Motivasi Santri PRAWITA GENPPARI di Pondok Pesantren Padayungan Tasikmalaya

0
11

Dalam memajukan pariwisata Indonesia perlu melibatkan sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia, karena jumlah dan keragaman pariwisata Indonesia sangat banyak serta tersebar luas dari Sabang sampai Merauke.

Masing-masing daerah memiliki ciri khas kepariwisataan dan keunikannya masing-masing. Oleh karena itu berbagai kalangan masyarakat perlu diikutsertakan untuk mempercepat pembangunan kepariwisataan dengan berbasiskan masyarakat (Community Based Tourism Development).

“Format keterlibatan masyarakat tersebut formatnya boleh jadi berbeda-beda disesuaikan dengan kondisi lingkungannya, misalkan model pengembangan wisata berbasis pesantren ala Prawita GENPPARI disandarkan pada konsep wisata edukasi bidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan (4P),” ujar Ketum DPP Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi di Bandung, Minggu (21/11).

Hal ini ia sampaikan setelah Tim DPP Prawita GENPPARI melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Padayungan Tasikmalya, yang juga didampingi oleh pengurus DPD Prawita GENPPARI kota Tasikmalaya.

Prawita GENPPARI selama ini memang dikenal selalu terlibat aktif dan masif dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia secara ikhlas tanpa batas. Dalam praktek empirik, Prawita GENPPARI di berbagai daerah aktif juga membantu pemerintah daerah sampai pemerintah desa dalam membidani desa-desa wisata.

Baca Juga:  Kinerja Terbaik, Kerja 3 Hari per Minggu

Konsep kelahiran desa wisata yang dikembangkan selalu berbasis pada gotong royong masyarakat. Jadi tidak mengandalkan bantuan Pemerintah ataupun mencari-cari investor.

Di samping itu karena salah satu masalah penting di bidang kepariwisataan adalah soal kebersihan, terutama sampah anorganik maka untuk menjaga kebersihan yang luas tentu harus melibatkan masyarakat banyak. Lingkungan yang bersih di samping untuk menjaga kesehatan, juga akan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan. Apalagi ajaran Islam juga menekankan pentingnya untuk selalu menjaga kebersihan bagi seluruh umatnya.

Dalam rangkaian kegiatannya di pondok pesantren, Prawita GENPPARI juga bersemangat memotivasi santri untuk berprestasi dan tetap memelihara semangat belajar yang tinggi. Tantangan masa depan diuraikan secara gamblang dan jelas, sehingga santri memahami tantangan masa depan yang penuh dengan perubahan dan tentu akan berimplikasi pada perubahan peradaban.

Dengan memahami tantangan, maka para santri bisa menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi berbagai perubahan tersebut melalui pembekalan keterampilan untuk melengkapi kompetensi yang sudah dimiliki saat ini.

Bidang pilihan kewirausahaan berbasis pada pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Pilihan disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing yang tentu berbeda satu dengan yang lainnya.

Baca Juga:  Prawita GENPPARI Dukung Komunitas Petani Anggur Tasikmalaya

Tak lupa Dede juga menjelaskan tentang karakteristik kepemimpinan masa depan yang diperlukan, dimana ia harus memiliki visi yang futuristik sehingga mampu membuat perencanaan strategis sesuai dengan kebutuhan zaman. Pemerataan akses pendidikan dan kesehatan juga harus terus ditingkatkan agar makna pembangunan yang berkeadilan bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia secara merata di seluruh tanah air. Namun juga tentu jangan lupa bahwa seluruh dimensi kecerdasan, keterampilan dan keuletan dengan segala inovasi karyanya harus tetap berlandaskan pada nafas religiusitas sesuai dengan Pancasila sila pertama. Keimanan untuk menjalankan syariat agama harus di bumikan dalam perilaku empirik guna melahirkan manusia-manusia yang bertaqwa.

“Bangsa Indonesia itu sesungguhnya bangsa yang cerdas dan kreatif, hanya saja kadang masih ada yang memiliki mental dan mindset yang keliru dalam menempatkan nilai diri. Oleh karena itu, program motivasi untuk pelajar dan santri menjadi sangat penting agar mereka memiliki mental dan mindset yang maju. Itulah sebabnya Prawita GENPPARI selalu tampil dengan berbagai terobosan dan ide-ide kreatifnya untuk membangun masyarakat dan memajukan bangsa sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT dan sekaligus simbol kecintaan pada bangsa dan negara. Dan jangan lupa untuk selalu hormat dan mendo’akan para orang tua dan guru agar mendapat ridho-Nya,” pungkas Dede mengakhiri keterangannya.

Baca Juga:  Kisah Iis Dahlia Sebelum Ke Dangdut, Awalnya Penyanyi Pop

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.