Senior Dan Racun

0
27

* SENIOR DAN RACUN *

Era milenial yang pada saat ini telah banyak mempengaruhi dunia akademisi dan dunia pengembangan mahasiswa sehingga nilai-nilai yang dulunya menjadi simbol dan kultur yang mendarah daging kini musnah dengan berjalannya era yang sakit ini baik mahasiswa abal-abal, kader kaderannya bahkan profesor doktor seniornya menjadi tidak karuan arahnya, sehingga banyak dari mereka yang menjadi kelinci percobaan. Lantas mereka hanya diam saja lalu bersabda dengan jumanyanya _” sendiko dawuh senior “_

Terlalu banyak rekomendasi yang di tawarkan sehingga mereka kebingungan untuk menerapkannya, dengan bermodalkan teori yang mereka kutip dari buku bacaanya yang tak lain hanyalah fiktif belaka. Mereka membumbui setiap kader mereka dengan pemikiran-pemikiran yang kadang menjurus pada kepentingan mereka sendiri entah kepentingan, perut, figur bahkan jabatan. Alhasil, tak sedikit dari mereka yang kebingungan saat pulang kedunia yang sesungguhnya, mereka tidak tau mau berbuat apa di masyarakat karena mereka hanya di cekoki teori buku saja tanpa bimbingan langdung teori fakta lapangan.

Kader yang militan di bentuknya untuk menjadi senjata menghadapi pentas pergulatan popitik kampus, pendekarannya pun beragam bahkan asmara pun bisa menjadi senjata pamungkas untuk menaklukkan kader-kader mereka. Dengan bangganya kader tersenyum karena telah sangat dekat dengan senior mereka yang mereka fikir akan membimbing mereka ke arah pemikiran yang kritis dan militan tanpa sadar mereka telah di peralat demi kepentingan senior-senior mereka sendiri.

Mengapa tidak!

Jika kader hanya di cetak cakap dan militan di dunia kampus saja, sedangkan mereka tidak selamanya akan hidup kekal di kampus, pasti akan datang masa kadaluarsanya menjadi mahasiswa dan harus kembali ke tanah kelahirannya. Lantas jika mereka pulang ke dunianya masing-masing masih belum jelas mau di gunakan ke arah mana keahliannya, karena teori akademisi sangatlah berbeda dengan teori masyarakat.

Apakah sistem yang seperti ini dikatakan selesai atau berhasil?

Oh tidak…!, Sistem semacam ini tidak akan selesai jika hanya diskusi kecil di angkringan kopi saja. Lantas bagaimana nasip para kader ketika nanti pulang kedunianya mading masing?. Mereka tidak mau tau mau di arahkan kemana kader mereka saat tiba di masyarakat, yang penting mereka telah mengakui bahwa itu adalah kader-kadernya. Lalu apa bedanya antara pengkaderan dengan pembodohan?.

Kepentingan kelompok dan pribadi banyak terselip di dalamnya hanya saja mereka poles sedemikian rupa supaya kelihatan solid lah, tak heran jika banyak kubu kubu di dalamnya karena mereka sama memiliki kepentingan pribadi dan kelompok mereka sendiri, lalu siapa yang menjadi korban?. Kader masih kebingungan mau melangkah kemana di kehidupan masyarakat karena mereka masih menanta kembali dari nol, lalu apa bedanya mereka dengan lulusan SMA?.

Pertanyaan-pertanyaan besar itulah yang saat ini masih menjadi problem serius, tak sedikit dari senior-senior mereka tang beretorika akan hal itu untuk melindungi dirinya dari dosa pembodohan itu.

Mereka dengan senang hati menunda kelulusan mereka hingga menjadi kakek nenek kampus hanya demi memenuhi keinginan senior-senior mereka dengan dalih pengabdian, jika mereka anggap pengabdian hanya bisa dilakukan ketika masih menyandang gelar mahasiswa saja, mengapa tidak membuka perkuliahan di rumah-rumah mereka saja yang tak perlu membayar uang kuliah. Para orang tua bersusah payah banting tulang hingga keluar keringat merah hanya ingin menambah sebutan kecil di belakang namamu saja, lantas kalian menafikkan keinginan mulia mereka hanya dengan alasan pengabdian saja.

Ah….! saya rasa kalian masih terlalu polos dan egois untuk hal itu..!!!

Oleh : Budy

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.