Abung WS Pencipta Lagu Terkenal Menjadi Anak Jalanan Ibukota

0
98

BANYUWANGI, radar-x.net -Purwoharjo salah satu kecamatan di kota Banyuwangi yang terkenal dengan karifan budaya lokalnya dan juga akan keramah tamahan warganya.

Hari ini team radar-x Entertain akan singgah di kediaman orang dibalik kesuksesan artis-artis ibukota, tepatnya di Krajan RT 02 RW 04 Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi ke rumah Kang Seger Erwandoko atau nama topnya di ibukota Abung WS (Anak Bungsu Wong Srono, jawa-red). Team pun disambut ramah oleh Ida Mustamida, wanita asli Jakarta istri kang Seger.

Kang Seger atau Abung WS Kelahiran asli Banyuwangi 21 Juni 1968, mempunyai Enam anak Pandu, diantaranya; Rahmana Putra, Abiem Pengestu, Gilang Wahyu Sebriyan, Akroma Rafi Fadillah, Rehan Noval Agustian dan Bilkies Aura Hisanah.

Seger, akrab sapaannya, menceritakan perjalanan hidupnya. “Waktu itu hijrah ke Jakarta tahun 1988 tanpa berbekal sepeser uang hanya gitar dipundak mas, dari Banyuwangi jalan kaki sambil ngamen, dari rumah kerumah buat ongkos bus dan makan selama empat bulan hingga tiba di ibukota,” kenangnya.

Tiba di Jakarta, lanjut Seger, seperti mimpi, sendirian tanpa kawan di pasar senen Jakarta Pusat bertemu empat orang pengamen yang ternyata juga berasal dari Jawa Timur.
“Hingga dari situ mulai ngamen-ngamen di bus-bus hingga banyak kenalan teman ngamen di ibukota dari pasar Senen, Pulo Gadung, Slipi, Blok M, Grogol, Tanggerang dan sebagainya,” jelas Seger.

Seger mengungkapkan, tanpa terasa setengah tahun menjadi anak jalanan di ibukota hingga suatu waktu dirinya terpikir ingin merubah hidup. Mulai sewa rumah yang awalnya tidur di emperan toko tidur di WC. Sambil terus ngamen dan ke studio-studio rekaman hingga di kawasan Glodok.

“Dengan berjalannya waktu kami semua mengikuti festival penyanyi jalanan tingkat Nasional yang di adakan di Bandung, di selenggarakan oleh Alm Edy Sud suami Itje Trisnawati presenter Aneka Ria Safari TVRI. Kamipun menyabet juara satu dengan juri waktu iti Edy Sud, Arie Wibowo, Pompy, Kuntet Mangkulangit hingga kami tanda tangan kontrak rekaman di studio Edy Sud sampai keluar album KAZ (Kelompok Anak Zaman) berjudul Bohong dan Sidang Akherat dimotori label MSC Record. Lalu bergantilah nama saya dari Seger Erwandoko menjadi Abung WS kami sekantor Yus Yunus, Jhony Iskandar, Imam S Arifin, Latief Khan, Doyok Srimulat, Ikke Nurjanah, Evie Tamala, Yusnia, Mega Mustika, Erie Suzan, Milla Rosa, Jihan Amir, Muklas Ade Putra, Didi Kempot, Mara Karma, Wiwin Ngesti, Azis Thalib, Edy Nuansa, B.Makayock, Imam Joens, Iwan Andanya dan lain-lain,” ungkap Seger.

Hingga dunia jalanan dan ngamen ia tinggalkan, Label MSC 80% adalah pruduksi musik dangdut mau tidak mau Seger belajar membuat lagu dangdut hingga terciptalah lagu BUNGKUS SAJA yang di nyanyikan Didi Kempot bareng Viara R tahun 1993 produksi Musica, lalu almarhum Arie Wibowo si Madu dan Racun menyuruh saya menciptakan lagu buat OM PMR berjudul Cinta Kok Ditumpuk-tumpuk (1994) Doyok Srimulat Tang Ting Tong (1995) Cinta dan Dilema Ikke Nurjanah, hingga tahun 2006.

” Saya putuskan balik kampung ke Banyuwangi karena di ibukota era dangdut mulai tergeser oleh genre pop. Tepat 2007, kami sekeluarga menetap di Banyuwangi dari nol mas, menjadi Penjual Soto Lamongan dan bangkrut hingga yang dulu di kenal nama Abung WS kembali kehabitat bernama kang Seger lagi dan menciptakan lagu-lagu buat artis Banyuwangi seperti Wandra berjudul Endang Sulastri, Keduten, Cinta Kita Wandra dan Suliana, Ora Kere dibawakan Arif Citenx dan lain lain,” tambahnya.

“Itu perjalanan hidup Abung WS, Terima kasih media Nasional radar-x yang bisa tau tentang sejarah hidup saya,” tutup Kang Seger. (Bagus Wirawiri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.