Bagai Fajar Diufuk Republik Kopi

0
459
Bagai Fajar Diufuk Republik Kopi
Oleh : Moh. Hanafi, SH., Mhum,
Setiap kelompok masyarakat manapun selalu memiliki problem sebagai akibat perbedaan antara yang mempunyai pemikiran ideal dan yang actual, begitu juga yang mempunyai pemikiran faktual antara yang seharusnya atau yang diharapkan untuk dilakukan dalam kenyataan. Sedangkan standar masyarakat memiliki variasi sebagai faktor yang menentukan tingkah laku seseorang. 

Penyimpangan nilai-nilai yang ideal dalam masyarakat, merupakan keadilan moral yang tersandra oleh hukum etika, itu semua bentuk tingkah laku yang dapat menimbulkan persoalan dalam masyarakat. Tentunya semua ini akan mempengarui keserasian dan ketertiban moral sosial di masyarakat itu sendiri. Maka, disinilah fungsi standar sebagai instrumen control sosial.
Dalam hal politik praktis, tentunya harus mengetahui tujuan dengan begitu politik selalu mencari tujuan. Maksudnya, orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin, namun karena ia memiliki sejumlah kwalitas unggulan, maka dia mencapai pada kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan prilaku suatu kelompok atau masyarakat atau kata lain kepemimpinan politik atau informal merupakan kemampuan seseorang pemimpin untuk mempengarui suatu kelompok. Karena, sejumlah kwalitas unggulan bukan karena suatu kedudukan formal atau kekuasaan yang melekat seperti pada setiap pemimpin formal, lebih simple istilah kerennya, Good Governance/Moral dan Etika yang baik tentu akan membentuk sitem menjadi baik.
Dikawasan Pesantren AT-TAUBAH, Timur Alun-alun TERIMPIRASI. “Saat orang berkata buruk tentang pemimpinanya, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu tandanya kehidupan kita lebih indah”, Bagai Fajar diufuk Republik Kopi Bondowoso.

Kehidupan adalah kerja, kerja dan cinta. Itu harus kita jalani dengan sederhana saja. Masyarakat Bondowoso tidak ingin menjadi macan, melainkan menaklukkan macan. Karena masyarakat Bondowoso tidak ingin ditakuti,  melainkan harus jadi Republik kopi yang disegani.

Kita semua pemimpin walau yang terkecil adalah pemimpin rumah tangga. Masyarakat seharusnya dijadikan rakyat sebagai konsumen, dan konsumen itu adalah raja. Saat seseorang tak menemukan celah untuk mencari kesalahan kita, cara yang digunakan adalah fitnah.. fitnah dan fitnah… ” Astafirullah “.

Jika ingin lebih maju,. maka masyarakat Bondowoso juga harus bekerja sama, bukan hanya mengulurkan tangan kepada pihak yang didekatnya.

Pemimpin, dibutuhkan kepemimpinan yang mampu memecah keheningan, menerobos dengan gebrakan, bukan yang monoton dan rutinitas sehingga begitu sangat membosankan. Memang baik jadi orang penting, tapi lebih penting lagi menjadi orang baik, dan yang terpenting lagi,  jadilah orang penting yang baik. Melihat dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita, berbicara dengan suara kita. Bahwa,
“Pemimpin rakyat lahir dari rakyat”.
“Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu”.
“Pemimpin itu harus bisa melihat hal kecil yang perlu diperbaiki”.
Masa kecil kita adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana untuk memahami kehidupan sebagai rakyat kecil. Kehormatan hidup itu ada ketika nama kita melekat di hati orang-orang di sekitarmu, kerjamu bermanfaat untuk mereka dan masyarakat banyak. Kalau pedesaan bermoral Agama, ekonomi membaik, maka secara otomatis perkotaan akan membaik juga.
Jangan takut untuk mendobrak kebiasaan lama dengan cara dan pemikiran yang keluar dari ketentuan. Perubahan tidak akan pernah ada tanpa kemauan, serta keberanian yang juga harus diiringi kebersamaan.

Marilah, moral kebersamaan kita terapkan dalam kehidupan bernegara, supaya terbagunlah semangat pengabdian dalam kepentingan nasional dari pada kepentingan pribadi dan golongan, maupun sentimin kedaerahan. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi sering kali, ketakukan kita-lah yang membuat jadi sulit.

Jadi, janganlah mudah menyerah. Ibadah yang berkualitas itu tampak dari perilakunya, rendah hati dan tidak emosional.

Pemimpin yang besar, tidak akan merubah simpul ritme masyarakat yang butuh pengayoman, perhatian dan prioritas demi menggapai masa depan. Begitu pula rakyat yang bersalah, bukanlah dihukum secara berkelanjutan dan dikebiri hak-haknya, karena mereka masih punya kemauan, masih ada kesempatan untuk berbuat lebih baik.

Kebanyakan dari mereka enggan jadi Macan, melainkan siap menaklukkan Macan. Dedikasi pesantren AT-Taubah (taubatnya orang bersalah), telah membuaka tabir lingkup timur alun-alun RBA Ki Ronggo.

“Kalau kita ingin maju, ya harus be-rubah. Kalau mau berubah tapi diam saja, ya namanya mengkhayal…!!

Penulis: Pengasuh Pesantren(PP) AT-Tawabun, Timur Alun-alun Kota Bondowoso.(Sukri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.