Dendam di Balik Kebebasan Bersuara

0
11

Dendam di Balik Kebebasan Bersuara
Oleh : Budi Hartono

Pada detik ini tidak dapat di pungkiri lagi bahwa kita sudah masuk pada zaman peradaban liberalisme dimana yang namanya kebebasan sudah mendarah daging di lingkungan masyarakat, entah itu dalam arti kebebasan sosialnya bahkan kebebasan berperndapat di muka umum sudah bukan menjadi fenomena langka lagi untuk saat ini.

Mulai dari kalangan muda hingga kalangan tua sudah tidak ada lagi keketiran mereka mengkritisi birokrasi birokrasi yang dianggap telah merampas hak keadilannya.

Bagi seorang mahasiswa selain di tuntut untuk menjadi insan akademisi, ada tuntutan lain yang sedang di embannya yaitu sebagai penyambung lidah dari para insan yang tertindas keadilannya, bagi seorang mahasiswa yang kritis terhadap problem dan polemik yang terjadi tidak segan segan melayangkan kritikannya terhadap para tangan Dewa (DOSEN).

Berbagai cara yang dilakukannya ada dengan cara halus yaitu dengan mengkritisi lewat tulisan tulisan mereka, ada yang dengan cara Tabayyun duduk bareng untuk memecahkan permasalahan dan mencari solusinya, Bahkan ada Cara yang lebih keras lagi yaitu dengan mengangkat bendera, berkalungkan megaphone dan melantangkan suaranya hanya demi aspirasinya di dengarkan oleh Sang tangan Dewa.

“Sesungguhnya aksi turun jalan merupakan jalan terakhir yang mau tidak mau harus di tempuh mahasiswa demi aspirasinya di dengarkan dan di penuhi, hakikatnya kami tidak suka jalan terakhir ini namun apa boleh buat inilah jalan satu satunya yang harus di tempuh ketika niat baik kami menyampaikan secara halus tidak di gubris lagi,” Ungkap Abbas seorang mantan Mahasiswa di suatu perguruan Tinggi.

Ada 2 (Dua) Jenis respon dari sang tangan Dewa ketika dirinya mendapatkan kritikan, pertama beliau Senang ketika mahasiswanya berani turun jalan dan menyuarakan kebenaran demi kemaslahatan publik tapi ada juga respon yang kedua, yaitu sang tangan Dewa merasa sakit Hati ketika di kritisi dan melanjutkan sakit hatinya ketika sudah berada di bangku kelas perkuliahan imbasnya yang menjadi sasaran utama adalah nilai akademisinya.

Jika demikan yang terjadi maka saya katakan perlu dan wajib bagi rektorat dan dekanat melakukan pelatihan Mental terhadap para tangan Dewa, Jangan hanya adakan pelatihan dan seminar yang hanya khusus bagi mahasiswa saja, mereka sudah jagonya kalau di akademisi maka sekali kali lah adakan pelatihan dan seminar yang di wajibkan kepada seluruh tenaga pengajar lebih lebih adakan pelatihan mental bagi beliau-beliau agar mentalitasnya dapat kokoh, kuat dan tidak menjadi Pribadi Dosen yang *ANTI KRITIK*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.