Akibatkan Karyawan Meninggal, LSM Laporkan Mall Jember ke Mapolres

0
455

Akibatkan Karyawan Meninggal, LSM Laporkan Mall Jember ke Mapolres
Agus MM Plt Ketua Serikat Pekerja Produktiva (Foto: Al)

 JEMBER, radar-x.net – Dewan Pengurus Cabang Serikat Pekerja Produktiva Jember melalui plt. Agus Muhammad Mashudi, Selasa (14/2/2017) melalui surat dengan nomor 50/A.1/DPC/8/2017 melaporkan Mall Roxy Square Jember ke Mapolres, karena dianggap lalai dalam memberikan keselamatan kerja kepada karyawannya yang meninggal dunia atas nama Devi Andriani (18) warga Jl. Slamet Riyadi Patrang Jember pada Sabtu tanggal 12 Februari 2017 lalu.

Menurut Agus, pihak Management Mall Roxy tidak cukup hanya membayar biaya perawatan korban sampai biaya pemakaman saja, akan tetapi harus memenuhi kewajiban sesuai UU no 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja, apalagi Alm. Devi Andriani tidak didaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan.

“Pihak Roxy harus memenuhi kewajiban dan hak pekerja, jangan karena sudah membayar biaya perawatan sampai pemakaman, lalu lepas tangan, hak karyawan ini sudah diatur oleh undang-undang,” tegas Agus.

Agus menilai selama ini pihak management Mall Roxy tidak serius dalam memenuhi kewajiban karyawannya seperti mengikutsertakan ke BPJS Ketenagakerjaan, dari banyaknya karyawan, hanya sekitar ratusan saja yang didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan, seperti halnya musibah yang dialami oleh Alm. Devi Andriani

“Almarhum mengalami kecelakaan kerja pada Jumat tanggal 3 februari, sedangkan ia didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 6 atau tiga hari setelah kejadian, ini tidak dibenarkan, dan hanya akal-akalan dari pihak Roxy saja,” sesal Agus.

Karena kelalaian pihak Management Roxy itulah, Agus melaporkan kasus ini ke Mapolres Jember dengan dasar pertimbangan hukum dugaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. “Kalau kejadian seperti yang menimpa korban Devi dibiarkan, maka nasib karyawan lainnya akan tidak jelas,” ujarnya.

Sementara pihak Management Roxy Square melalui kuasa hukumnya Bondan Hariono, SH. MH mengatakan bahwa pihak Roxy sudah memberikan tanggung jawabnya dengan membayar biaya perawatan korban selama di Rumah Sakit sebesar 32 juta dan ditambah biaya tahlil sebesar 10 juta sehingga total dana yang dikeluarkan untuk korban sebesar 42 juta.

“Kami sudah bertanggung jawab dengan membayar biaya perawatan korban total sebesar 42 juta, dan korban sudah didaftarkan di BPJS, untuk hak-hak lainnya kami masih menunggu hitung-hitungan dengan BPJS, tapi yang jelas pihak keluarga sudah menerima dan menyatakan damai,” ujar pengacara bertubuh tambun saat di klarifikasi wartawan. (*)

Karyawan Roxy Yang Meninggal Baru 2 Bulan Bekerja

Ayah Dan Ibu Korban

Devi Andriani warga Jl. Slamet Riyadi, karyawati Mall Roxy Square yang meninggal pada Sabtu (12/2/2017) baru dua bulan kerja, tapi ia meregang nyawa setelah jatuh dari ketinggian 3 meter yang ada di gudang penyimpanan barang.

Putri pertama dari Busadi dan Sutriani ini adalah Sulung dari 4 bersaudara, menurut Busadi ia sebelumnya bekerja di Indomarco selama 8 bulan setelah lulus dari SMK Negeri 1 Jember, saat bekerja di Indomarco ia mengeluh ke orang tuanya untuk berhenti, karena sering mengganti barang yang hilang.

“Sebelum kerja di Roxy, anak saya bekerja di Indomarco, tpai hanya 8 bulan, setelah itu melamar kerja di Roxy dan belum sampai dua bulan terkena musibah ini, anak saya baru menerima honor sekali ketika kerja di Roxy,” ujar Busadi.

Saat kejadian yang menimpa anaknya pada Jumat sore sekitar pukul 17.00, Busadi tidak tahu, ia baru dikabari temannya pada pukul 20.00 WIB, “Saat kejadian saya tidak tahu, pada jam 7 malam saya ditelepon teman saya, disuruh menghubungi anaknya karena ada informasi kalau ada karyawan Roxy yang jatuh dan dibawa ke Rumah Sakit, setelah saya hubungi no hpnya, ternyata benar, yang mengangkat sopir dan mengatkaan kalau anak saya ada di rumah sakit,” kenang Busadi.

Busadi menceritakan Awalnya anaknya dibawa ke RS PTP di Kaliwates, tapi karena tidak sanggup, lalu dirujuk ke RS dr. Soebandi, bahkan korban sempat membaik saat dirawat di RSUD, “Anak saya sudah sadar pada hari Rabu kalau tidak salah, bahkan saat teman-temannya menjenguk sudah bisa melambaikan tangan, tapi pada Jumat sore tiba-tiba merasa sesak dan pada sabtu dini hari sekitar pukul 2 Alloh memanggilnya,” ujar pria yang juga karyawan di Kantor KPKNL Jember ini.

Saat korban meninggal pukul 2 itulah dirinya bingung untuk membawa pulang jenazah anaknya, karena belum membayar Administrasi, akhirnya harus menunggu pagi setelah pihak Roxy melunasi biaya perawatan.

“Saat itu saya sempat menangis dan bingung, karena saya ingin segera membawa pulang jenazah anak saya, bahkan pagi jam 6 saya kembali menghubungi pihak rumah sakit agar bisa secepatnya membawa pulang anak saya untuk di kebumikan, tapi pihak Rumah Sakit menyuruh saya untuk menunggu management Roxy,” tambah Busadi.

Busadi juga tidak tahu kalau kematian putri pertamanya ini menjadi ramai, sebab dirinya sudah mengikhlaskan kepergiannya, “Memang saat tetangga melayat, jenazah anak saya belum tiba, mereka menganggap pihak RS menahannya karena belum membayar biaya Rumah Sakit,” ujar Busadi.

Jenazah Devi Andriani sendiri baru bisa keluar dari Rumah Sakit sekitar pukul 08.00 pagi, dan itu setelah pihak Roxy membayar biaya perawatan. “Ya saya bersyukur dibantu oleh Roxy, bahkan saat saya sempat berpikiran jelek ke pihak Roxy karena berkali-kali saya telepon tidak diangkat, tapi oleh pihak Roxy dikasih tau kalau nomor yang saya hubungi adalah nomor kantor dan baru ada yang jaga pukul 7.30,” tambah Busadi. (*)

Disnakertran : “Kasus Kematian Karyawan Roxy Yang Pertama Kali di Jember”

Mall Roxy Jember (Foto: tim)

Kematian Devi Andriyani karyawati Roxy Square yang meninggal saat kerja adalah kejadian yang pertamakalinya di Jember, hal ini dibenarkan oleh Kabid Hubungan Industrial dan Syarat Kerja (Hubinsaker) Disnakertrans Jember Gaguk Budi Santoso, karena kejadian kecelakaan kerja hingga mengakibatkan korban meninggal dunia yang tidak tercover BPJS Ketenagakerjaan belum pernah ada.

“Tadi pagi saya baru mendapat laporan dari kepala Dinas untuk mengecek informasi ini, seharusnya pihak perusahaan melaporkan saat kejadian baru terjadi, tapi ini dilaporkan, dan kamipun tidak bisa menindak, karena pengawasan perusahaan sekarang sudah diambil alih oleh Propinsi, tugas kami hanya sekedar mendampingi persoalan karyawan dengan perusahaan,” ujar Gaguk kepada wartawan pada Senin (13/2/2017).

Indri Kabag Pemasaran BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jember saat dihubungi media ini membenarkan jika korban belum terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan hal ini setelah di cek di database peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Korban masih belum terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan mas, pihak Perusahaan baru mendaftarkan korban setelah kejadian, dan ini tidak diperbolehkan, malah saya tahunya ada karyawan meninggal saat pihak rumah sakit menghubungi saya, setelah saya cek tidak ada nama Devi Andriani, dan baru setelah itu ada pihak Roxy yang mendaftarkan namanya, ya kami tolak,” ujar Indri.

Indri menjelaskan bahwa karyawan sebuah perusahaan harus tercover BPJS Ketenagakerjaan, baik itu karyawan Magang, Outsorching, maupun karyawan Kontrak, pihak perusahaan harus mendaftarkan, karena karyawan dilindungi UU no. 14 Tahun 1993.

“Resiko keselamatan kerja karyawan itu sama mas, tidak melihat dia masih magang, kontrak atau outsorching, semua mempunyai resiko kerja yang sama dengan karyawan tetap,” ujar Indri.

Sedangkan mengenai kasus yang menimpa Devi Andriani, Indri menjelaskan bahwa hak-hak karyawan tetap harus diberikan sesuai dengan undang-undang.

“Hak-haknya karyawan ya harus diberikan, kalau tercover BPJS maka yang memberikan santunan pihak BPJS, kalau tidak tercover maka yang bertanggung jawab memberikan santunan adalah perusahaan dimana korban bekerja,” jelas Indri.

Menurut Indri, jika karyawan mengalami kecelakaan dalam bekerja apalagi sampai mengakibatkan kematian, maka hak yang harus di berikan adalah 48 X gaji pokok, biaya perawatan sampai pemakaman, dan uang pensiun sebesar 2 juta x 24 bulan.

“Hak dari karyawan yang meninggal akibat kerja adalah 48 X gaji pokok, dan UMK di Jember 1 juta 700 an, itupun tidak termasuk biaya perawatan dan pemakaman, masih harus ditambah tunjangan kematian atau pensiun sebesar 2 juta x 2 tahun, kalau karyawati mempunyai anak,  maka anaknya harus mendapat beasiswa, dan ini yang harus dipenuhi oleh perusahaan kalau karyawan tersebut tidak terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan,” jlentreh Indri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.