Warga Desa Desa Sogiyan Sampang, Menggelar Tingkeban Dengan Tradisi Dua Adat

0
69

SAMPANG, radar-x.net – Indonesia merupakan Negara yang memberikan kebebasan pada warganya dalam memeluk agama kepercayaan dan beraneka ragam budaya serta tradisi.

Hal tersebut menyebabkan pertukaran budaya dan adat istiadat maupun penyesuaian adat yang biasanya di selipkan dengan hal-hal yang berbau keagamaan, seperti halnya upacara peringatan 7 bulanan saat seorang ibu hamil mencapai usia 7 bulan kehamilannya.

Acara peringatan kehamilan biasanya dilakukan pada saat usia kehamilan menginjak 4 dan 7 bulan hal ini dikarenakan di usia tersebut bayi mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam kandungan.

Berdasarkan Pantauan awak media radar-x dilapangan, salah satu warga desa Sogiyan Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura – Jawa Timur, telah melaksanakan acara tujuh bulanan yang digelar rumah calon ibu. Rabu, 02/09/2020.

Acara tujuh bulanan Siti Mutmainnah Bin Mahsus terlihat sangat istimewa karena dalam kegiatan tetsebut memadukan adat istiadat dari kedua kelurga (Adat Madura – Adat Jawa).

Pertama keluarga calon ibu menggelar Khotmil Qur’an dengan dilanjutkan selamatan dan Do’a Bersama dengan tujuan memohon keselamatan untuk calon ibu dan anaknya.

Pada malam harinya, upacara adat jawa dilaksanakan dengan beberapa istilah yaitu Acara mitoni atau tingkeban, merupakan prosesi adat Jawa yang ditujukan pada ibu yang kandungannya mencapai usia tujuh bulan kehamilan.

Mitoni, tingkeban, atau Tujuh bulanan merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh. Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, dimana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada ibu yang sedang mengandung. Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti.

Acara mitoni terdapat beberapa ritual yang perlu dilakukan. Setiap prosesi mitoni ini memiliki filosofi dan makna tersendiri.

*Siraman*

Acara ini dilakukan untuk menyucikan secara lahir dan batin sang ibu dan calon bayi. Siraman dilakukan oleh tujuh orang bapak dan ibu yang diteladani dari calon ibu dan calon ayah. Dengan gayung batok kelapa, ibu dan bapak terpilih tersebut menyiram calon ibu dimulai dari saudara tertua di keluarga.

*Acara Brojolan*

Sang ayah akan meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakaikan sang ibu. Cengkir atau kelapa muda yang dipakai sebelumnya telah ditulisi Lafadz Asmaul Husna serta dilukis Dewi Kamaratih melambangkan bayi wanita jelita dan Dewa Kamajaya melambangkan bayi pria rupawan

Kemudian Acara dilanjutkan dengan prosesi membelah cengkir, sebagai simbol untuk membukakan jalan si calon bayi agar lahir pada jalannya.

*Pembagian Takir Pontang*

Takir pontang adalah tempat makanan yang akan disajikan, yang terbuat dari daun pohon pisang dan janur dan dibentuk menyerupai kapal yang mempunyai maksud bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan harus menata diri dengan menata pikiriran karena laju perjalanan bahtera selalu pontang panting mengikuti gelombang kehidupan.

Hidangan yang sudah di letakan pada takir pontang pun diberikan sebagai suguhan dan ucapan terima kasih dibagikan kepada para sesepuh yang menghadiri upacara. (MK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.