Penghulu KUA: Pentingnya Buku Nikah

0
898
Penghulu KUA: Pentingnya Buku Nikah
Ainudin Fahri, S.Hi, Penghulu KUA Kec. Montong Gading (Foto:Zulkarnain)

LOTENG, radar-x.net – Isbath Nikah, dilakukan guna memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan memiliki buku nikah agar adanya pengakuan secara hukum Pemerintah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sesuai pasal 2 ayat 2 yang mengatakan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Hal ini disampaikan oleh Penghulu KUA Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Ainudin Fahri,S.HI, saat ditemui dikediamannya, Kamis, (26/01/2017). “Saya prihatin melihat masyarakat banyak belum memiliki Buku Nikah. Secara syariat Islam, mereka sudah melakukan akad nikah namun belum memiliki Buku Nikah untuk mendapatkan kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang.
Mereka harus mengikuti program isbath nikah sehingga mereka akan mendapatkan Buku Nikah sebagai bukti autentik bahwa pernikahan mereka sudah sah menurut perundang-undangan yang berlaku di negara kita”,kata Ainudin Fahri,menjelaskan.

Ditambahkan Ainudin Fahri, “kita harus melalui sidang isbath nikah agar ibu dan anak tidak selalu dirugikan ketika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dalam rumah tangga. Perempuan sebagai pelaku utama nikah sirih dari hasil perkawinan sirih tersebut untuk mendapatkan legalitas formal. Keterkaitan dengan akta nikah, mereka harus melalui proses sidang isbath nikah sesuai dengan pasal 7 Konspilasi Hukum Islam (KHI), bagi yang belum memiliki akta nikah mereka harus mengajukan isbath nikah melalui KUA setempat”, kata Ainudin.

Baca Juga:  Kapolri Mendapat Gelar Adat "Sutan Rajo Paga Alam" Di Sumatera Barat

Dijelaskannya, “bahwa secara hukum yuridis formal, persidangan isbath nikah bagi pasangan yang belum memiliki Buku Nikah agar adanya kepastian hukum Pemerintah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Memang, kalau kita berbicara masalah hukum Agama, bahwa nikah sirih menurut agama memang sah, namun menurut Undang-undang perkawinan tidak diakui secara formal sehingga menyulitkan bagi pasangan untuk mendapatkan hak berupa harta gono-gini. Ketika ada masalah dalam rumah tangga maupun kepengurusan administrasi lainnya berupa pengambilan akta kelahiran bagi anak,” jelasnya.

Untuk itu, kami juga menghimbau kepada seluruh masyarakat agar dalam melakukan perkawinan harus melalui KUA agar dapat didaftarkan secara formal sehingga adanya pengakuan pemerintah secara hukum menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bagi pasangan. Untuk diketahui bahwa biaya sidang isbath nikah sebesar Rp.431.000,- setiap pasangan itu dihitung dari jauh dekatnya wilayah.” kata Ainudin Fahri,mengakhiri penjelasannya kepada RADAR-X.(Zulkarnain/Ramdhan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.