Dua Ilmuwan Pasangan Suami Istri Dibalik Vaksin Covid-19

0
277

RADAR-X.NET – Dua ilmuwan pasangan suami istri bernama DR. Ugur Sahin (55) dan Ozlem Tureci (53), ilmuwan Jerman-Turki yang berada di balik pengembangan vaksin Covid-19 yang disebut dengan BNT162.

Pasalnya, sebelum bergulat dengan pengembangan vaksin COVID-19, keduany sudah tercatat memiliki rekam jejak medis yang luar biasa.

Mengutip akurot.co, baik Sahin dan Tureci, keduanya telah mengabdikan hidup mereka pada bidang onkologi dan penyakit menular. Keduanya juga telah menghabiskan bertahun-tahun merintis perawatan imunoterapi yang dipersonalisasi untuk kanker.

Pada 2001, kedua dokter terlatih itu sempat mendirikan perusahaan bernama Ganymed Pharmaceuticals. Di perusahaan inilah, keduanya aktif mengembangkan antibodi pelawan kanker. Mereka pun sukses menjajakan produk hingga pada tahun 2016, penjualan mencapai hingga USD1,4 miliar (Rp19,7 triliun).

Perusahaan BioNTech yang didirikan oleh DR. Ugur Sahin dan Tureci.

Di tengah-tengah kesuksesannya dengan Ganymed Pharmaceuticals, Sahin dan Tureci mulai mendirikan perusahaan BioNTech pada tahun 2008.

Menjadi pemimpin perusahaan farmasi ternama, Sahin dan Chief akhirnya ikut terdaftar di antara 100 orang terkaya di Jerman.

Diketahui, pada Selasa (10/11) lalu, nilai pasar perusahaan mereka melonjak menjadi USD 25,72 miliar (Rp363 triliun). Angka itu merupakan lompatan besar dibanding USD 4,6 miliar (Rp64 triliun) pada tahun lalu.

Di tengah kekayaannya yang melimpah, mereka rupanya dikenal sangat ‘membumi’. Terlebih, etos amal keduanya dalam akademisi dan sains dinilai tinggi.

Pada bulan Januari lalu misalnya, setelah membaca makalah ilmiah tentang virus corona di Wuhan, Sahin bergegas mengambil ‘langkah kecil’ dari obat mRNA antikanker menjadi vaksin virus berbasis mRNA. Kemudian pada Mei, bersama dengan istrinya, Tureci, Sahin mengutarakan keinginan untuk ‘menyumbangkan sesuatu pada masyarakat’.

Selain itu, Sahin juga digambarkan sebagai orang yang sederhana dan rendah hati oleh rekan-rekannya. Pendapat ini ikut diutarakan oleh Matthias Theobald, profesor onkologi dari Universitas Mainz.

“Terlepas dari pencapaiannya, dia tidak pernah berubah dari menjadi sangat rendah hati dan menarik,” kata Matthias Kromayer yang juga seorang anggota dewan perusahaan modal ventura MIG AG yang secara finansial mendukung BioNTech.

Sementara dari riwayat hidupnya, Sahin diketahui lahir di Iskenderun, sebuah kota di pantai Mediterania Turki. Saat usianya 4 tahun, ayahnya harus pindah kerja ke pabrik Ford dan ia akhirnya ikut hijrah ke Cologne, Jerman.

Saat tengah memulai karier akademis, Sahin bertemu Tureci, putri seorang dokter Turki. Sama seperti Sahin, Tureci sendiri juga dikenal sebagai sosok yang sangat berhasrat dalam penelitian kanker.

Kini, setelah sukses mengembangkan BNT162b2, Sahin dan Tureci berharap bisa meneruskan kerja samanya dengan Pfizer hingga memproduksi 1,3 miliar dosis pada akhir tahun 2021.

Meski begitu, Sahin menegaskan bahwa vaksin BioNTech/Pfizernya ‘tidak akan menjadi satu-satunya vaksin yang mampu melawan COVID-19’.

“Saya pikir pesan yang baik bagi umat manusia adalah bahwa kita sekarang memahami bahwa infeksi COVID-19 memang dapat dicegah dengan vaksin,” katanya. (Mrn/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.