![]() ![]() |
| Alusty Diva, Foto : Dok.radar-x.net |
JEMBER – Seorang anak pemahat patung, mengunjuk kebolehannya di bidang seni tarik suara, dengan bermodalkan olah vokal dari sang ibundanya, kini namanya mulai dikenal di berbagai khatulistiwa. Walaupun kisah tragis yang pernah dialami dalam perjalanan kariernya, semangat dan tekatnya membuatnya tidak lengah dari dunia musik.
Alusty menceritakan kisah perjalanan kairernya, “Sehari-hari saya membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh adik-adik dan merawat nenek, selain itu terkadang saya berlatih menyanyi bersama ibu yang selalu memberikan saya masukan dan mengajari saya.” ujarnya saat di wawancara radar-x.net
“Selain itu ada seseorang guru yg sangat berjasa dan tidak akan pernah saya lupakan jasanya yaitu P. Nanang beliau adalah seorang Keyboardist Handal yang nengajari saya bernyanyi, dan juga yang paling utama semua pencapaian saya saat ini, semua karena dukungan dari kedua orang tua saya dan Keluarga yang sangat men-suport dalam perjalanan karir saya. Hiruk pikuk perjalanan karir saya Bunda dan Ayah selalu membimbing dan menemani saya.” tambah alusty
Banyak sekali pengalaman yang meninggalkan kesan saat saya bernyanyi dari panggung kepanggung bersama recording Khatulistiwa, Jaya Record, dan Abadi Record. Namun pengalaman yang paling tidak terlupakan adalah saat saya manggung di daerah Malang, waktu itu saya di temani bunda dan berangkat menaiki Mini Bus Bersama Rombongan. Penumpangnya terdiri dari musisi, artis, dan beberapa pengantar artis, “Saat perjalanan berangkat semua berjalan lancar sampai acara selesai, tapi, pada saat kami melewati tanjakan curam tiba-tiba mini bus yang kami naiki mogok di tengah tanjakan itu lalu mini bus menggelinding ke belakang dan seketika juga remnya Bloong…!.” terangnya lebih lanjut
“Sementara di sisi kanan adalah jurang yang dalam, para penumpang sangat panik kami semua berusaha keluar, namun para penumpang pria berusaha menahan bus dari belakang, dan para wanita dengan yang lainnya mencari bantuan. Namun hingga 3 jam kami berjalan tidak juga menemukan bantuan karena kami berada di dalam hutan dengan keadaan yang sangat tegang, tidak memungkinkan kami semua menginap di dalam hutan hingga esok pagi kami bertemu penduduk yang bersedia menolong. Akhirnya mini bus kami selesai di perbaiki, kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang.” imbuhnya lebih lanjut
“Kejadian hal Itu merupakan salah satu pengalaman yang tidak pernah bisa saya lupakan.” pungkas alusty.(Bagus WW)

















