Mahasiswa Bukan Ajang Percobaan Intelektual

5
230

Mahasiswa Bukan Ajang Percobaan Intelektual

Oleh : Budi Hartono

Radar-x.net – Jeritan bawah tanah saat dunia akademisi terkoyak berlumuran dusta, tak kala sinar binar terang terpancar di wajahmu, derap sepatu berbalut kemeja rapi yang bersembunyi dibalik ilmu pengetahuan bermodalkan bahasa ilmiah yang absurd. Kini saatnya kau melancarkan serangannya hanya demi sorga wanita saja.

Kini MAHASISWA adalah korban peradaban filsafat yunani, kepentingan pribadi berkamulfase menjadi kepentingan kelompok yang terbingkai dalam kekeluargaan dengan nilai mata kuliah yang selesai di angkringan kopi saja, nilai bagus bisa didapat dengan sedikit paksaan yang lembut hanya dengan membeli buku karangannya.
Mahasiswi-mahasiswi yang bersembunyi dibalik kerudung panjangnya berspekulasi menjadi ibu-ibu diusia dini. Kalau hanya akademisi terkangkang oleh kekeluargaan, mengapa kau tak membuka perkuliahan di rumahmu saja.

SADARLAH….!!!! kau tak lebih dari wanita-wanita yang hanya jadi kelinci percobaan senior seniormu, kini saatnya predator-predator mahasiswi melancarkan serangannya dengan senjata maha dahsyat, mereka para predator pemuas nafsu yang terbuai dalam lembutnya tutur kata seakan-akan lemah tak berdaya dihadapan seorang wanita belaka, lalu title akademisi mereka yang didapatkan hingga ke luar negeri itu lari kemana?.

Kini dunia akademisi sudah dipenuhi oleh manusia manusia yang penuh angkara, gedung akademik menjadi markas persembunyian dari para pemburu mahasiswa, tujuan yang mulia menjadi bahan untuk menaikkan figur, untuk mengejar jabatan tanpa sadar mereka telah diperalat oleh para pemburu mahasiswa, dengan kepandaiannya memainkan retorika membuat mereka tak sadar bahwa dirinya telah diperalat.

Seorang karyawan bahkan seorang satpam pun seakan akan dirinya adalah orang yang sangat penting di tempat itu yang harus disalami oleh mahasiswa yang masuk ke tempat itu. Padahal, asal mereka ketahui mereka tidak lebih hanyalah seorang penjaga pintu, seorang pesuruh saja, yang sampai berani menyaringkan suara dari mulut baunya itu di hadapan mahasiswa, asal mereka ketahui yang mereka makan, yang mereka buat untuk menafkahi anak istrinya dari mana? Dari uang kuliah mahasiswa.

Dengarlah wahai para babu dari penyebar angkara murka buka telinga kalian masing-masing dengarkan kata-kata kami..!!
Apakah kurang besar kaca didepan pintu gedung itu?.
Tidak kah kalian berkaca siapa diri kalian yang hanya hanya berani menegakkan badan kalian di hadapan mahasiswa tapi kalian ciut dihadapan para penyebar najis.

Kami ini Mahasiswa, kami juga sama seperti mereka, kami juga membayar uang kuliah. Tapi, mengapa kami di anak tirikan, kami juga ingin mendapatkan pelayanan yang layak dari kalian, tapi mengapa kami di persulit? Ini namanya diskriminasi terhadap kami para mahasiswa awam, jangan salahkan kami jika kami berontak, kami sudah muak dengan permainan kalian yang pada endingnya hanya mengejar public figure dan jabatan semata.

Jika kalian wahai orang orang yang duduk di gedung akademik mengatakan bahwasanya mahasiswa tugasnya hanya kuliah, mahasiswa hanya tugasnya penelitian, mahasiswa tidak boleh turun kejalan, mahasiswa tidak boleh menentang kebijakan kampus, pada saat ini dengan tegas, dengan lantang kami katakan bahwa kalian itu SALAH, kalian itu EGOIS.

Permainannya sangat bagus sekali sampai sampai anak SD pun ikut tertawa melihat permainannya, kami kuliah di tempat ini bukan untuk menjadi kelinci percobaanmu, kami hadir disini untuk merubah peradaban bukan malah sebaliknya peradaban yang kau rancang dengan segudang dusta didalamnya untuk mengubah kami.

Kami tak heran dengan kepandaianmu memainkan retorika yang setiap hari bahkan setiap kali bertemu yang dibacarakan selalu saja ibadah dan ibadah, kami tahu bahwa ibadahmu hanyalah tameng untuk melindungi kebusukanmu agar tidak tercium bau busuknya.

5 KOMENTAR

  1. Tulisan yang sangat munafik dan sampah. Retorika keilmuan yang kau hambur-hamburkan dan kau tulis ini mengandung banyak keegoisan pada diri penulis. Dan, juga munafik bila anak SD ikut ketawa, bohong besar.
    Yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, apakah Anda sebagai penulis rajin kuliah, pateng diskusi, atau hanya nitip absen dan jarang kuliah? Dan, bukankah Anda termasuk orang yang merayu nilai agar bagus kepada para senior² nya?

    • Anak SD itu kemungkinan besar sebagai kiyasan saja dari penulis…

      Dan artikel itu, saya rasa membangun karakter dan itu merupakan Aspirasi bagi yang merasa dan tidak membohongi dirinya…

      Artikel itu sangat membangun dan sangat memotivasi…

      Kenapa begitu,,,,???
      Karena isi dari tulisan itu ada motivasi, bagaimana seorang Dosen itu memberi ruang kebebasan berfikir kepada Mahasiswanya…

      • sangat terinspirasi akan tulisan ini ;), alhamdulillah. setiap orang berbeda cara memandangnya. jadi perbedaan pandangan ini adalah rohmat, karna dalam konsep ilmu komunikasi memang komunikan tidak pernah salah. terimakasih penulis, kacamata yang digunakan setiap orang memang berbeda. 🙂

  2. Pasal 3
    Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

    Penafsiran
    a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
    b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
    c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
    d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

    Pasal 4
    Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

    Penafsiran
    a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
    b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
    c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
    d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
    e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

    Pasal 8
    Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

    Pasal 10
    Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

    Penafsiran
    d. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
    e. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.