainnya. Kami mencetak atlet-atlet profesional dan jangan disamakan dengan pemain E-Sports seperti di warung-warung kopi yang tidak ada aturan yang terkesan buang-buang waktu.
“Saya sebagai Ketua E-Sports Indonesia (ESI) Cabang Aceh Tenggara, mewakili teman-teman atlet E-Sports Aceh mengajak debat terbuka dengan saudara Farhan terkait statemennya tersebut.”
Dalam mengkritik sesuatu harus dengan adu argumentatif terbuka, “Bung Farhan tidak paham itu dan tidak akan pernah paham walaupun sudah beberapa kali pertemuan dan debat. Sangat disayangkan pada era modernisasi dan milineal ini, dia masih memiliki pemikiran yang sangat dangkal dan primitif, kita berharap segera disudahi polemik ini,” pungkas Bang Idham yang juga Aktivis HMI.
Sudah saatnya semua pihak di Aceh agar jangan selalu terbelenggu dan tersandera serta terkesan melawan moderenisasi dan perkembangan teknologi yang tidak mungkin dibendung, semua perkembangan teknologi ada sisi positif dan negatifnya.
“Yang kita pikirkan bersama sekarang bagaimana kita cari solusi dan mengedukasi atlet E-Sports agar benar-benar terlahir menjadi atlet E-Sports yang profesional dan bisa berlatih layaknya atlet profesional. Mari kita bersama-sama seluruh elemen akademisi, baik orang tua dan ulama saling bahu-membahu dalam memberi solusi yang tentunya kearah positif pada cabang olahraga E-Sports ini,” Ujar Bang Idham. (RH).














