![]() ![]() |
| Zulkifli Kades Sukowono Yang Memakai Kaos Putih, Foto: Nurhasin, |
Suasana pasar Sukowono, yang mulai dipadati oleh pejalan kaki dan pengendara. Yang pastinya, bermacam tujuan dari masyarakat, ngabuburit, berbelanja baju untuk lebaran, dll. Sebut saja Zulkifli, orang numer wahid di desa Sukowono, yang secara demokrasi dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi kepala desa.
Perjalanan kariernya yang sudah memasuki tahun ketiga(3). Pria keturunan arab ini, tidak pernah membanggakan akan jabatan yang di embannya. Bahkan baginya jabatan adalah amanah, Kepala Desa adalah pelayan masyarakat. Kebijakan demi kebijakan yang dia sampaikan kepada rakyatnya, tidak pernah menuai kontro fersi yang menyebabkan stabilitas desa terganggu.
Suatu ketika, terlihat pemandangan menarik saat usai pembagian takjil. Seorang kepala desa yang tergolong orang elit di Desa Sukowono, harus merelakan berbuka puasa bersama dengan nasi bungkusan di trotoar jalan.
Nasi bungkusan yang sangat sederhana, semakin mengakrabkan masyarakat dengan pimpinannya. Rasa cinta dari masyarakatnya semakin melangit, melihat sosok kepala desa berbuka puasa dipinggir jalan tanpa alas apapun.
Seperti yang dikatakan, Munib(39), salah satu warga Sukowono, “Pak Kades itu memang orangnga merakyat mas, beliau adalah panutan kami. Beliau tidak pernah merasa risih berbaur dengan kami, tidak pernah membedakan antara si miskin dan si kaya,” ungkapnya, saat ditemui radar-x.net, usai ‘ Bukber ‘ di trotoar jalan.
“Kami rakyat Sukowono, merasa bangga mempunyai Kades seperti Pak Zulkifli, Sukowono semakin berkembang, aman dan kondusif,” tambah pria yang sehari harinya bekerja sebagai pencari barang barang bekas ini.
Hal senada, juga diutarakan oleh Muis(40), “Pak Zulkifli itu bukan cuma sekarang mas, berbaur dengan kami. Setiap diundang dalam acara apapun pasti dia hadir tanpa perwakilan, dia sering menolong warga miskin dan kaum duafa, pokoknya kalau wes urusan kaum duafa beliau pasti 100% membantu,” tandasnya, Jum’at(24/06/2016), dilokasi.
Ditambahkan, oleh Zulkifli, Kepala Desa Sukowono, “Saya betul Kepala Desa, tetapi jabatan saya karena dipercaya oleh rakyat, saya tidak mau menodai kepercayaan rakyat. Seorang pemimpin sepatutnya merubah paradigma bahwa pemimpin adalah penguasa, yang betul pemimpin adalah pelayan rakyat, yang namanya pelayan apapun kepentingan rakyat ya harus dilayani, semampang itu tidak menabrak UU dan aturan lo mas,” tutupnya, sambil membubarkan diri karena mengejar waktu untuk menunaikan sholat Magrib. (nurhasin/basofi)














